[40] Terkuak

23 3 0
                                        

-

"Pangilan untuk Melan dari kelas XI IPA 7 agar segera ke ruang kepala sekolah, sekarang! Terima kasih."

Melan bingung mendengar suara speaker yang megema itu. Semua mata di dalam kelas memandangnya. Melan menunduk. Bingung. Kenapa dia dipangil ke ruang kepala sekolah di jam pelejaran seperti ini. Bahkan Ibu Rena yang sedang mengajarpun mengizinkan dia keluar kelas. Jihan dan Gibran bahkan memberikannya tatapan penuh pertanyaan dan khawatir namun Melan sendiripun tak mengerti.

Di sepanjang koridor menuju ruang kepala sekolah Melan masih bingung. Namun, gadis itu tersenyum sekilas.

"Ah gue kan gak buat masalah. Ngapain gue takut? kali aja gue mau dikasih jakpot," kata gadis itu sambil tangannya terulur membuka pintu ruangan kepala sekolah. Melan melangkah masuk.

"Melan sudah datang?" suara kepala sekolahnya terdengar agak ramah. "Sini duduk disini."

Melan mengikuti namun pandangannya tetap pada seorang wanita cantik yang sedang membelakanginya sama sekali tak berniat memandangnya. Melan mendekat dan duduk di sebelah wanita itu yang akhirnya bisa Melan lihat wajahnya dengan jelas. Walaupun sudah berumur namun tak memungkiri dirinya masih sangat cantik, wajahnya dingin tetap memandang lurus kedepan kearah kepala sekolahnya tak melirik Melan sama sekali. Melan merasakan aura intimindasi yang sangat tinggi membuatnya merasa kecil.

"Jauhin anak saya." wanita itu akhirnya bersuara, berbalik ke samping dan memandang Melan. Melan mendongak membalas pandangannya. "Kamu mau berapa?"

"Maksud ibu apa—" kalimat Melan mengantung di udara, karena dia masih tak mengerti. Ditambah wanita didepanya bener-bener memiliki aura intimindasi yang kuat sehingga membuat Melan kicep. Melan mengepalkan tanganya tidak boleh. Dia tidak boleh merasa seperti ini. Mama selalu bilang kalau dia adalah gadis paling berani dan jika dia tidak salah dia tidak boleh takut.

"Aku gak paham, Pak!" seru Melan beralih memandang kepala sekolahnya yang hanya diam.

Kepala sekolahnya tersenyum. "Iya kita ngomongnya baik-baik. Namanya juga anak muda, Bu."

"Saya gak peduli." Wanita itu terkekeh sinis. "Kamu ngerasa pantas buat anak saya? Jauhin Gelan." Wanita itu membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop. Kemudian memberikan kepada kepala sekolah mereka didepan wajah Melan. "Urus agar anak ini gak dekat-dekat lagi sama Gelan, kalau gak saya bakal keluarin Gelan dari sini."

Melan membeku. Semuanya terasa terlalu mendadak. Gadis itu sebisa mungkin menahan airmatanya yang ingin menerobos keluar. Ternyata karena Gelan. Padahal Melan hampir mati mengkhawatirkan lelaki itu yang sudah menghilang hampir sebulan. Dan sekarang ini yang dia dapati? Melan bahkan belum bertemu Gelan lagi.

Tiba-tiba wanita itu memandanganya dan meraih tangannya, Melan yang tak persiapan hanya bisa pasrah ketika wanita itu menaruh amplop di tanganya. "Itu lebih dari cukup."

Melan merasakan dirinya dipermalukan. Dia meramas amplop itu kasar. Kemudian menaruh kembali di tangan wanita itu. "Saya gak butuh," tandasnya dingin. "Ibu gak punya hak atur-atur hidup saya. Jangan karena ibu punya uang, ibu ngerasa bisa beli semua hal. Ada hal didunia ini yang gak bisa di beli dengan uang." Melan mengantungkan kalimatnya. "Yaitu harga diri dan empati."

Wanita itu mendelik mendengar ucapan remaja didepanya. Berani sekali dia berbicara seperti itu. Baru saja dia ingin berbicara lagi sebelum pintu kepala sekolah dibuka kasar. Semua mata mencari pelakunya. Gelan berdiri disana, dengan tatapan tajam dan nafas yang memburu, sepertinya dia berlari kencang untuk sampai disini.

Melan memandangnya dalam. Namun disisi lain dia bersyukur laki-laki itu baik-baik saja dan sehat, ingin rasanya Melan berlari dan memeluknya. Namun, semuanya hanya angan-angan Melan, dengan melihat lelaki itu saja sudah membuat setitik air mata Melan jatuh.

"Mama ngapain!?" tanya Gelan dingin melangkah mendekati mereka. "Aku udah bilang jangan gangguin Melan!"

Wanitu yang dipanggil mama mencoba berdehem. "Ayo pulang," katanya kali ini lembut, memandang Gelan hangat.

Melan merasa seperti mendapat kekuatan lagi ketika sebuah tangan hangat menyentuh tanganya. Gelan meraih tangan Melan dan mengengamnya erat. "Udah aku bilang kan, gak usah ikut campur hidup aku. Aku dan mama beda. Aku udah gak pernah ngerasa jadi anak mama lagi sejak hari itu." Gelan memandang wanita didepannya kosong. Detik berikutnya dia menarik Melan pelan, keduanya keluar dari ruangan dingin itu. Melan masih shock, namun dia tak dapat bersuara. Gelan didepanya juga masih diam. Keduanya berjalan pergi tanpa bersuara namun Melan merasa aman jika Gelan ada bersamanya.

***

Gelan & Melan Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang