Part 19-Ayah

3.2K 243 3
                                    

"Masih jauh ya Key?"

"Iyalah, lo sih larinya lama banget. Lagian gak mikir gimana baliknya."

"Hehe, tapi asik Key gue jadi bisa ngrasain naik odong-odong. Soalnya pas kecil gue gak pernah." Aku terkekeh sambil memandang wajah Keynan dari samping. Ganteng!

"Maksud lo gue odong-odong gitu?!" Keynan berhenti berjalan lalu melirikku yang masih ada di gendongannya. Oke aku tau dengan bilang gitu aku cari mati.

"Mm, hehe," aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, "Abis kamu jalannya sempoyongan, kamu pasti cape ya?" Aku masih menatap Keynan lalu mengelap keringat yang mengalir di pelipis Key.

Key menurunkan aku dari gendongannya. Keningku berkerut makin dalam saat Keynan menghadap ke arahku sambil menatap intens.

"Key, maaf." kataku sambil menggigit bibirku. Aduh, aku ngerasa bersalah deh. Aku si pake gatau terimakasih, udah digendong jauh banget malah ngatain odong-odong. Kay bego kay bego. Bego bego bego. Isshh...

Keynan masih diam sambil menatapku. Wajahnya sangat datar sampe-sampe sama datarnya kaya aspal jalan–Mm, maksudku aku ga bisa baca ekspresinya.

Keynan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku refleks mundur beberapa langkah. Keynan maju mengikuti langkahku. Aku mundur beberapa langkah lagi hingga menyentuh tembok bangunan di dekat trotoar.

Aku gelagapan. Kaki ku lemas. Wajah Keynan hanya beberapa mili dari wajahku. Bahkan hidungnya sudah menyentuh hidungku–kalau kalian ingin tau saja–dan aku bisa merasakan helaan nafas Keynan.

Wajah Keynan putih bersih mulus, rambutnya ditata acak-acakan tapi tidak mengurangi ketampanannya, hidungnya mancung kaya perosotan di sekolahnya Brian, alisnya tebal, dan bibirnya tipis juga merah. Shit. Aku salah fokus yaa?!

"Udah memuja guenya?" tanya Keynan yang sudah dalam posisi normal. Aku mengerjap beberapa kali.

Aku menunjukkan cengiran paling lebar yang pastinya terlihat sangat bodoh.

"Lo berharap gue apain tadi? Gue cium pipi atau cium kening atau cium bi–" aku membekap mulut Keynan dengan cepat.

"Omes lo." Aku menoyor kepala Key yang berisi pikiran mesum lalu aku mendengar Key mengaduh, setelah itu dia menuntunku untuk berjalan lagi.

"Kaki lo udah mendingan kan? Kalo belum gue gendong lagi."

"Udah gapapa kok."

"Nah motor gue di supermarket depan tuh." Kata Keynan sambil menunjuk supermarket yang ada di kanan jalan 200 meter dari tempat kita berdiri.

"Masa di supermarket, di parkiran supermarket kali Key." Aku terkekeh.

"Ya maksudnya gitu Kaynna." Kata Keynan sambil menekankan di dalam mengucapkan namaku, lalu dia mencubit pipiku.

Aku memanyunkan bibir beberapa centi, "Sakit...." tanganku mengelus pipiku yang jadi korban kegemasan Keynan. Lalu Keynan meletakkan tangannya diatas tanganku, aku merasakan pipiku memanas.

"Ahahaha. Kay lo bisa blushing juga?"

"Terus aja ketawa." Aku memalingkan wajah sambil menahan malu sebenernya.

"Engga kok. Yuk pulang." Kata Keynan sambil mengacak rambutku lalu menggenggam tanganku berjalan ke arah supermarket.

---

"Kay???" Mama memelukku begitu aku melangkah masuk kedalam rumah.

Aku membalas pelukan Mama. Papa bangkit dari duduknya lalu berjalan kearah kami.

Key for KayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang