14. Penawaran

7.3K 649 29
                                        

Hanya ada dua pilihan. Menerima atau menolak...

Suara bising itu datang dari kelas XI-C yang ternyata sedang tak ada guru. Suara orang mengobrol, gebrakan meja, tarikan kursi, hingga suara orang bernyanyi.

Rio memilih mengobrol bersama Remeo dan Budi. Laki-laki itu lebih banyak berubah akhir-akhir ini. Lebih banyak diam daripada berbicara. Membuat kedua sahabatnya bingung. Rio juga lebih sensitif.

"Lo ada masalah ya?" Budi memandang Rio dengan alis bertaut. Sedangkan yang dipandang seperti itu hanya menggeleng.

"Gue tebak. Ini tentang Deeva?" Romeo ikut menambahi. Kedua sahabat itu memandang Rio terkejut kala laki-laki itu mengangguk tanda 'iya'.

"Gue tebak lagi. Lo coba main api, dan akhirnya lo kebakar." Lagi, Rio mengangguk lemah. Laki-laki itu sama sekali tak membuka suara. Hanya mengangguk atau menggelengkan kepalanya.

"Bagus! Aw!" Romeo mengaduh saat kepalanya dipukul dengan pulpen oleh Rio.

Laki-laki itu menatap Romeo tajam. "Ini gara-gara lo!"

Romeo memandang Rio tak terima. "Kok, gue? Yah salah lo lah. Gue gak maksa lo buat nerima 'kan?"

Diacaknya rambutnya karena frustasi. "Sekarang kita bener-bener menjauh. Gue gak kenal dia dan dia gak kenal gue. Semuanya balik lagi ke kehidupan sebelum kita saling kenal."

"Gue ngerti. Lo gak mau nyakitin Dessy? Lo gak bisa ninggalin dia? Tapi lo suka sama Deeva." Romeo manggut-manggut.

"Bukan. Ini lebih rumit. Gue suka Dessy sama Deeva...... yah kayak gitu."

Sontak, Budi batuk-batuk karena pernyataan Rio barusan. Laki-laki itu memandang Rio dengan tatapan ngeri. Setelahnya, Budi duduk merapat ke Rio.

"Lo suka mereka berdua? Lo sehat kan?"

"Gue juga gak ngerti." Rio mengusap wajahnya kasar. Pikirannya berkelit antara Dessy dan Deeva. Dia bingung antara kedua perempuan itu yang sudah masuk ke dalam hidupnya. Semua butuh dimengerti. Tak hanya dalam waktu singkat. Laki-laki itu membutuhkan waktu lama agar bisa mengetahui siapa yang dia cintai. Dan sepertinya itu tak akan mudah.

"Sekarang gini. Lo yakin mau ngejauhin Deeva?" Sekarang, Rio menatap Romeo sambil berpikir. Alis laki-laki itu bertaut tampak sedang berpikir sangat keras.

"Gue gak tau." Selalu itu jawabannya. Selalu itu yang bisa dia simpulkan saat ini. 'Dia tidak tahu.' Karena dia sendiri juga tak bisa mendapat jawabannya.

"Gue gak ngerti lagi. Lo pilih Dessy atau Deeva?" Budi mengguncang lengan Rio agar laki-laki itu mau menatapnya.

"Gimana kalo gue pilih dua-duanya?" Tak ada nada bercanda dalam suara itu.

"Kalo gitu lu nyakitin hati keduanya." Rio manggut-manggut menyetujui ucapan Romeo. "Menurut lo gimana?"

"Cinta itu gak bisa dipahami dalam waktu singkat. Dan biasanya, cinta bisa diketahui lewat jarak. Dan sekarang gue tanya, lo kangen sama Deeva? Mau ketemu dia?" Romeo menatap Rio serius.

Setelah berpikir dan merasakan apa yang dirasakan hatinya dalam beberapa detik, akhirnya laki-laki itu mengangguk.

"Sekangen apa lo sama dia?"

"Gue gak tau. Tapi setiap ketemu dia, gue rasanya mau meluk dan bilang 'jangan pernah pergi kemanapun lagi'. Mungkin." Rio mengangkat bahunya sekilas.

"Semakin jauh jarak lo sama Deeva, cinta itu semakin jelas. Misalnya rasa kangen. Itu salah satu wujud cinta juga." Budi menggeleng. "Gue gak ngerti."

ALTERIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang