-Author POV-
"Hai Eza, apa kabar? Aku merindukanmu."
Keterkejutan Eza membuat ia tidak menjawab sapaan wanita didepannya.
Senyuman wanita itu tak luntur dari bibirnya dan matanya yang memancarkan kerinduan.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Darimana kamu tahu........." ucapan Eza terpotong karena satu jari perempuan itu menyentuh bibirnya.
"Aku selalu tahu." Pelukan hangat mendarat di tubuh Eza. Tubuhnya menegang merasakan pelukan yang tiba-tiba itu.
"Apa kamu kesini bersama......"
"Tidak, aku datang sendiri. Tidak bersama dia." Lagi-lagi ia memotong ucapan Eza yang belum selesai.
"Lalu apa tujuanmu datang kesini?" Eza melepaskan pelukan wanita itu.
"Aku merindukanmu."
"Ya, aku juga merindukanmu...." Balas Eza membuat wajah wanita itu senang. "Sebagai teman." Sambungnya.
Kekecewaan tercetak jelas diwajah wanita itu. Dadanya merasa sesak mendengar Eza menganggapnya hanya 'Sebagai teman'.
"Aku membawakan makan siang untukmu. Makanan yang kau tak akan temui di Jepang dan ini makanan favorit mu sejak sekolah."
Wanita itu membuka kotak makanan yang dibawanya dan menuntun Eza menuju sofa.
Kedua mata Eza berbinar melihat makanan yang sudah lama ia tidak cicipi. Nasi uduk lengkap dengan lauknya. Ia sempat ragu memakannya, melirik kearah wanita itu.
"Ayo makanlah, aku tahu kamu lapar."
"Baiklah, terima kasih kamu sudah repot-repot membawa ini." Wanita itu hanya mengangguk.
***
-Tita POV-
"Apa lo yakin mau pindah kuliah?" tanya Sabrina sambil menyeruput minumannya.
Aku mengangguk membenarkan pertanyaan Sabrina. Aku tidak mungkin setiap hari terlambat hanya karena rumahku jauh dengan kampusku. Meskipun jaraknya antara Jakarta-Bogor tetapi tetap saja aku merasa terbebani. Apalagi dosen itu mengingatkanku dengan Eza.
Pak Kenan sudah tidak membahas tentang Eza lagi. Ia bersikap seolah-olah tidak pernah mengatakan apapun padaku.
"Kita baru berteman Tita, lo mau ninggalin gue gitu aja?"
"Walaupun gue pindah, kita masih tetap berteman Sab."
Sabrina hanya mengangguk tak mengurangi kesedihan di wajahnya.
"Maaf nona, ini ada surat untuk anda." Ujar seorang pelayan kantin menyerahkan amplop kecil berwarna biru kepadaku.
"Dari siapa?" Tanyaku.
Pelayan wanita itu hanya mengangkat bahunya dan segera pergi menuju dapur.
Aku menatap Sabrina dan menyeritkan kening. Berfikir siapa yang mengirimkan surat kepadaku seperti ini. Sabrina membalas menatapku.
"Tunggu apa lagi? Ayo bukalah!!" Suruhnya.
Perlahan kubuka kertas dari amplop itu dan membuka lipatan demi lipatannya.
Kau begitu cantik melebihi semua mawar didunia ini....
Wangi tubuhmu begitu harum bagaikan candu untukku....
Aku tercengang melihat kalimat yang tertulis disurat itu. Mungkin surat ini bukan untukku, mungkin pelayan tadi salah memberikannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PRINCE IS YOU
Romansa"Apakah aku masih boleh berharap kalau kau ditakdirkan untukku? Aku sudah menjalani pernikahan dengan pria yang tidak ku cintai.. Setelah takdir mempertemukan kita, kau sudah bahagia dengan wanita lain.." - Artita Anastasia Aviadi - "Kita sama-sama...
