Enjoy :3
Menjelang ujian akhir...
"Diam, Bodoh! Kamu tidak akan pernah mendapatkan nilai A! Peringkatmu hanya peringkat sementara!" kata Tam kesal.
"Dan kau pikir kau akan lebih pintar dariku?" tanya Justin.
Tam merengut mendengar Justin menggunakan kata 'kau'. "Kau bedebah sombong sialan!" geram Tam marah.
"S... sudah," kataku gugup. Masalahnya kami sedang di perpustakaan dan mereka ribut luar biasa. "Tam, duduk disebelahku. Justin disini," aku meminta Justin duduk disebelah kiriku.
Tam mengacungkan jari tengahnya lalu duduk disebelah kananku. Kami mulai belajar dengan tenang. Aku melempar senyum ke Justin dan dia menghela nafas. Justin sibuk beberapa hari terakhir karena penerbitan buku ibunya. Aku juga membantu sesekali kalau ada waktu luang.
Tangan kanan Justin tiba-tiba mengenggam tangan kiriku. Semenjak Justin kidal, hal itu tidak masalah baginya. Dia meremas jariku-jariku dan aku merasa terangsang tiba-tiba. Kami memang tidak punya waktu untuk berhubungan seks semenjak saat itu. Hanya beberapa ciuman lembut. Dan.. sedikit sentuhan.
"Ddrrtt drrrttt...," HP Tam berbunyi dan dia langsung mengangkatnya.
"Astaga... haruskah sekarang? Aku sedang belajar...," desah Tam. "Baiklah, ya," Tam menutup telponnya.
"Ada apa, Tam?" tanyaku melihat wajah kesal Tam.
"Ada acara makan malam. Aku benar-benar harus ikut," dia menjejalkan bukunya. "Ayo kita bagi-bagi catatan nanti. Aku pergi dulu," kata Tam lalu melambai.
"Dah!" kataku dan Justin bersamaan.
"Ash...," Justin memanggilku sambil tetap menatap bukunya.
"Ya?" tanyaku.
"Bagaimana kalau kita tutup buku ini, lalu pergi ke rumahmu dan aku bisa bercinta denganmu kuat-kuat?" tanya Justin.
"H... hah?" tanyaku seperti orang bodoh.
"Aku merindukanmu. Aku merindukan berada didalammu dan aku ingin bercinta denganmu secepatnya," bisik Justin.
"Baiklah," aku menggigit bibirku.
~~~
"Cepat," Justin terengah-engah ketika aku membuka resleting jeansnya. Penisnya sudah terbebas sekarang dan dia menarik turun celana dalamku dan membuangnya. Dia mengangkat satu kakiku dan mendorong masuk penisnya kedalam vaginaku yang basah.
"Justin!" aku mencakar punggungnya yang dilapisi kaus.
"Oh yeah, Ashley..," dia mendorong dengan sentakan-sentakan pendek tapi dalam.
"Lebih cepat," aku memohon seperti orang gila dan Justin bergerak dengan cepat.
"Astaga Ash. Kamu dengar suara itu? Kamu basah," kata Justin.
"Kamu melarangku untuk masturbasi," kataku lalu memeluk Justin lebih erat.
"Karena akan terasa nikmat seperti ini," kata Justin.
Aku terdorong menabrak pintu dan Justin mendorong dalam. Aku menengadahkan kepalaku, berteriak karena rasa nikmat yang menjalar sampai ke ujung kakiku. Aku merasakan orgasmeku sudah dekat dan kali ini... aku ingin merasakan sperma Justin.
"Keluar didalam," kataku.
"Apa kamu minum pil?" tanya Justin.
"Kurasa. Aku tidak peduli," kataku asal.
"Kamu harus peduli," kata Justin.
"S... sekarang... aku... ah.... aku ingin spermamu," kataku.
"Seberapa besar?" tanya Justin.
"Sangat besar. Sangat mengingikannya," kataku.
"Baiklah," kata Justin lalu aku mendesah panjang, tanda klimaks-ku datang.
Justin mendorong 4 kali sebelum benar-benar berhenti. Aku merasakan penisnya berkedut, memompa spermanya kedalam vaginaku dan aku memeluknya erat. Dia menurunkan kakiku dan memelukku erat. Dia mencabut penisnya dan aku merasakan kebasahannya di pahaku.
"Astaga...," Justin mendesah.
"Ada apa?" tanyaku.
"Kenapa aku harus keluar didalam ck!" dia mendecak kesal.
"Aku minum pil. Bukankah lebih nikmat kalau menggoda sedikit?" tanyaku lalu menjulurkan lidah.
"Tam menularkanmu rasa humor rendahan," kata Justin lalu aku tertawa geli. Justin memelukku lalu tertawa juga.
~~~
Aku menekan dinding keramik kamar mandi yang dingin dengan kedua telapak tanganku. Suara pancuran yang meneteskan air gemericik memenuhi kamar mandi ini, bercampur dengan suara desahan kami, dan suara selangkangan kami yang bertemu.
"Oh Tuhan... ini nikmat sekali," kataku, masih bertumpu dengan dinding keramik yang tidak bisa kuremas itu.
"Ya...," Justin berbisik lalu menekan kedua tanganku. "Mengapa kamu begitu nikmat?" tanya Justin.
"Kamu juga," kataku lalu mendesah lagi. "Ahhh kamu membuatku gila," desahku, merasakan dorongan Justin yang begitu cepat.
Disinilah kami. Berdiri dikamar mandi dengan Justin dibelakangku, mendorong penisnya keluar masuk vaginaku dengan cepat. Nafas panasnya menyerang leherku dan kontras rasanya dengan rasa dingin yang menyentuh putingku dan perutku. Justin sudah membuatku klimaks 2 kali.
"Oh yes! Aku keluar...," Justin mencabut penisnya dam aku merasakan semprotan hangat spermanya di pahaku. Aku berbalik dan kami langsung berciuman.
"Mmh...," aku mendesah pelan.
"Ash...," Justin memanggiku. "Aku sayang kamu," kata Justin lalu menutup mulutku. "Jangan dijawab... aku tidak akan memaksamu. Aku paham kebimbanganmu dan pembuktian ini belumlah cukup. Jadi... kumohon... mantapkan hatimu," kata Justin.
Aku tersenyum lalu mengangguk. "Baiklah," kataku lalu kami berpelukan.
Hehe malam ini cukup sampai sini dulu yaa :3 Besok Author update lagi tapi belum tentu 3 chapter. Tergantung penasarannya sampe mana hahaha Jangan lupa vote and commen
KAMU SEDANG MEMBACA
Lost Stars
Fiksi PenggemarTidak ada yang ingin menjadi bintang yang tersesat. Tidak pernah terbersit dalam pikiran seorang Ashley Treslin kalau dia akan menjadi salah satu bintang itu. Hidupnya sempurna, keluarga bahagia, populer, pintar, dan harta yang paling berharganya, N...
