Author POV
Seminggu telah berlalu, membuat hari-hari indah dan berwarna Derin kini terhenti, terganti dengan kesuraman menyelimuti hati cewek itu. Setelah seminggu, kini saatnya Derin mengakui semuanya, termasuk permainan itu. Dan cewek itu tahu, dia tidak bisa mengelak, cepat atau lambat Nathan akan segera mengetahuinya. Tidak dari mulutnya langsung atau seseorang.
Dan hal itu akan berefek besar bagi keduanya. Tak ada lagi momen indah mewarnai hari. Yang ada hanyalah sebuah kesuraman mengganti semuanya yang telah berlalu.
Derin menggigit bibir bawahnya. Matanya masih ia pejamkan rapat-rapat seraya menundukkan kepalanya. Perlahan cewek itu menghembuskan napas beratnya. Tangannya masih tergepal rapat hingga kukunya memutih.
Kini, cewek itu sedang berada di taman belakang sekolah. Di depannya terdapat kedua sahabatnya. Saat ini, kedatangan merekalah yang Derin hindari. Tidak seperti biasanya, kedatangan keduanya yang biasa Derin nantikan.
"Ini udah seminggu," kini Luna mulai bersuara, memecah keheningan diantara ketiganya. "Lo belum jujur sama Nathan, Der."
"Gue tau." jawab Derin lirih. Tidak ada kata lain selain itu, saat ini kata sesingkat itu yang mewakili suaranya yang mendadak bungkam.
Keira menghela napasnya. Mulai menatap Derin lurus-lurus. "Gue tau, ngomong jujur ke Nathan emang gak mudah, itu sulit. Tapi gini, apa lo bakal terus-terusan bareng sama dia sementara lo, lo nutupin sesuatu dari dia, Rin, sama aja lo bohongin Nathan.
"Lo harus secepetnya ngomong sama Nathan. Dan gue tau endingnya bakal sama. Salah satu ataupun dua-duanya bakalan sakit. Tapi apa gak lebih salah kalau lo terus-terusan ngebohongin dia? Satu lagi, Nathan berhak tau soal ini." tegas Keira panjang lebar. Diantara ketiganya, hanya Keira-lah yang saat ini bisa mengerti keadaan. Termasuk soal perasaan. Keira tahu, Derin suka Nathan, begitupun sebaliknya. Jujur, cewek itu juga tidak mau mempersulit keadaan menjadi serumit ini. Tapi, jika waktu yang meminta, mereka harus apa?
Mendengar kata Keira barusan, mendadak Derin bungkam. Lidahnya terlalu kelu untuk mengucapkan sepatah katapun. Benar-benar tepat pada sasaran. Yang kini Derin rasakan hanyalah kebimbangan yang akhir-akhir ini menghantui perasaannya. Derin bingung, masalah cinta dan persahabatan yang ia bangun lama. Sangat sulit membedakan kedua hal itu, karna semuanya harus mengorbankan salah satu perasaannya. Itu miris.
"Der, gitu harap setelah ini lo bakalan jujur sama Nathan. Gue gak mau tau, besok atau sekarang lo harus udah nyelesein permainan ini." tandas Luna tiba-tiba. Bukan hanya Derin yang merasa kacau di hatinya, namun, begitupun juga Luna, setiap hari, dan setiap detiknya, cewek itu harus menahan perasaannya dalam-dalam tatkala menyaksikan Derin-Nathan.
Tertawa bareng, jalan bareng, pulang bareng. Dan, seneng bareng. Luna tidak bisa lagi menutupi rasa kecemburuannya. Hatinya telah panas melihat kebersamaan mereka. Ia tidak bisa terus-terusan begini. Dari dulu, Luna memang telah menyukai Nathan. Dan tidak bisa dipungkiri kalau perasaan itu belum hilang. Dan masih tertanam dengan kokohnya.
Mendadak pikiran Derin mulai memanas. Rahangnya mengeras sedetik setelah mendengar ucapan Luna. Ia tahu, Luna suka Nathan dan akhir-akhir ini dia harus memendam rasa cemburunya. Tapi, disaat seperti ini, apa Luna juga tidak bisa mengontrol ucapannya? Saat ini, sama halnya dengan Luna, Derin juga sedang kacau.
Dengan cepat cewek itu mendongak. "Kenapa sih? Lo gak pernah ngehargain gue, ha? Sedikit aja lo ngerti keadaan gue saat ini. Gue bukan anak kecil, gue juga tau kewajiban gue apa! Tapi satu hal, saat ini gue, pikiran gue, dan hati gue lagi kacau, Lun!" balas Derin kelewat tegas. Cewek itu tidak peduli jika Luna sahabatnya sendiri. Derin sangat emosi. Berkali-kali cewek itu sabar dengan tekanan Luna. Saat ini, Derin tidak bisa lagi menahan amarahnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Games Over
Teen FictionDerin Alexa Adriana, gadis periang dan jutek yang terjebak dalam sebuah permainan konyol dari kedua sahabatnya, Luna dan Keira. Permainan yang menjerumuskan ke dinding permusuhan diantara ketiganya. Dilema, apa Derin harus tetap menjalankan misi te...