CHAPTER 10

6.5K 224 0
                                    

Mobil sport hitam terhenti sempurna di lobi salah satu perusahaan terpandang di Jakarta.

Terlihat Juna sedang menggendong Tita ala bridal style memasuki lift dengan santainya. Lengan kokohnya menandakan bahwa ia tidak sama sekali tidak keberatan menggendong beban tubuh tunangannya.

Tentu saja jika Tita sadar apa yang dilakukan Juna sekarang pasti ia menolak mentah-mentah apa yang Juga lakukan. Sayangnya Tita terlihat pulas dalam gendongan Juna. Gadis itu tertidur didalam mobil setelah pertengkaran mereka terjadi, sepertinya ia kelelahan sehabis menangis.

Pegawai-pegawainya yang melihat adegan romantis itu hanya bisa tersenyum malu-malu melihat kelakuan bosnya yang seperti anak remaja kasmaran. Tidak ada rasa malu yang terlihat dari wajah bosnya, justru ia senang dengan kesempatan ini.

"Hey bro" sapa seseorang ketika Jika hendak menuju ruangannya. Langkahnya terhenti melihat seorang pria didepannya.

Siulan menggoda terdengar dari bibir seorang pria tersebut.

"Jangan menggangguku!!" Jawab Juna dengan wajah datar.

"Wow wow santai men, Relax...."

Juna sangat hafal sekali dengan kelakuan sifat sahabatnya ini. Ia pasti akan menggoda kelakuannya habis-habisan.

Romeo Anderson, sahabat sekaligus patner kerjanya yang sudah bertahun-tahun mengenal sosok Juna sejak jaman kuliah dulu di London.

"Rupanya sang putri sedang tertidur pulas dalam gendongan sang pangeran." Ledek Romeo terkikik geli melihat kelakuan sahabatnya.

Terlihat Tita merasa terganggu dengan suara tawa Romeo, ia menggeliat dalam gendongan Juna yang membuat Juna geram dengan Romeo.

"Kalau sampai dia terbangun, kau tahu akibatnya Romeo"

Romeo tertegun mendengar ucapan sahabatnya. Alarm tanda bahaya telah berbunyi di kepala Romeo. Ia tahu sahabatnya tidak akan main-main dengan ucapannya jika menyangkut tentang wanitanya.

"Okey sorry bro, aku akan pergi." Ujar Romeo sambil mengangkat kedua tangannya "semua berkas sudah ada di mejamu"

Romeo berjalan cepat menuju lift sebelum wanita pujaan sahabatnya itu terbangun.

***

Juna POV

Aku membaringkan Tita di sofa ruangan kerjaku dengan sangat hati-hati.

Membayangkan ketika dulu ia menjadi teman kecilku. Rasa sayangku telah berubah menjadi rasa cinta semenjak Tita beranjak remaja. Dia sudah menjadi pribadi yang mandiri dan berani, berbanding terbalik ketika kami sama-sama menempati rumah kami yang di Bogor. Dulu ia begitu manja dan sering menangis.

Aku mulai mencintai gadis ini dan berjanji tidak akan melepaskannya lagi. Berjauhan dengannya sangat menyakitkan seperti yang kurasakan ketika aku kuliah di London dan berpisah dengannya.

Dan ketika setelah mengetahui bahwa Tita sedang dekat dengan salah satu teman prianya di sekolah, bahkan ia sendiri yang menceritakan padaku jika mereka sudah berpacaran, aku segera menyusun rencana agar Tita terikat padaku. Katakanlah aku jahat agar Tita menikah denganku tapi ini semua aku lakukan karena aku tidak ingin kehilangannya. Aku tidak ingin pria lain memilikinya.

Sampai ketika aku bertemu langsung dengan Eza, pria yang disukai oleh Tita. Aku murka melihat kedekatan mereka. Tatapan Tita ketika melihat pria itu, berbeda ketika Tita menatapku.

Jika aku tidak melibatkan orang tua kami dalam rencanaku, mungkin bisa saja sekarang ia sudah bersanding dengan pria lain. Aku tahu Tita adalah orang yang sangat penurut terlebih dengan kedua orang tuanya. Maka dari itu aku melibatkan orang tuanya terutama mama Ana untuk menjalankan rencanaku.

Aku sendiri menyadari sifatku yang mulai berubah terhadapnya. Masa bodo jika orang-orang menyebutku posesif atau protektif kepadanya. Aku hanya tidak ingin siapapun merebut Tita dariku. Dan aku lebih cepat emosi jika Tita membantah ucapanku. Ini semua bermula ketika mantan pacarnya mengajak pergi bersamanya, jangan dikira aku tak tahu kejadian itu. Aku mendengar semua percakapan mereka. Dan sepertinya dewi fortuna berpihak padaku, Tita tidak akan mau pergi bersamanya karena ia pasti memikirkan perasaan kedua orang tuanya.

Tok..tok..Tok..
"Permisi Pak. Anda sudah ditunggu diruang rapat" ujar sekretarisku yang memasuki ruangan.

"Baik. Saya bisa minta tolong?" Pintaku.

Felisha hanya mengangguk.

"Tolong jaga tunangan saya yang sedang tertidur di sofa itu." Tunjukku kearah Tita yang masih tertidur di sofa yang tak jauh dari tempat dudukku.

"Iya Pak saya akan menjaganya."

"Jangan sampai dia keluar dari ruangan ini, setelah rapat selesai saya akan segera kembali." Ujarku dingin

"Baik pak. Silahkan Anda sudah ditunggu oleh para pemegang saham diruang rapat." Balasnya.

Aku melihat sekilas Felisha melirik sinis ke arah Tita. Ingatkan aku jika aku harus memecatnya segera mungkin. Aku tidak suka kepada orang yang berbuat seperti itu kepada Tunanganku. Jika sampai terjadi hal buruk kepada Tita selama aku tidak ada, dia harus menanggung akibatnya.

***
Tita POV

"Aku dimana?" Gumamku sambil melihat sekelilingku. "Pasti tadi aku tertidur di mobil Juna. Jadi aku sudah dikantornya."

"Jadi kau sudah bangun anak kecil" terlihat wanita cantik memasuki ruangan ini. "Aku tidak mengerti apa sih yang Juna liat darimu?" Sinisnya menatapku.

"Kamu siapa?" Tanyaku polos. Wanita ini cukup cantik tapi mengapa sepertinya dia tidak menyukaiku? Apa salahku kepadanya?

"Aku Felisha. Sekretaris Juna. Seharusnya aku tidak hanya menjadi sekretarisnya. Ini semua karna kau yang tiba-tiba muncul dihidupnya, seharusnya bukan kau yang menjadi tunangannya."

Dia mendekatiku dan mencengkram lenganku agar berdiri sejajar dengannya. "Lihat dirimu bahkan umurmu saja belum sampai 20 tahun. Dasar bocah ingusan."

Aku sudah tidak tahan dengan ucapannya yang merendahkanku. Aku mendorong tubuhnya dan cengkramannya terlepas dari lenganku. Mungkin lenganku sudah membiru sekarang karena ulahnya.

Aku membalas perbuatannya dengan menjambak rambutnya "Atas dasar apa tante menghinaku? Dasar tante-tante genit. Apa yang tante inginkan? Jika tante menginginkan Juna silahkan ambil saja. Aku bersyukur sekali jika tante berhasil mengambilnya dariku."

"Lepas anak kecil. Sakit...jangan sentuh rambutku." lirihnya

"Biar saja. Siapa suruh tante menghinaku." aku semakin memperdalam jambakanku ke rambutnya.

Dia berhasil melepaskan tanganku dari rambutnya dengan cara mendorongku. Aku terjatuh menabrak meja kayu yang tak jauh dariku. Kepalaku terbentur ujung meja yang lumayan tajam.

Darah segar menetes dari dahiku. Aku meringis menahan sakit.

"Hahaha rasakan dasar bocah. Kau tahu akibatnya jika melawanku."

BRAKK.. Pintu ruangan terbuka dengan kasar.

"APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN FELISHA? "

Tatapan membunuh dari Juna mengintimidasi Felisha yang sedang ketakutan melihat bos nya yang tiba-tiba masuk ruangan.

***

PRINCE IS YOUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang