Ngomong ngomong apa penulis boleh menceritakan kisah nya sendiri?
kali ini kita bikin cerita yang aman dulu yah.
Bagian 1.
_____________________________
Di dunia yang terlalu ramai, sunoo memilih diam.
Ia bukan tak mampu bicara, hanya tak ingin suaranya ikut hanyut dalam kebisingan yang tak peduli. Di sekolah, di kafe, di media sosial—semua orang berlomba menampilkan versi terbaik dari diri mereka, seperti potongan film yang terus diedit. Tapi sunoo tahu, hidup yang sebenarnya tidak seindah filter. Maka ia memilih berjalan di luar sorotan, tenang seperti bayangan senja.
Padahal, siapa pun yang benar-benar menatapnya akan tahu: dia cantik. Tapi cantiknya bukan yang bisa kamu temukan di unggahan viral. Itu jenis cantik yang muncul saat ia membaca buku di taman, saat wajahnya diterangi cahaya laptop di malam sunyi, atau saat ia menatap langit tanpa alasan—seperti menyimpan percakapan rahasia dengan semesta.
Sunoo tinggal sendiri di kamar kecil yang dipenuhi buku, sketsa wajah, dan tulisan-tulisan di kertas kusut. Di sanalah ia merasa aman. Kadang ia menulis tentang cinta, meski belum benar-benar tahu rasanya. Ia menulis bukan karena pernah jatuh cinta, tapi karena ingin tahu seperti apa rasanya mencintai dengan utuh tanpa harus kehilangan diri sendiri.
Dunia menyuruhnya berubah, bersaing, tampil. Tapi sunoo punya pendirian yang tak bisa digoyahkan:
“Aku bukan mereka. Dan aku tak perlu jadi mereka untuk bisa bahagia.”
Tapi suatu hari, di perpustakaan kota yang sepi kala itu sunoo bertemu seseorang. Bukan tokoh utama dalam film romantis. Bukan yang datang dengan bunga atau kata-kata manis. Hanya seseorang yang tiba tiba duduk di depan meja nya, dan saat itu sunoo merasa... sunyinya bisa dibagi.
---
Bagian 2.
Orang itu bernama jay.
Dia datang di masa ketika sunoo mulai membuka dirinya sedikit pada dunia. Mereka mulai intens bertemu hanya sekedar untuk saling mengomentari buku yang sama. Jay itu punya senyum yang hangat dan sorot mata yang membuat sunoo merasa... dilihat. Bukan dilihat secara kasat mata, tapi dilihat sampai ke dalam, seperti ada seseorang yang akhirnya bisa membaca sunyinya.
Hubungan mereka berjalan perlahan. Jay berbeda dari orang lain—atau setidaknya, begitulah sunoo pikir. Ia mendengar sunoo, menunggu jawabannya, meski terlihat sedikit tak sabaran namun Di mata sunoo, jay adalah tempat aman yang datang dalam bentuk manusia.
Dan Mereka akhir nya mencoba untuk bersama.
Namun seperti kebanyakan dongeng yang terlalu indah, kenyataan mencungkil luka dari sisi yang tak terduga. Pada suatu malam, saat semua terasa begitu dekat dan penuh kepercayaan, jay meminta sesuatu yang tak bisa sunoo berikan.
“Aku mencintaimu,” katanya, “dan aku ingin lebih dekat. Kita saling percaya, bukan?”
Sunoo terdiam. Matanya menatap jay, lalu ke tangannya sendiri yang gemetar halus. Ia mencintai jay—sungguh. Tapi cinta baginya bukan soal seberapa dekat tubuh bisa bersatu. Cinta adalah bagaimana seseorang menjaga ruang pribadi yang paling sakral, bukan menerobosnya.
“Aku juga mencintaimu,” jawab sunoo perlahan, “tapi aku ingin menjaga diriku sampai waktunya tepat. Sampai aku yakin, bahwa ini bukan hanya tentang keinginan sesaat.”
Karna ia memiliki satu prinsip yang sepele untuk orang orang di zaman sekarang namun itu amat penting bagi sunoo. Yaitu memberikan jiwa dan raga pada orang yang tepat ketika ia benar benar sudah di pertanggung jawabkan dengan utuh yaitu sebuah ikatan pernikahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
RED ROSE (Sunoo Harem)
Cerita PendekKim sunoo sub All member enhypen dom #sungsun #sunjay #yangsun #sunjake #heesun One shoot bxb Bukan untuk homophobic 🔞🔞
