"DERIIIN!! CEPET TURUN KEBAWAH LO! DITUNGGIN MAMA PAPA NIH!" teriakan toa Adrian dari bawah mengawali aktivitas pagi hari Derin yang cerah. Derin mendengus sebal dengan tingkah kakaknya itu yang selalu teriak teriak gak jelas. Buru-buru Derin mempercepat langkahnya turun ke bawah.
"Iya, iya ah! Berisik lo!" ucapnya berjalan setengah berlari menuju ruang makan.
Seperti biasa, pagi hari, Derin berkumpul dengan keluarganya untuk sarapan bersama keluarganya. Kesel, Derin harus datang terlambat dan mendapatkan teriakan semeriah mercon tahun baru dari Adrian.
"Akhirnya, kanjeng ratu datang juga. Udah ngumpulin nyawanya? Lama amat!" ledek Adrian yang mendapat sentilan di kepala dari mamanya. Adrian mengaduh sambil mengelus-elus kepalanya.
"Heran, seneng banget ledekin adeknya. Kasian Derin, Yan. Derin sini, nak!" ucap Shinta, Mama Derin.
Mengangguk, menggeser kursinya di sebelah Adrian dan duduk. "Rasain lo." bisikknya di depan telinga Adrian. Adrian hanya mencibir, melanjutkan makan. Begitu pun Derin.
"Der, gimana sekolah kamu?" tanya Papa Derin.
Derin berhenti mengunyah makanannya. "Baik, Pa. Nilai Derin juga bagus"
"Oh, yasudah kalo gitu, yang penting nilai kamu jangan sampe turun. Ngerti, kan?" nasehat Papa Derin.
Derin mengangguk. Belum lama kemudian, memalingkan wajahnya ke luar. Terdengar suara klakson di iringi teriakan memanggil. Derin menghela napas, siapa lagi kalau bukan si kutu Matt.
"Noh, pangeran udah lo jemput." celetuk Adrian.
"Diem lo!" Derin memalingkan muka, menoleh ke mama papanya. "Pa, Ma, Derin berangkat duluan ya, Matt udah jemput." beranjak dari duduknya, mencium tangan mama papanya.
"Buru-buru banget, ajak Matt sarapan sekalian aja dulu, Der." tukas Shinta.
"Ah, gak usah ma, Matt udah sarapan kok. Berangkat ya Ma Pa." elak Derin, biar gak kelamaan gitu.
"Iya, hati-hati ya sayang!" ujar mama papa Derin.
"Gue gak?" Adrian menunjuk dirinya.
"Gak usah." Derin memalingkan muka, berjalan gontai ke depan rumahnya, sebelum anak itu marah.
"Oke gue udah siap!" Derin dengan sigap menaiki motor Matt.
Matt menoleh ke dalam, rumah Derin.
"Tumben, nyokap lo gak nyuruh gue sarapan dulu, nih? Padahal gue belum sarapan." ucapnya memelas.Derin membulatkan matanya, tergagap karna ia yang berbohong karna Matt sudah sarapan. Derin bingung,
"Lo pasti ngomong aneh aneh, kan?" tebakkan Matt benar.
"Ya, ya yaudah, sih! Sarapan ntar aja di sekolahan, kan banyak. Gue buru-buru, yaudah jalan." Derin mengelak.
"Hm,"
***
"Thankies, babang Matt! Gue masuk kelas duluan ya!" ucap Derin manis begitu sampai sekolah. Matt tersenyum paksa, "Kalo ada maunya aja." pikirnya sembari menatap punggung Derin yang menjauh.
Derin berjalan gontai menuju kelasnya, mencari kedua temannya, Gak ada. Ia keluar kelas, mencarinya di taman belakang tempat mereka biasa berkumpul.
Tampak dua sejoli duduk santai, sesekali tertawa di bawah teduhnya pohon kelapa, Derin menghampiri dua sejoli itu, Luna dan Keira. Heran, kedatangan Derin tak di gubris oleh kedua temanya itu. Seketika mereka berhenti tertawa, seperti memperhatikan sesuatu yang mereka kagumi.

KAMU SEDANG MEMBACA
Games Over
Roman pour AdolescentsDerin Alexa Adriana, gadis periang dan jutek yang terjebak dalam sebuah permainan konyol dari kedua sahabatnya, Luna dan Keira. Permainan yang menjerumuskan ke dinding permusuhan diantara ketiganya. Dilema, apa Derin harus tetap menjalankan misi te...