gumiho bab 3

267 21 3
                                        













______________



Kereta itu hampir bergerak.
Kuda-kuda telah bersiap, para pengawal sudah mengambil posisi, dan suara roda kayu mulai berderit pelan di atas tanah yang masih basah oleh hujan semalam.
Segalanya berjalan… sebagaimana mestinya.
Hingga—“Tunggu!”

Suara itu memecah ketenangan pagi.
Langkah kaki terdengar cepat, napas yang tertahan, kain yang terseret angin.
Sunghoon menoleh.
Dan di sana ia melihatnya.
Sunoo.
Berdiri di tengah jalan, sedikit terengah, namun tetap tegak. Matanya menatap lurus ke arah kereta itu, seolah tidak peduli pada para pengawal yang mulai waspada.

“Berhenti,” ucap Sunghoon pelan.
Kereta pun berhenti.
Sunoo melangkah mendekat.
Tidak ragu.
Tidak mundur.
“Aku harus membalas kebaikanmu,” ucapnya tanpa basa-basi.

Nada suaranya tegas, namun ada sesuatu yang lain di dalamnya—sesuatu yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya pahami.
Sunghoon turun dari kereta.
Langkahnya tenang seperti biasa.

“Tidak perlu,” jawabnya sederhana.
“Aku tidak mengharapkan balasan.”

Sunoo menggeleng.
Lebih cepat dari yang ia sadari.
“Itu bukan pilihan.”

Sunghoon sedikit mengernyit.
“Jika kau tidak menginginkanku…”
Sunoo berhenti sejenak, menahan sesuatu dalam dirinya, “…aku bisa bekerja.”
Hening.

“Menjadi pelayanmu.”
Para pengawal saling pandang.
Beberapa dari mereka tampak tidak setuju.
Namun Sunghoon—hanya tersenyum kecil.
“Sebenarnya aku tidak menginginkan balasan.”

Sunoo memotong.
Lebih cepat.
Lebih tajam.
“Aku sendirian.”
Sunyi.
Kalimat itu jatuh begitu saja.
Tanpa hiasan.
Tanpa topeng.
“Aku tidak memiliki siapa pun,” lanjutnya pelan.

“Tidak ada tempat untuk kembali.”
Matanya tidak goyah.
Namun ada sesuatu di dalamnya yang terasa… nyata.
“Bagaimana aku harus hidup setelah ini?”
Sunghoon terdiam.

Ia menatap wanita di hadapannya.
Lebih lama dari sebelumnya.
Bukan sebagai orang asing.
Bukan sebagai seseorang yang perlu ditolong.
Tapi sebagai seseorang…yang benar-benar tidak punya apa-apa.
Beberapa detik berlalu.
“Aku tidak bisa menjanjikan kehidupan yang mudah,” ucapnya akhirnya.
“Namun…”
Ia menarik napas pelan.
“…jika kau mau, kau bisa ikut.”
Sunoo tidak berkedip.

“ Sebagai pelayan,” lanjutnya,
“tetapi kau tidak perlu bersungguh-sungguh tentang itu.”
Sunyi.

Sunoo tidak langsung merespons.
Ia hanya menatapnya.
Dalam.
Lalu—
perlahan—
ia mengangguk.

“Baik.”

Perjalanan menuju istana berlangsung panjang.
Namun bagi Sunoo—
waktu terasa… berbeda.
Ia duduk di dalam kereta.
Diam.
Namun pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.
Ia seharusnya sudah membunuhnya.
Seharusnya semuanya selesai di penginapan itu.

Namun kini ia justru ikut bersamanya.
Masuk ke dunia yang pernah ia benci.
Dan anehnya—ia tidak menolak.
Istana itu berdiri megah seperti yang ia ingat.
Dinding tinggi. Gerbang besar. Pengawal yang berjaga dengan tatapan penuh kewaspadaan.
Tempat yang sama.
Namun terasa berbeda.
Sunoo melangkah masuk.
Perlahan.
Dan untuk sesaat—kenangan itu kembali.
Api.
Jeritan.
Darah.
Ia pernah berada di tempat ini.
Bertahun-tahun lalu.
Membawa kekacauan.
Menjadi mimpi buruk.

Dan saat itu—pangeran ini mungkin bahkan belum lahir ke dunia yang fana ini.
Sekarang—
ia berdiri di sisinya.
Ironis.
“Jangan jauh dariku,” ucap Sunghoon pelan.
Sunoo menoleh.

RED ROSE (Sunoo Harem) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang