-
Pesan Melan tak mendapat balasan Gelan. Bukan cuma itu, namun Gelan juga menghilang. Sudah seminggu, lelaki itu tak masuk sekolah. Melan semakin dibuat khawatir apalagi pertemuan terakhir mereka membuat Melan semakin risau. Melan takut Gelan kenapa-napa.
Sepertinya keluarga lelaki itu tak seharmonis keluarganya. Melan merunduk. Kasian. Mungkin itu penyebab lelaki itu menjadi sangat tertutup.
"Gue kangen Gelan." Melan berujar lirih. Menatap kaca jendela kelasnya. "Sepi banget gak ada dia."
"Sesuka itu lo sama dia?" Gibran mendekat.
Melan menganguk singat.
"Emang kemana tuh kerucut? Dia gapernah ngajarin kita les juga."
Melan memicik. "Kenapa kesannya lo juga kangen sama Gelan?"
Gibran berdesis. "Gak, cuma gue kasian aja dia buat lo kayak gini." Gibran menghela nafasnya. "Gue ternyata orang ketiga."
"Maksud lo?"
"Gue kira gue bakal gantiin posisi Gelan, taunya gak. Gue mau mundur aja, otak gue masih berfungsi." Gibran memandang Melan lagi.
"Good luck! Temui gue di rasa sesal lo,"
Melan ingin mengumpat tapi dia tahan.
***
"Melan!!!" Jihan menghampirinya dengan tergesa-gesa. "Gila emang playboy banget si Gibrannnn...."
Melan yang masih tak mood tetap diam. "Kenapa?" sahutnya akhirnya karena mendapat delikan kesal Jihan.
"Dia lagi dekatin sama anak kelas X!"
"Biarin aja, Ji. Gue juga malas di ganguin tuh orang mulu. Tadi juga katanya dia mau mundur karena gue tetap gak bisa lupain ... Gelan."
Jihan memutar bola matanya, Melan dan Gibran sama saja. "Emang Gelan masih gak ada kabar?"
Melan menganguk lesu.
"Gue takut lo di ghosting." Jihan berujar lagi. "Gue gak pernah paham pola pikir, Gelan. Ya, gue gak pernah ngobrol sama dia juga sih. Tapi, semoga aja sahabat gue gak disakitin kedua kali."
Melan diam-diam mengaminkan hal itu.
***
Gelan masih tak muncul di sekolah. Ini minggu kedua tanpa kehadiran lelaki itu. Banyak gosip mulai terendus karena lelaki itu tak pernah seperti ini. Banyak yang bilang lelaki itu pindah keluar negeri, ada yang bilang dia sakit, sampai ada yang bilang jangan-jangan Gelan sudah menikah diam-diam.
Dan yang paling risau adalah Melan, sehingga sepulang sekolah, Melan mengajak Jihan pergi kerumah Gelan.
"Ini bener rumahnya, Mel?" Jihan berseru kagum melihat rumah mewah didepan mereka. "Gila beneran orang have."
Melan memandang rumah mewah yang nampaknya tak ada kehidupan itu. Gadis itu mendekati gerbang dan melihat satpam yang berjaga di post satpam dalam yang biasanya membukakan gerbang untuknya dan Gelan ketika datang.
"Bapak!" panggil Melan. Satpam itu terkejut, mendekati gerbang dan membukakan untuk Melan.
"Eh, Non Melan." Melan tersenyum mendengar bahwa satpam tersebut masih mengingatnya. "Gelan ada, Pak?" tanya Melan akhirnya.
"Aduh itu, Non. Gelan gak dirumah, lagi pergi sama Tuan dan Nyonya. Belum pulang-pulang. Sudah mau 2 minggu."
Melan yang mendengar itu terkejut. "Sama nyokap bokapnya ya pak? kemana pak?"
"Iya Non, kalau itu saya gak tau, Non."
Melan menganguk. "Kalau Gelan udah pulang bilang aku cariin ya, Pak. Makasih!"
Jihan yang dari tadi mengamati hanya diam melihat itu. Dia bisa melihat kesedihan dan kekhwatiran di wajah sahabatnya itu.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Gelan & Melan
Romance'Dua magnet beda sisi yang saling tarik-menarik.' Melan itu gadis centil dengan sifat meledak-ledak seperti petasan. Sedangkan, Gelan itu lelaki kaku dengan wajah dingin bak kutub es. Melan suka mengganggu Gelan, menurutnya tak ada yang lebih seru k...
