—Faricha's View—
Mungkin penyesalan. Mungkin penyesalan yang saat ini gue alami. Oke kita balik ke lima tahun silam. Saat semuanya kacau.
Malam itu adalah malam yang sangat-sangat indah. Malam dimana gue udah gak perawan lagi. Malam dimana Handika bilang, dia akan selalu disisi gue. Betapa bodohnya gue menerima semua itu.
Semua perlakuan lembut Handika. Membuat gue lupa diri.
Hingga hari ini. Hari dimana semuanya terungkap. Gue hamil. Hamil anak Handika. Apa yang harus gue lakuin sekarang?
Hari ini adalah hari dimana gue harus memberitahu Handika tentang keadaan gue.
Kita bertemu di café, semuanya terasa baik-baik aja, sebelum Handika tahu yang sebenarnya.
Gue kasih tahu dia hasilnya. Bahwa gue hamil.
Betapa brengseknya dia. Handika memutuskan hubungan ini, dengan uang ratusan ribu rupiah yang tersebar di muka gue. Dia bilang, jangan temui gue lagi.
Brengsek.
Gue kalut dalam kesedihan gue. Dan gue memutuskan untuk mencelakai diri gue sendiri. Saat itu, gue tabrakin mobil gue sekencang-kencangnya ke tiang lampu merah jalanan.
Gue di rawat dirumah sakit. Dan baru sadar ketika hari ke 2 gue dirawat. Dokter bilang kandungan gue kuat banget dan gue gak apa-apa, dia bilang ke mama gue. Dan Fandy gak tahu kalau gue hamil.
Rasanya gue pingin nangis. Apa reaksi Fandy kalau tahu gue hamil? Apa yang akan Fandy lakuin? Apa dia akan benci banget sama gue?
Gue cuman bisa nangis. Gue berharap kandungan gue gugur. Tapi gue gak tega.
Gue mutusin untuk pergi ke Amerika. Bersama mama. Dia nyuruh gue untuk kuat. Tapi gue begitu lemah. Tanpa Fandy, sahabat yang selalu ada untuk gue.
Betapa sakitnya berpisah sama Fandy.
Cowok yang masih menerima pembunuh kayak gue.
Di Amerika gue sempet pacaran sekali. Sama cowok ganteng, dia orang Indonesia juga. Namanya Dion. Mukanya mirip sama Rico, sahabat yang meninggal karena gue. Tapi dia mutusin gue karena tahu gue hamil.
Selama di Amerika gue ngebesarin Fiona, hingga dia lahir. Sampai akhirnya satu tahun berlalu.
Mama bilang, Fandy sms mama.
Begini isi pesannya.
Fandy: Faricha sayang, udah setahun. Gue kangen banget sama lo. Lo gimana kabarnya? Sekarang gue udah nikah sama Jeje. Lo tau gak gue sayang banget sama lo, cha? Bales pesan ini yah, cha. I miss you.
Gue pengen nangis. Serius. Apa dia tetep mau nerima gue yang udah punya anak gini?
Fandy sama Jeje? Sumpah gue hancur banget.
Selama dua tahun gue di Amerika, hari-hari gue cuman mikirin Fandy doang. Mungkin ini yang namanya penyesalan. Gue harus balik ke Indonesia.
Setelah itu gue pulang ke Indonesia dan ketemu sama Fandy. Tapi nasib berkata lain, gue kembali dipertemukan dengan Handika.
Dan inilah hari itu...
Gue dan Fiona pergi ke Mall. Setelah dari Mall kita berdua pulang ke rumah. Dan dirumah gue udah ada Handika.
"Hi, baby..." Handika berjalan menghampiri gue. Dia masih belum berubah. Wajahnya masih tampan. Apalagi dengan kemeja lusuh, membuatnya tetap menjadi badboy sejati.
"Handika?" Gue jelas kaget dong. Kemudian manik matanya menangkap sosok gadis kecil yang sedang bersama gue saat ini, Fiona. Dengan cepat gue langsung menggendong Fiona.
KAMU SEDANG MEMBACA
EVERLASTING LOVE
Teen Fiction"Gue kira hidup gue bakal gini-gini aja. Sekolah, bolos, tidur, makan, tidur, sekolah lagi, bolos lagi, hunting foto, dan yah gitu gitu doang deh. Tapi pas ada dia lagi, kok gue ngerasa beda yah? Rasa yang dulu itu hadir lagi. Bahkan tidak pernah be...
