Seventeen

229 12 3
                                        

Aku, kasur empuk, dan tatapan July di siang hari. Kepalaku di perban kencang, telanjang dada dengan sorotan mata July yang menusuk. "Bagaimana keadaan kamu?" aku hanya menggelengkan kepala. "Lumayan." tubuhku berganti posisi, aku duduk di sebelah July. "Apa yang terjadi?" lanjutku, July hanya diam. "Tanganmu penuh luka, kenapa?" aku terkejut, langsung kutarik selimut untuk menutupnya. "Dicakar kucing." jawabku enteng. "Bohong." sungut July. "Bluez kemana?" tanyaku mengalihkan perhatian, namun July tersadar. "Rome, aku ingin bertanya. Tolong jawab yang jujur." firasatku buruk. "Tanya apa, Jul?" ia membuang nafasnya panjang, lalu menariknya lagi sembari bersiap. "Betul kamu pemakai narkoba?" pupil mataku mengecil, rasanya seperti tersambar petir. July tahu dari mana? Apa yang sudah terjadi selama aku pingsan? Kemudian aku ingat dengan Bluez. Sial, apakah Blue... "Jawab Rome!" bentak July tidak sabaran. Sontak saja aku cuma menggelengkan kepalaku. "Tidak. Itu tidak benar." lalu tiba-tiba July menangis, air matanya jatuh menetes seiring detik berjalan. "Aku kecewa." katanya pelan, July menjauhiku. "July?" panggilku, aku hanya diam setelah itu. Kenyataanya memang benar. "Kenapa tidak bilang sejak awal?" aku menggeleng. "Aku takut kamu tidak menerimaku." July menghapus air matanya cepat, tubuhnya menyamping menatapku tajam. "Kamu tau kan bahayanya narkoba itu? Mia contohnya Rome! Kakakku sendiri, ingat?" mataku membalas tatapannya dingin, aku diam beberapa saat atas kata-kata yang July lontarkan. "Jangan menghakimiku, tolong." dia membuang muka, lalu air matanya jatuh perlahan. Tanganku mencoba meraih jemari July, tapi dia tetap menjauh. "Aku punya alasan, July." kataku pelan, July nampak tidak perduli. Seperti "persetan denganmu Rome!" "maafkan aku, sumpah aku mencoba berhenti." July diam, aku juga diam. Kami sama-sama tidak berbicara selama beberapa jam. Lalu aku memutuskan untuk pamit karena hari mulai sore. "July aku pulang dulu." tanganku menepuk bahu July, dia tetap diam. Aku berlutut di hadapannya. "Maafkan aku, kamu tahu aku laki-laki macam apa. Sepertinya walaupun kuat rasaku untuk mencintaimu. Kamu butuh proses untuk menerimaku lagi, akan aku tunggu saat itu tiba. Aku janji." rasanya ingin kusentuh pipi July, namun tidak jadi. July marah sekali. Tubuhku bangkit, kupakai jaketku, membuka pintu kamar, dan July tetap diam tanpa kata-kata.

"Sampai jumpa."

•••

Di luar nampak hari juga ikutan bersedih, hujan turun semakin deras disetiap langkah kakiku.

Aku tahu ini bodoh, tapi aku lega July sudah tahu apa yang aku tutupi selama ini. Tinggal keputusannya, mau menerimaku lagi atau tidak.

Aku sampai di rumah dengan basah kuyup, perasaanku dan perbandingan rasa bahagia yang tengah ibu rasakan sangat berbeda. "Dari mana saja kamu?" tanya ibu. "Rumah teman." jawabku singkat. Ibu langsung menarik tanganku. "Kemarilah." kemudian dia melepaskan jaketku yang basah dan diganti dengan handuk kering. "Pakai, ibu mau bicara." raut wajahnya benar-benar bahagia, setelah dia menyulut rokoknya ibu duduk serius di depanku. "Begini, ibu memulai bisnis dengan tuan Julius pagi ini, kemarin ibu sudah membuat proposal untuknya, dan kami sepakat untuk berkerja sama. Sejumlah uang mengalir ke rekening ibu untuk kita putar lagi uang itu, dan selanjutnya kita akan untung berlipat-lipat, sekarang yang mau ibu bicarakan. Kita akan usaha apa Rome?" kusambut wajah bahagianya. "Tapi bu—" ibu cepat-cepat berucap. "Ibu akan merehabilitasimu secara total, kamu tidak perlu masuk panti rehab. Cukup datang setiap malam ke rumah dokter Lupin secara rutin, rumahnya di belakang rumah temanmu si Tobey itu bagaimana? Mau?" aku tersenyum melihat ibu, mataku melirik ke lantai. Aku malu, ternyata dia masih memperhatikanku. "Bagaimana Sewa rumah kita?" ibu mengangkat tangannya, membuang abu rokoknya. "Lunas selama lima tahun kedepan!" syukurlah. "Maaf, ibu. Kau berusaha sendirian. Maafkan sifat dinginku juga padamu, aku malu." tenang, lembut tangan ibu mengangkat daguku. "Setiap orang punya masa kelam mereka sendiri, tegarlah. Tuhan tahu kita kuat." sejujurnya, entahlah... Tapi kata-kata ibu membakar semangatku, dengan cepat aku langsung memeluk ibu erat, semalaman penuh kami mencairkan ketegangan kami dahulu. Kini aku dan ibu sudah sama-sama mengerti kondisi masing-masing. Kami mulai bercanda sejak hari itu, aku melihat tawa ibu diiringi kepulan asapnya setiap hembus. Benar-benar malam yang indah untuk manusia sepertiku.

•••

Pagi datang, selepas mandi aku sudah punya ide untuk usaha aku dan ibu yang akan kami jalankan. "Bu?" panggilku. "Disini sayang, brownies ini menantimu." dengan cepat kutarik jaket dan sepatuku, lalu langsung duduk di sebelah ibu. " aku punya ide, bu." ibu tampak antusias. "Katakanlah." kugigit browniesku terlebih dahulu. "Bagaimana kalau kita berbisnis kuliner? Maksudku makanan tidak pernah habis dari trend sepanjang tahun, toh variasinya juga banyak." ibu menjentikan jarinya cepat, dia makin penasaran. "Lanjutkan." aku langsung melirik brownies ibu. "Kita mulai dari hal yang sederhana, ibu tahu brownies ini adalah brownies terenak yang pernah aku makan?" ibu menggeleng pelan. "Ini enak, bu! Aku serius. Kita akan membuka kedai makanan untuk menyajikan brownies dan berbagai macam variasinya." ibu mendekatkan letak duduknya. "Kita buat style kafetaria, setuju?" astaga aku mencintai ibuku yang baru, penuh senyuman aku membalas ucapan ibu. "Setuju!" kemudian kami sepakat dan beradu tinju pelan. "Sepakat!"

•••

aku masuk sekolah hari ini, mendorong pintu kelas, lalu memberi salam kepada Mrs. Ina "maaf, bu aku telat." dia cuma menggeleng-gelengkan kepalanya. Kutarik kursi dari tempat Bluez menarik ke meja yang kosong di sebelah Tobey. Tempat July masih kosong, dia belum datang. Bluez juga masih tidak hadir. "Pagi, bro." Tobey melirik penuh semangat. "Pagi juga, bro. Tampak segar hari ini, ibumu memberiku brownies tadi, wah rasanya kau tahu? Meleleh cokelatnya di mulutku." aku gembira mendengarnya. "Thanks bro, aku dan ibu sudah baikan. Kami mulai kompak, itu kabar bagusnya." Tobey tampak berpikir. "Jika itu kabar bagusnya, buruknya apa?" nafasku berat keluar dari mulutku. "July sudah tahu aku pemakai, Bluez berkelahi denganku, dan July juga marahan denganku." kataku pelan. "Astaga itu buruk, bro—" tiba-tiba July datang dengan mata yang sembab, di belakangnya Bluez menyusul. Mereka memakai baju yang seragam, Bluez tersenyum licik ke arahku. Keparat. Dengan sigap Tobey menepuk lenganku. "Santai, santai bro." dia tampak ingin kuhajar, ini pembalasan atas kepalaku. Tapi July dan dia? Bersama? Sial!

Dear GodTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang