One More Spring

54 15 2
                                        

Eunha tidak pernah menyangka bahwa setelah satu tahun berlalu, takdir masih akan mempertemukannya dengan Jeon Jungkook.

Ada begitu banyak hal yang ia pikir akan terjadi selama satu tahun terakhir. Ia pernah membayangkan saat dirinya benar-benar melupakan pria itu. Ia juga sempat berkeyakinan kalau waktu akan bekerja seperti obat, perlahan menghapus setiap kenangan hingga nama Jungkook tidak lagi menggetarkan hatinya.

Namun nyatanya waktu tidak menyembuhkan apapun. Waktu hanya mengajarkan manusia bagaimana hidup sambil membawa luka.

Sore itu, ketika Eunha melihat sosok yang selama setahun terakhir hanya berani ia tatap lewat layar ponsel, seluruh luka yang tak pernah sembuh itu terbuka lagi dalam satu tarikan napas.

Jungkook berdiri tidak jauh darinya. Pria itu masih sama tampannya dalam pandangan Eunha. Wajahnya masih sangat familiar. Tatapan matanya masih tajam seperti dulu. Rambut hitamnya masih tertata sederhana. Yang membedakan adalah tubuhnya yang tampak lebih kurus sehingga membuat garis rahangnya semakin tajam. Ia terlihat lebih dewasa dan lebih dingin.

Tahi lalat kecil di dagunya masih sama. Eunha ingat, dulu ia suka menyentuh tahi lalat itu dengan ujung jarinya dan disusul dengan Jungkook membalas mencubit pipinya. Sangat menggemaskan.

Kenangan itu datang begitu saja, hingga membuat Eunha sejenak lupa kalau mereka sudah bukan lagi berada di masa lalu. Saat ini mereka hanyalah orang asing yang pernah saling mencintai.

Tanpa sadar, sudut bibir Eunha terangkat. Ia tersenyum karena rasa lega setelah melihat Jungkook. Setidaknya rasa rindu yang menusuk dalam hatinya kini terobati.

Namun senyumannya justru dibalas tatapan benci dan dengki oleh pria itu. Tak ada balasan senyum manis. Yang ada hanyalah tatapan dingin yang seolah-olah menelanjangi Eunha. Eunha menelan ludah dengan susah payah. Tangannya merapikan rambut palsu yang ia kenakan dibalik topi kupluk berwarna merah muda. Seolah gerakan kecil itu menambah keberaniannya untuk menyapa Jungkook.

"Apa kabar, Jungkook?"

Pria itu tidak membalas, ia justru menatap sinis Eunha.

Balasan seperti itu jauh lebih menyakitkan untuk Eunha dibanding cacian atau makian Jungkook. Dulu Jungkook tak pernah sekalipun membuat Eunha merasa di abaikan. Eunha hanya bisa meremas ujung mantelnya.

"Sepertinya baik ya," Eunha tersenyum simpul dan memasukkan tangannya ke dalam saku mantelnya.

Jungkook mendesis dan membuang muka, "Kau memang hebat dalam hal menyakiti orang lain."

Eunha membeku. Ia menunduk mendengar ucapan Jungkook, hidungnya terasa panas dan dadanya menjadi sesak.

Ia tahu Jungkook berhak marah padanya. Ia paham betul bagaimana ia mencampakkan Jungkook tahun lalu. Ia ingat dengan jelas bagaimana Jungkook menangis dan memohon kepadanya.

Namun semuanya kebohongan yang ia lakukan karena ia sangat mencintai pria itu, bahkan lebih daripada dirinya sendiri. Penderitaan itu lebih baik dibandingkan penderitaan yang harus Jungkook tanggung saat dirinya benar-benar pergi dari dunia ini.

"Maaf."

Hanya itu kata yang mampu keluar dari bibir cerinya.

Jungkook tertawa pendek kemudian kembali menatapnya, "Sudahlah. Semua sudah berlalu. Lain kali kalau kita bertemu tak perlu saling menyapa."

Setelah berkata seperti itu Jungkook melangkah pergi. Tanpa ada perdebatan. Tak ingin mendengar apapun dari Eunha.

Eunha mengangkat pandangannya dan melihat punggung Jungkook yang berjalan menjauh. Tatapannya langsung berubah menjadi kesedihan. Air mata yang susah payah ia tahan akhirnya tumpah dengan deras. Ia menutup mulutnya dan meremas mantelnya, menahan isakan itu agar tidak terdengar siapapun.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 3 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Their StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang