Berpapasan dengan Nathan berlawanan arah di ujung koridor saat gue hendak ke kantin, cukup buat gue grogi. Entah kenapa gue kebanyakan groginya deh. Biasanya juga santai aja–bukan disebut santai lagi sebenernya, malah gue selalu naik darah. Nyaris buat gue berubah kaya psikopat gagal.
"Hai! Lagi mau istirahat ya?"
Bego! Sapaan macam apa tuh. Aneh, gak bermutu banget. Sumpah, pengen muntah gue. Duh, berasa nonton film tujuh puluhan gue. Jadul gila man!. Mungkin gue harus sering-sering bermurid ke Raka, temen seperjuangan Matt.
Kata Matt ‘kan dia player naudzubillah, mungkin gue bisa belajar baikin cowok. Sekalian bonus modusin cowok. Jago modus ke cewek, masa gak bisa modusin cowok. Ya gak? Aneh sih, kalo gue modusin duluan. Eh, gak juga. Jaman sekarang cowok-cewek sederajat kawan.
"Hello …," ucap Nathan membuyarkan lamunan gue begitu berada di depan gue. Melambaikan tangannya di depan muka gue. "Lo masih baik-baik aja ‘kan?" tanyanya memastikan. Gue menggeleng pelan. Memfokuskan mata. Melihat Nathan. "Oh, gue baik-baik aja kok. Kenapa?"
"Gapapa. Cuma, lo kebanyakan ngelamun."
"Masa' sih? Emang iya kali ya?" gue menggaruk tengkuk.
"Hm, lupakan." Nathan mengangkat kedua bahunya. Terjadi keheningan diantara gue dan Nathan. Hal yang paling gue benci. Hening, biasanya disusul soundtrack Jangkrik berkicauan. Sampai gue membuka suara. Mulai pembicaraan. Saat gue hendak mengucapkan sesuatu. Omongan gue kepotong.
"Eee … Der, duh, gimana ngomongnya ya?" Nathan tampak grogi kaya ada something what gitu.
"Apa sih?" tanya gue mulai kepo.
"Sebagai tanda terima kasih gue ke lo, gue pengen ngajakin lo jalan. Itupun juga kalo lo mau." lanjutnya sambil menggaruk sikunya.
Mendadak gue cukup terlonjak denger ajakan Nathan. Wow, momen langka banget Nathan ngajakin jalan. Apalagi yang jalan gue sama Nathan. Gue, Nathan.
"Mau! Gue mau kok!" menggerutuki diri sendiri. Goblok. Kenapa bisa gue terima ajakan Nathan. Huft. Kalo aja bukan karna games bodoh itu, gue ogah jalan sama nih cowok.
"Oke, ntar malem gue tunggu di tempat biasa gue nganterin lo. Jam tujuh."
"Okey." gue mengangguk sambil tersenyum. Menatap punggung cowok itu yang melenggang pergi dari belakang. "Mungkin kali ini, gue harus bersikap baik sama Nathan. Sampe buat dia kepincut ke gue, setelah itu … Tinggalin dia," gue tersenyum miring.
"cukup sadis. Tapi emang aturan mainnya gitu ‘kan?" pikir gue mengangkat kedua bahu. Berjalan nyusul Luna dan Keira di kantin.
Gue menyapu pandang ke sudut-sudut kantin. Berharap menemukan kedua curut warteg disana. Feeling gue emang selalu bener, kebetulan gue ngeliat mereka berdua di ujung. Entah kenapa mereka demen banget nangkring di ujung. Ada apaan sih? Mungkin lagi ngerefresh mata. Liatin cowok lagi basketan.
"Derin! Duduk lo!" sapaan terhalus Luna sambil menarik tangan gue untuk duduk begitu gue berada di depan mereka. "Apa?" tanya gue datar.
"Tadi gue liat lo sama Nathan di koridor loh? Ngomong apa aja?"
Gue melotot. Ternyata selain berprofesi sebagai pejuang cinta, Luna juga seorang penguntit sejati ya. Belum lagi Keira ntar apa lagi tuh. "Dari--mana lo tau?"
"Gak penting. Karna lo udah tau. Jadi jawab pertanyaan kepo gue tadi!" ucapnya gak sabaran.
Gue menghela napas. Memangku tangannya di meja. Menopang dagunya di atas punggung tangannya. "Nathan ngajakin gue jalan."

KAMU SEDANG MEMBACA
Games Over
Teen FictionDerin Alexa Adriana, gadis periang dan jutek yang terjebak dalam sebuah permainan konyol dari kedua sahabatnya, Luna dan Keira. Permainan yang menjerumuskan ke dinding permusuhan diantara ketiganya. Dilema, apa Derin harus tetap menjalankan misi te...