[41] Gelan dan Melan (END)

41 5 1
                                        

-

"Lo udah baikan?"

Melan tersentak dalam lamunanya. Sekarang keduanya sedang berada di dalam mobil Gelan yang kemudian melesat meningalkan pelataran sekolah.

"Kita bolos?" tanya Melan begitu saja.

Gelan tertawa kecil. "Sekali ini aja."

Melan kembali diam, bingung ingin merespon apa. Semuanya terlalu mendadak. Otaknya masih butuh waktu untuk semuanya.

Gelan membawa Melan ke sebuah pantai. Begitu cantik. Senyuman Melan otomatis terukir begitu saja dan melupakan kejadian yang baru terjadi.

Gelan kembali meraih tangan Melan dan mengengamnya. Dan Melan membiarkan hal itu.

Sesaat kemudian Gelan membuka jeket hitamnya dan memakaikan ke pundak Melan, karena tersadar gadis itu hanya memakai seragam putih abu-abu saja meningalkan kaos hitam polos yang tersisa di tubuhnya. Melan terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu.

"Sorry gue datang terlambat. Sorry buat perlakuan nyokap gue, dan sorry udah buat hidup lo tambah buruk karena ketemu cowok kayak gue."

Melan tak suka mendengar kalimat Gelan. Gadis itu menendang pasir putih di kakinya. "Lo tahu, Gel?" Pandangan Melan lari tepat ke mata hitam Gelan, mengunci pandangan mereka. "Bahkan ... hanya dengan lo, masalah apapun justru terasa seperti kebahagian. Hanya dengan lo."

Gelan menyentuh puncak kepala Melan dan mengusapnya. "Gue gak mau lo terluka."

Melan terdiam. "Gue butuh penjelasan." Gadis itu memandang Gelan yang berdiri di sampingnya, tinggi badan mereka yang terpaut lumayan membuat Gelan menunduk sedikit untuk melihat gadis itu.

"Lo kemana aja hampir sebulan ini? lo tau ga seberapa khawatirnya gue, Gelan? Gue gapeduli nyokap lo sejahat itu sama gue, gak peduli dia ngusir gue, gak peduli dia nyogokin gue pake amplop kayak di indosiar aja!" nafas Melan tersengah-sengah. "Gue gak sakit hati. Tapi, gue bener-bener gak suka kalau lo hilang tiba-tiba rasanya kayak lo gak serius—"

Kalimat Melan mengantung di udara karena belum sempat dia menyelesaikannya sesuatu yang lembut baru saja menyentuh bibirnya.

Gelan baru saja menciumnya.

Melan masih membeku bahkan ketika Gelan menjauhkan dirinya. "Sorry gue gak bermaksud nyosor—"

"Udah gak usah bahas itu!" Melan memotong dengan wajah memerah. "Jawab pertanyaan gue sebelumnya aja!" lanjutnya sambil mengibaskan tanganya didepan wajah, mendadak panas sendiri.

Gelan meraih tangan Melan dan keduanya duduk dibawah sebuah batu karang. Memandang jauh ke arah lautan lepas.

"Gue hadirin nikahan nyokap gue di Singapura." Gelan berujar sambil tetap memandang ke arah lautan, Melan yang semula ikut memandang ke arah ombak sekarang memandang ke wajah lelaki itu.

"Terakhir kali gue ketemu lo waktu gue babak belur, karena gue berantem sama papa tiri gue, gue gak setuju. Dia bener-bener brengsek, Mel."

Melan masih diam, namun dia meraih tangan Gelan dan mengengamnya.

"Gue gak pernah setuju nyokap gue nikah sama dia, oleh karena itu .. di hari pernikahan mereka. Gue putus hubungan sama nyokap." Gelan terkekeh tak menyangka hidup akan sebercanda ini, seseorang yang paling dia sayangi dari kecil berakhir menjadi orang yang paling dia benci. "Dan ... yang paling buat gue benci ... hubungan mereka udah lama. Jauh sebelum nyokap dan bokap gue cerai, dari gue masih SMP kelas 1. Kenapa orang-orang yang selingkuh rela pertaruhkan hidup mereka cuma buat orang baru? Kenapa mama gapernah peduli bagaimana gue dan papa hidup dengan trauma yang dia kasih? di saat dia bilang kalau dia cuma pingin bahagia. Apa berarti selama ini dia gak pernah bahagia bersama 'kami, Mel?" suara Gelan bergetar hebat.

Dada Melan ikut sakit membayangkan semua itu. Dia tak bisa memikirkan menjalaninya. Melan bersyukur lahir di keluarga yang begitu mencintainya. Papa dan Mama selalu akur, dan walaupun sudah selama ini bersama keduanya tetap saling mencintai. Terkadang, Kak Ichal mengangunya namun Melan tahu dia sayang juga pada Melan. Melan tak bisa membayangkan hidup dirumah seperti Gelan.

Melan tiba-tiba memeluk Gelan dan menepuk pundaknya. Namun hal itu membuat Gelan tertawa kecil.

"Kenapa malah lo yang nangis, sih? Dasar cengeng," kata lelaki itu karena tersadar dengan isak tangis Melan, balas menepuk kepala gadis itu pelan.

"Sekarang udah gak apa-apa kok," lanjut Gelan. "Gimanapun, hidup tetap berjalan, Mel. Mau lo baik-baik aja atau gak pun, dunia gak peduli. Lo cuma harus siap."

"Lagian ... gue move ke rumah papa." Gelan bersuara lagi. "Selama ini gue bertahan, karena gue pikir gue bisa buat nyokap berubah pikiran. Tapi, ternyata gak. Gue udah nerima."

Melan menarik ingusnya, memandang Gelan dengan mata berkaca-kaca. "Sekarang ada gue!"

Gelan memandangnya dengan senyum tipis.

"Walaupun gue belum punya KTP, tapi gue bakal lindungin lo lebih dari siapapun! Awas aja kalau ada yang berani ganggu Gelan!"

Gelan gemas melihat Melan. "Gak kebalik?"

Melan mengercapkan matanya. "Emang kamu mau lindungi aku?"

"Iyalah, lo kan sekarang orang yang paling gue sayang."

Melan membeku mendengar hal itu. Tak percaya Gelan baru saja mengatakannya. Orang yang paling Gelan sayang? Kalimat itu terus terputar di otaknya.

"Jadi ... ?" tanya Melan sambil menaik turunkan alisnya.

"Apa?" balas Gelan bingung.

"Kita ... pacaran?"

"Iyalah, kan gue udah cium lo."

Melan mendelik tak suka. "Tetap aja lo belum nembak gue!"

Gelan gemas melihat Melan yang sudah mencak-mencak kesal. "Melan ... mau gak jadi pacar Gelan?"

"GAK!" balas Melan yang sudah kesal.

Gelan tersenyum. "Sayang?"

Melan yang mendapat serangan tiba-tiba seperti itu langsung ambyar. Lelaki kaku ini baru saja memangilnya sayang. Yang bener saja, lucu sekali. Melan kemudian memandang Gelan lagi, wajah lelaki itu masih kaku seperti biasanya.

"Coba ulang," kata Melan. "Tadi gak dengar, coba yang serius."

"Emang telinga kamu kenapa? bermasalah? kita ke dokter habis ini?" tanya Gelan justru khawatir dengan telinga Melan.

"TERSERAH DEH! INTINYA KITA PACARAN!"

END

***
A/n:

Halo, akhirnya ending juga ya. Jujur cerita ini aku tulis waktu aku kelas 2 SMA (2020) dan terbengkalai sampai sekarang baru selesai (2026). Bayangin, 6 tahun nulis cerita ini gak selesai-selesai, sampai aku udah wisuda kuliah. Aku tiba-tiba buka wattpad lagi, terus kayak ngerasa bersalah? kayak gak selesain cerita sampai ending itu kayak gak lega banget, jadi aku memutuskan nulis 2-3 part gitu biar ending dan rasanya plong. Walaupun sejujurnya aku udah lupa juga sama alur cerita ini😭 cuma inget Melan dan Gelan aja wkwkw. Berbekal ingatan yang secuil itu, dan aku juga males baca ulang karena kayak aku baca beberapa part awal aja aku kayak (bisa-bisanya aku selebay ini nulis gini) maklumin aja ges itu dulu tulisan anak SMA yang lagi butterfly era HAHAHA. Siapa tahu nanti dimasa depan, aku baca lagi dan ketawa-ketawa sendiri pas SMA aku pernah nulis gini.

Intinya aku mau selesaiin apa yang udah dimulai, and here i am! thankyou semuanyaa!

Gelan & Melan Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang