Derin POV
Minggu pagi. Hari libur, senengnya bisa lepas dari pelajaran beserta peer melelahkan seminggu ini. Cukup cerah untuk mengawali hari. Melirik jam dinding di salah satu sisi ruang tamu. Menunjukkan angka sembilan kurang sepuluh menit. Gue mengambil napas, kurang sepuluh menit lagi Nathan jemput gue–bukan di rumah, tapi kaya biasanya. Mungkin gue harus berangkat sekarang.
Gue beranjak. Menyandang tas mini gue di salah satu pundak gue dan berjalan keluar. Tak lupa pamitan ke Bonyok gue. Menuju toko bunga depan kompleks.
Hari ini, gue mau ngelepas penat dengan ngunjungin pameran lukisan. Jadwalnya emang hari ini. Kebetulan pamerannya bagus banget. Rugi kalo gue lewatin gitu aja. Dan, gue kesana bareng Nathan, entah kenapa tuh anak pengen banget nganterin gue.
Bodo. Yang penting ada yang nganterin aja syukur alhamdulillah. Ngirit dompet.
"Udah lama?" tanya gue begitu sampai depan toko bunga. Berdiri sebelah Nathan yang udah duluan nyampe. Gue melirik jam tangan, jam segini, harusnya gue duluan yang nyampe.
Oh, Nathan terlalu niat banget buat nganter mungkin.
"Gue sengaja dateng awal-awal. Gue cuma gak mau lo nungguin gue lama-lama." jelasnya.
Aw, manisnya ... Ngebaper gue.
"Ya tapi 'kan jadi lo yang nunggu lama." tukas gue.
"Ilah, apa sih yang nggak buat lo?" Nathan mengedipkan matanya sebelah. Dan menampakkan senyuman itu, senyuman yang bisa memusnahkan hati cewek seketika. Tapi gak untuk gue, menurut gue senyuman itu lebih nampak mengerikan. Apaan senyuman itu emang pasaran. Diobral juga masih laku.
Nathan berjalan masuk ke mobilnya, begitupun gue. Di perjalanan gue hanya terdiam memperhatikan jalanan luar dari kaca mobil. Sesekali melirik ponsel. Sampai di depan gedung pameran, Nathan memarkirkan mobilnya rapi, tepat di sebelah mobil sport merah.
"Eeh, jangan turun dulu!" cegah Nathan sambil menahan pergelangan tangan kanan gue. Gue mengernyitkan kening, "Kenapa?"
"Bentar. Lo tunggu sini!" ucapnya sambil membuka pintu mobilnya, keluar. Gue menghela napas sambil mengangkat kedua bahu. Melirik pintu mobil, gue membukanya dan ikut keluar dari mobil.
Terlihat Nathan barusan bergerak di samping gue. Dia mendengus dan menatap gue bosan gak semangat. Gue hanya melempar tatapan tanya. Tuh anak kenapa sih?
"Ah. Ngehancurin suasana lo. Harusnya gue aja yang bukain pintu." gerutu Nathan seraya mencebikkan bibirnya. Oh, lucunya. Pake repot-repot bukain segala. Gue 'kan gak mau nyusahin.
Gue mengangkat kedua tangan sejajar dengan kepala. "Gak perlu. Gue masih punya tangan buat buka," gue menurunkan kedua tangan dan segera menarik Nathan masuk ke dalam gedung pameran tersebut.
Gue berjalan mengelilingi di setiap penjuru gedung dengan semangat. Memperhatikan bentuk-bentuk lukisan yang terpampang di setiap sudutnya, membuat gue terperangah dari gambaran dan segi perwarnaan di setiap lukisan tersebut. Belum lama ini, gue suka lukisan. Karna menurut gue, lukisan itu kaya sebuah penjiwaan dari hati.
Gue berhenti. Melihat salah satu lukisan di depan gue, lukisan yang menurut gue paling bagus diantara lainnya. Melukiskan tentang gadis pinggiran pantai, berdiri di tepian ombak di bawah indahnya sunset. Cantik dengan gaun putih serta topi mini di kepalanya. "Bagus ya?" gumam gue pelan. Masih memperhatikan lukisan itu.
Nathan yang tadinya di sebelah gue sambil melihat lukisan lainnya, kini ikut melihat gue sekilas, lalu beralih ke lukisan cantik yang gue maksud. Mengangguk, "Iya. Kamu suka?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Games Over
Fiksi RemajaDerin Alexa Adriana, gadis periang dan jutek yang terjebak dalam sebuah permainan konyol dari kedua sahabatnya, Luna dan Keira. Permainan yang menjerumuskan ke dinding permusuhan diantara ketiganya. Dilema, apa Derin harus tetap menjalankan misi te...