Fourteen

272 14 2
                                        

Akhirnya July menyetujui ajakan Bluez, ya setidaknya aku bisa membahagiakan temanku. Cuma ini kan cara yang aku punya untuk saat ini. Dengan lapang dada ku ikhlaskan lantai dansa itu untuk mereka berdua.

aku, Tobey, dan lengan kami yang kosong tanpa gandengan. Hari ini aku datang dengan pakaian yang berbeda, jas silver milik ayahku yang masih muat ini menegaskan sifatku. lalu Tobey memakai jas hijaunya beserta kaca mata berbingkai bening, kulihat dia melirik Rebeca. Gadis berkebutuhan khusus sama sepertinya, Rebeca juga lumpuh dan harus duduk di kursi roda karena kecelakaan sejak dia kecil, kaki kanannya terpaksa diamputasi. "Rome, aku gugup." ujar Tobey, dia sudah lima belas. Kali menelan ludah pagi ini. "Ayolah jagoan, sapa dia." Tobey melirikku dengan perasaan tak yakin, aku cuma mengangguk sambil memberikan isyarat. Jangan biarkan wanita menunggu bro. Tobey sedikit tersenyum, dia mengerti maksudku. Baguslah, itu baru sahabatku.

•••

Musik yang sejak tadi disko ini berubah menjadi lebih romantis, kini aku duduk di kursi. Sendirian. Tanpa teman. Melihat Bluez merangkul erat pinggang July. Sementara aku cuma bersama bekas ikatan di lengan kiriku, dan sayatan silet di tangan kananku. Semalam aku sakau berat, dan aku tidak mampu menahannya. Sementara aku juga berjanji mau berubah, akhirnya aku lebih memilih melukai diriku, mencoba mengalihkan rasa candu ini dengan rasa sakit. Setelah dua jam, caraku berhasil. Namun sayang, bekasnya banyak sekali. Oh sialan, obat sialan.

DJ memainkan lagu One milik Ed Sheeran. Lantunan musik semakin lembut, semakin membuat siapapun terhanyut. Termasuk Bluez dan July. Tatapan July masih biasa terhadap Bluez, tapi memang dasar wanita. Lama-kelamaan tatapan Bluez membuai kalbu July. Tanpa sadar aku menendang kursi depanku. Sialan, kupalingkan kepala, berusaha yakin kalau July tidak akan terpancing begitu saja.

Tapi yang aku lihat sungguh berbeda 180 derajat, Bluez memegang dagu July, mengangkat pelan dagunya, lalu Bluez mendaratkan bibirnya ke bibir July yang kusukai itu. Awalnya July hanya diam, tapi akhirnya dia juga membalas lumatan demi lumatan yang Bluez lakukan padanya.

Oh Tuhan, tolong aku. Jiwaku menjerit! July membiarkan orang lain menghapus jejak bibirku disana. Kuatkan aku. Kuatkan aku.

Setelah musik berhenti, July melepas ciumannya dengan Bluez. Sementara Bluez tersenyum penuh kemenangan, rasa penasarannya dengan bibir July terbalas sudah. Aku juga ikut tersenyum dari jauh, tersenyum hancur lebih tepatnya. July kemudian melirikku dengan ekspresi terkejut. Kubalas ekspresinya dengan lambaian tangan, lalu July buru-buru melepaskan kaitan tangan Bluez pada pinggangnya. "Hai." kataku berbisik dari jauh. Bluez juga melirik ke arahku, dia tertawa diatas penderitaanku. Aku cuma mengepalkan tangan ke arahnya dengan senyuman yang pelit "Bravo kawan!" Bluez juga mengepalkan tangannya. "Bibirnya sangat lembut" ucap bibirnya tanpa bersuara. aku tahu bibir July sangat lembut Blue, kau saja yang ketinggalan zaman. Tapi aku rasa perbuatanku akan menjadi boomerang suatu saat nanti. Dan rasanya terkena boomerang itu sakit sekali. Kesal sebenarnya, tapi aku tidak boleh egois. Toh July bukan pacarku, kami cuma teman. Teman dekat.

Teman dekat, tapi aku mau lebih. Ah cuma aku yang mau, July belum tentu mau

•••

Pesta dansa usai semalaman suntuk, July yang jadi risih dengan Bluez melepaskan gandengan mereka saat keluar ruangan dansa. July mendekatiku yang saat itu tengah mengobrol dengan Tobey, dan Rebeca. Bluez tentu saja marah ditinggal begitu. "Hei July, mau kuantar pulang?" July berbalik badan. "Tidak usah, aku bisa menyetir." Bluez makin kesal, dia terus-terusan mengoceh tidak jelas. Sepertinya dia habis minum alkohol. "July, kamu baik-baik saja?" tanyaku, July menatapku dalam. "Maafkan aku, tidak seharusnya aku membalas ciumannya." dan aku hanya tersenyum. "Duduklah disini." kuraih tangan July, mengajaknya duduk di sebelahku. "Hei Blue, mau bergabung?" Bluez mendekati kami, dia menarik tangan July dengan sedikit kasar. Aku langsung menepak tangan Bluez. "Sopan sedikit." kataku, Bluez semakin menjadi-jadi. Dia menarik kerah bajuku. July berusaha menenangkan kami tapi Bluez malah mendorong July ke samping, untunglah disana ada Tobey dan Rebeca. Tapi aku tidak bisa tetap sabar melihat July diperlakukan begitu. Dengan kencang kuadukan kepalaku dan kepalanya, Bluez tampak pusing. Dia mundur dua langkah, aku maju satu langkah. Tanganku melesat tak terhindarkan lagi ke hidungnya, Bluez tersungkur lagi seperti waktu itu. Tulang hidungnya patah. Kemudian dengan sedikit sadar Bluez bangkit lalu berlari ke arahku. "Persetan denganmu!" makinya, dasar. Bahkan arah pukulannya salah. "Maaf Blue, seharian ini memang aku ingin meninjumu." sekali lagi kepalanku menghajar bibir Bluez sampai robek. "Rome sudah!" teriak July. "Sabar Rome, sudah... Semakin banyak yang melihatmu. Malu berkelahi begitu." ucap Tobey, aku baru melemaskan tangannku. Banyak orang yang melihatku, termasuk Black dan Flinz bersama gangnya masing-masing. Saat itu langsung kuatur ritme nafasku, aku tidak boleh terlihat kasar di hadapan July "Ayo July kita pulang." tanganku menggapai tangan July dengan senyuman. Sebelum kami benar-benar pulang, aku dan July mengantar Rebeca dulu ke rumahnya. Setelah itu aku, Tobey, dan July berangkat pulang ke rumahku.

Di perjalanan aku hanya diam saja, Tobey sudah berusaha beberapa kali mencari bahan obrolan untuk kami. Tapi kami tetap bisu.

•••

"Thanks Bro, Sist. Maaf merepotkan kalian." ucap Tobey saat kami mengantarkannya. "Sama-sama Tob." ucap July manis, kami kembali ke dalam mobil. Dan saat itulah percakapan terjadi.

"Maaf kamu harus melihat itu July, aku cuma tidak suka ada yang kasar sama kamu. Sekalipun itu temanku sendiri." July memegang tanganku, dia berbalik melirikku. "Aku juga minta maaf saat aku dan Blue, kami..." tanganku langsung menjamah pipinya. "Aku tidak bisa tidur, maafkan aku. Aku benar-benar sudah mengacaukan perinsipku. Sejujurnya aku cemburu, aku tidak mau ada orang lain yang menghapus jejak bibirku disana. Tapi kali ini, aku rasa aku terlalu baik pada temanku." wajahku semakin dekat dengannya, pipi July memerah. "Kamu cemburu?" tanya July. Oh, Tuhan harus berapa kali ku katakan iya. "Sangat." kataku singkat. Mata kami saling beradu pandang, July berbisik sangat halus. "Kalau begitu buatlah jejak baru." aku tidak mampu menahan nafasku yang keluar di depan bibirnya. July sudah memejamkan mata, bibirku menyentuh permukaan bibir July. Kami saling balas ciuman lama, lumatanku semakin dalam, seolah-olah July adalah milikku selama-lamanya. July mengalungkan tangannya di leherku, sementara pinggangnya adalah destinasi keduaku. Kami masih saling pagut, saling cumbu satu sama lain. Sampai hal sialan ini mengganggu lagi, aku menggigil kedinginan.

•••

Go! Go! Go! Vote dan Commentnya sangat membantu.

-Rijal

Dear GodTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang