Author POV
Pemandangan Rikugien Garden, Tokyo terlihat sangat mengagumkan. Cuaca yang bersahabat, tanaman yang cantik dan asri, dan danau yang jernih menyejukan mata siapapun yang melihatnya.
Taman yang terletak di ibu kota Jepang ini banyak dikunjungi turis-turis maupun penduduk asli di kota ini.
Seorang pria terlihat sedang menyendiri di dekat danau. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Seperti seseorang yang sedang banyak masalah. Kacamata hitam menutupi matanya, rambut-rambut halus yang menutupi dagunya dan kulitnya yang sangat eksotis. Mungkin penampilannya bisa dibilang terlihat kacau tapi tak menampik juga Ia terlihat sangat sexy.
Seorang pria berjalan menghampirinya, mengganggu kesendiriannya.
"Kau membolos lagi Mr. Pratama?" Tanya seorang pria berwajah oriental.
"Seperti yang kau lihat."
"Apa kau sangat merindukannya? Maksudku setiap kau tidak hadir di perkuliahan, antara kau sedang sibuk di kantormu atau kau sedang merindukannya. Pikiranmu kacau sehingga mengganggu konsentrasimu."
Pria itu tersenyum mendengar ucapan temannya. "Berhentilah membaca pikiranku."
"Berapa kali aku katakan, aku tidak bisa membaca pikiran. Aku hanya menebaknya saja."
"Lupakan masalahku. Sekarang aku baru menyadari kau semakin fasih berbicara bahasa indonesia. Apa kau ikut kursus?"
Pria berwajah oriental itu menggeleng. "Kau lupa aku memiliki paman yang berdarah indonesia. Dia sangat sabar mengajariku."
Mereka berbicara memandang danau. Menjernihkan sejenak pikirannya yang kalut.
"Mengapa kau ingin sekali belajar bahasa negaraku? Apa kau sedang menyukai wanita indonesia di kelas kita?" Tebaknya.
"Apa jika aku ingin belajar bahasamu itu artinya aku sedang menyukai wanita indonesia?" Elak pria berwajah oriental itu.
"Kau tahu maksudku. Kau pikir aku pria bodoh, aku tahu kau sering memperhatikannya. Jika kau benar menyukainya kejarlah, perjuangkan dia sebelum terlambat."
"Apa itu 'terlambat' ? Apa yang kau maksud Osoku ?" Pria bermata sipit itu terlihat bingung. Karena ia masih belum memahami benar kata per kata dalam bahasa indonesia.
"Kau tanyakan saja kepada pamanmu. Ayo lebih baik kita pergi dari sini. Bukankah banyak tugas yang harus kita kerjakan."
"Tunggu Eza. Kau tidak ingin menceritakan wanitamu? Wanita yang kau rindukan?"
Pria yang diketahui bernama Eza itu diam sejenak, mengingat kembali bayangan wanita yang dicintainya. Ia hanya menggeleng menolak bercerita dan perlahan meninggalkan temannya itu.
Deringan ponsel milik Eza berbunyi. Ia menghentikan langkahnya melihat sepupunya yang menelepon.
"Ada apa brother? Apa Kau merindukanku?" Eza terkekeh.
"Akhirnya aku bisa mendengar kau tertawa. Apa keadaanmu lebih baik?"
"Jangan mencemaskanku berlebihan. Aku bukan pria yang sedang putus asa."
"Aku tahu bagaimana perasaanmu, jangan kau tutupi lagi. Aku hanya berusaha yang terbaik untukmu. Setidaknya aku sudah berbicara dengannya."
Eza mencerna apa yang dikatakan seseorang di sebrang telepon. "Apa maksudmu? Berbicara dengan siapa?"
"A-aku ah lupakan. Aku harus segera kembali mengajar. Nanti kita sambung kembali." Jawabnya gugup seolah sedang menyembunyikan sesuatu.
"Kenan apa maksudmu? Jangan menghindari pertanyaanku." Kesalnya melihat sepupunya sudah mematikan ponselnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PRINCE IS YOU
Storie d'amore"Apakah aku masih boleh berharap kalau kau ditakdirkan untukku? Aku sudah menjalani pernikahan dengan pria yang tidak ku cintai.. Setelah takdir mempertemukan kita, kau sudah bahagia dengan wanita lain.." - Artita Anastasia Aviadi - "Kita sama-sama...
