Jessica masuk ke dalam kelasnya, lantas meletakan tas nya di atas meja. Kemudian menatap sekitar, teman-temannya sedang menyalin pekerjaan rumah milik siswi pintar yang suka belajar di kelas ini, yaitu Rita.
"Ada pr apa emangnya?" Tanya Jessica pada teman sebangkunya Sarah.
Sarah yang baru saja memfoto milik Rita menjawab, "pr matematika. Lu udah Je?"
"Jangan tanya gue rah, ada pr apa aja gue nggak tau. Apalagi udah, ada-ada aja Sarah." Kata Jessica kemudian membuka buku pr matematikanya.
Dilihat soal dan contoh soalnya sebentar, lalu, Jessica mampu mengerjakan semuanya. Bahkan Sarah yang hanya menyalin belum selesai.
"Lo udah je?" Tanya Sarah. Jessica mengangguk kemudian menaruh kepalanya di atas meja, "keren. Gue pinjem buku lo ya."
"Ambil aja." Balas Jessica.
Bell masuk berbunyi, pelajaran pertamapun dimulai. Pelajaran pertama adalah pelajaran Fisika, dan guru Fisika merupakan wali kelas 12 ipa 2. Namanya bu Kintan.
"Hari ini kelas 12 ipa 2 kedatangan murid baru dari Bandung.." Bu Kintan mulai bicara, "silahkan masuk.."
Bu Kintan mempersilahkan Fandy masuk. Fandy memasuki kelas kemudian semua mata perempuan menatapnya. Mereka membicarakan murid baru tersebut.
"Perkenalkan nama saya, Rafandy Dimas Bagaskara. Saya pindahan dari SMA Negeri 1 Bandung." Fandy memperkenalkan diri seraya tersenyum.
Mata Jessica membulat, eh kok. Dia menatap Fandy bingung, kenapa laki-laki ini ada disini?
Membuat Jessica begitu risih. Tuhan, yang hanya Jessica inginkan saat ini kalau semua ini adalah mimpi. Ternyata tidak.
Jessica menghembuskan napasnya dia kembali tidur.
Fandy tersenyum ketika mendapati tempat duduk Jessica, hal yang dia inginkan hanyalah, mengacaukan hidup Jessica.
Fandy duduk di kursi belakang yang kosong, lantas melemparkan pandangan untuk Jessica.
***
"Gue denger di kelas lo ada murid baru ya, cowok, dan katanya ganteng banget?" Tanya Ghina, teman seperjuangan Jessica. Ghina dan Jessica sudah bersahabat sejak kelas 1 SMP.
"Iya. Iya. Dan nggak ganteng banget sih menurut gue." Jawab Jessica, sambil masih memakan siomay miliknya.
"Namanya Rafandy kan?" Tanya Ghina, Jessica hanya mengangkat bahu. "Dari namanya aja udah kedengeran ganteng gitu mukanya."
"Iya aja gue mah, na." Ucap Jessica malas, "lo udah mutusin belom mau kuliah dimana, na?"
"Di universitas wasta aja deh kayaknya Je." Jawab Ghina murung.
"Kok lo jadi pesimis gitu sih, na? Lo bilang lo mau jadi Akuntan, kan?" Tanya Jessica, secara, Ghina memilih jurusan IPS di sekolahnya.
"Gue mau jadi Akuntan tetep, tapi, gue nggak bisa optimis bisa masuk ke universitas negeri." Jawab Ghina, "secara nilai gue anjlok banget Je, nggak kayak lo yang super duper genius yang bisa masuk ke universitas mana aja."
"Gue kan emang pinter." Balas Jessica.
"Kumat deh pedenya." Kata Ghina, "salah ngomong kayaknya gue."
Namun tiba-tiba seluruh penjuru kantin terdiam melihat seorang murid laki-laki tampan yang baru masuk ke dalam kantin sekolah.
Dia. Fandy.
Tanpa sengaja pandangan Jessica tertuju kepada Fandy. Dia terdiam kemudian kembali memakan siomay-nya.
"Eh Je, itu cowok ganteng banget kayak artis." Kata Ghina dengan senyum terpukau.
"Itu yang namanya Rafandy." Balas Jessica acuh.
"Hah? Serius lo? Ya ampun lo beruntung banget bisa sekelas sama dia." Ungkap Ghina, "putih, tinggi, rambutnya bagus, sexy, badannya tegap, manis, ganteng, sepatunya keren, jamnya juga pasti mahal deh. Dia bisa dibilang, sempurna."
Jessica rasanya ingin memuntahkan segalanya.
Pandangan Fandy tertuju pada Jessica kemudian menatapnya dan tersenyum.
"Je, masa cowok itu ngeliatin gue.." Kata Ghina kepedean.
"Mungkin karena muka lo jelek." Balas Jessica.
"Serius je, dia ngeliatin gue. Sambil senyum." Kata Ghina.
Jessica menghembuskan napas kemudian menolehkan pandangannya, membalas tatapan Fandy dengan penuh rasa yang bercampur aduk. Disatu sisi dia merindukan teman kecilnya itu, disisi lain dia begitu ingin meninju wajah Fandy hingga babak belur karena dulu mereka adalah teman yang selalu bertengkar.
***
"Gue pulang duluan ya je, daaa.." Kata Ghina. Jessica hanya melambaikan tangannya.
Berharap sopir pribadi menjemputnya, "lama banget sih Pak Budi." Keluh Jessica.
Kemudian sebuah mobil berhenti didepan Jessica, ah bukan, mobil ini bukan mobil milik Pak Budi.
Kemudian seorang laki-laki turun dari mobil, dia adalah Fandy.
Jessica tidak ingin melihat muka Fandy. Dia akhirnya memalingkan wajahnya.
"Hai Jejekuhhh. Sombong banget sama gue sih, je." Kata Fandy tepat di depan Jessica.
"Males ngeladenin orang cupu kayak lo." Balas Jessica.
Kening Fandy berkerut, "bukannya lo yah yang cupu? Waktu itu lo takut kan gue tan-"
"Stop!" Potong Jessica, "gue nggak mau dengerin lo ngomong lagi. Nggak penting tau."
"Dih emang dasar aja-"
"Ih berisik banget sih Fandy!" Pekik Jessica.
"Hm okay okay." Balas Fandy, "mau pulang bareng nggak?"
"Nggak." Balas Jessica jutek.
"Jangan jutek jutek dong, je." Kata Fandy.
"Sok asik." Balas Jessica. Duh Pak Budi lama banget sih.
"Mau bareng nggak?" Tanya Fandy.
"Tidak, terimakasih Rafandy Dimas Bagaskara atas tawarannya." Jawab Jessica dengan penuh penekanan di setiap kata.
"Yaudah kalo gitu." Fandy mengangkat bahu acuh kemudian masuk ke dalam mobil.
Dia memundurkan mobilnya, kemudian menancap gas dengan cepat. Membuat genangan air yang berada di samping trotoar menyiprat ke arah Jessica.
Tubuh Jessica kuyup.
"DASAR BANCI IDIOT!" Kata Jessica marah.
"TUNGGU AJA PEMBALASAN GUE SIALAN!"
"Ah sialan.." Jessica sangat kesal dengan Fandy.
To be continued
KAMU SEDANG MEMBACA
EVERLASTING LOVE
Fiksyen Remaja"Gue kira hidup gue bakal gini-gini aja. Sekolah, bolos, tidur, makan, tidur, sekolah lagi, bolos lagi, hunting foto, dan yah gitu gitu doang deh. Tapi pas ada dia lagi, kok gue ngerasa beda yah? Rasa yang dulu itu hadir lagi. Bahkan tidak pernah be...
