Sudah tiga bulan Jessica menjabat sebagai pemimpin pengganti di Bagaskara Group. Jessica bahkan sering menghadiri beberapa pertemuan. Para client dan pemegang saham sangat menyukai Jessica. Karena Jessica begitu tangguh. Menurut mereka Jessica sangat luar biasa biasa menghandle semuanya, dan terlebih Jessica adalah perempuan.
Dan sekarang, Fandy sudah bisa fokus dengan kuliahnya.
Tetapi satu...
Lelaki itu tidak pernah absen untuk mengunjungi rumah Faricha. Walaupun hanya sekedar minum teh, ngobrol dengan Faricha, ataupun bermain bersama Fiona.
Semua itu, membuat Jessica dan Fandy semakin jauh. Jessica memang awalnya tidak peduli, tetapi lama kelamaan rasanya sedikit sakit melihat Fandy begitu mementingkan Faricha dibandingkan dirinya.
Seperti hari ini. Jessica baru pulang dari kantor pukul 8 malam. Awalnya saja Fandy mengantar jemput Jessica, awalnya saja Fandy mengingatkan Jessica sudah makan atau belum. Semuanya hanya di awal.
Jessica keluar gedung kantornya, kemudian dia berhenti di sebuah halte.
Mengapa semua laki-laki hanya berjuang di awal? Setelah itu pergi dan datang semau mereka?
Jessica menggigit bibir bawahnya. Mungkinkah? Dirinya sudah benar-benar memiliki perasaan terhadap suaminya itu?
Mengapa semuanya seperti drama sekarang?
Jessica mengambil ponselnya dari dalam kantong jasnya. Kemudian melihat layarnya yang kosong melompong tanpa kabar satupun dari Fandy.
Membuatnya menghela napas berat.
Jessica menaiki taksi sampai ke rumahnya. Setelah sampai ke rumahnya Jessica masuk ke kamarnya, lantas duduk di tepi ranjang.
Memijit sedikit pundaknya, duduk sepanjang hari di depan laptop membuatnya pegal.
Fandy bahkan belum pulang dari rumah Faricha. Jessica mendengus.
"Buat apa sih gue harus dramatis kayak gini sekarang?" Jessica memukul-mukul pundaknya perlahan, "buat apa gue peduli?"
Jessica kemudian menghentikkan pukul-pukul pundaknya, lantas menunduk. Dia menangis.
"Kenapa sih dia gak pernah peduli lagi?" Jessica mengapus air matanya kasar.
"Bajingan!" Jessica menendang-nendangkan kakinya. Lantas terisak dalam tangisnya.
"Semua orang bilang gue tangguh, padahal gue enggak!" Jessica semakin menjadi tangisnya. Hatinya sakit. Tidak dipedulikan selama tiga bulan belakangan ini.
***
"Selamat pagi, Bu." Sapa para pekerja-pekerja di perusahaan ini kepada Jessica. Jessica pun membalasnya dengan ramah.
Namun kepalanya begitu pusing, karena harus bekerja semalaman. Bahkan Fandy tidak menemaninya sama sekali. Fandy malah lebih memilih untuk tidur.
Jessica mendaratkan bokongnya di atas kursinya kemudian menghembuskan napas.
Jessica bekerja begitu full. Tanpa makan. Sudah dua hari mungkin dirinya tidak makan secara benar. Dari kemarin dia hanya minum kopi saja.
Kemudian gadis itu memejamkan matanya sebentar. Mungkin sedikit istirahat. Batinnya.
Wajahnya pucat, lingkaran mata itu pula terdapat disana.
Jessica mengambil duitnya, mungkin dia harus makan sekarang. Kalau tidak dia bisa mati.
Jessica berjalan pelan-pelan dengan kepala pusing dan tubuh juga lemah.
Setelah dia membuka pintu kantornya, saat itu Jessica pingsan. Tidak sadarkan diri. Sampai akhirnya di bawa ke rumah sakit.
KAMU SEDANG MEMBACA
EVERLASTING LOVE
Jugendliteratur"Gue kira hidup gue bakal gini-gini aja. Sekolah, bolos, tidur, makan, tidur, sekolah lagi, bolos lagi, hunting foto, dan yah gitu gitu doang deh. Tapi pas ada dia lagi, kok gue ngerasa beda yah? Rasa yang dulu itu hadir lagi. Bahkan tidak pernah be...
