Part 30 : Not Such A Happy Ending

209 19 0
                                        

Enjoy x

Aku melambai ke Ayah dan Ibu yang pergi untuk meghadiri pekan donasi di aula. Mereka sedikit menggila ketika melihat luka-lukaku tapi terlalu terhormat untuk marah-marah seperti Paulina hihi...

"Minta maaf, sekarang!" terdengar suara perempuan tegas dan aku langsung berbalik.

Ada Melissa dan seorang wanita cantik berambut pirang. Sangat mirip dengan Melissa dan aku yakin itu Ibunya. Melissa merengut lalu berjalan kearahku.

"Hey," sapanya.

"Ya," jawabku datar.

"Aku minta maaf. Aku berjanji tidak akan menggangumu lagi," kata Melissa lalu menyodorkan tanganku. Woah, permintaan maaf yang SANGAT tulus.

Aku menatap kebelakang Melissa. Wanita cantik itu tersenyum tidak enak padaku tapi berusaha agar anaknya sendiri yang menyelesaikan masalahnya denganku. Aku memberikan senyum formal lalu kembali menatap Melissa.

"Ya, itu bagus," kataku lalu menyalami tangan Melissa sebentar dan berbalik. Semoga saja dia tidak akan menggangguku lagi. SEMOGA!

Aku duduk didekat lapangan dan tidak menemukan Justin kali ini. Mungkin ini terdengar payah, tapi aku baru menyadari bahwa Carol ternyata sering bermain dengan Justin. Aku benar-benar pengamat yang payah. Well, aku mulai sadar ketika sering ikut melihat Justin bermain basket. Kukira hanya saat itu saja, ternyata tidak.

"Hai!" sapa Paulina, mukanya agak sedikit kesal. Dia langsung duduk disebelahku.

"Hai," kataku lalu tersenyum.

"Lukamu oke?" tanya Paulina.

"Iya, ada apa?" tanyaku langsung.

"Sehabis rapat. Aku salah satu dewan di Gold Book. Ternyata orangtua Melissa memohon supaya Melissa tidak di skors dan tetap menjadi bagian dari Gold Book. Tidak sopan kalau menolak permintaan orangtuanya," Paulina melengos kesal.

"Sudahlah, tidak apa-apa. Dia sudah minta maaf," kataku.

"Seakan-akan dia serius," Paulina mengikat rambut merahnya. "Dia keterlaluan."

"Sudahlah," aku tersenyum manis. "Terimakasih," tambahku.

"Apapun," kata Paulina. Dia tiba-tiba berdiri. "Kamu mau jajan? Makan sesuatu?" tanya Paulina.

Aku baru hendak menjawab ketika melihat Justin, Carol, dan Alvin, serta teman-temannya yang lain datang dengan banyak makanan.

"Batalkan ajakanku! Kita makan gratis," kata Paulina lalu mengambil setusuk sosis dari piring Alvin. Alvin merengut lalu Paulina mengedipkan matanya. Kami duduk bersamaan dan saling bercerita.

"Kapan kamu pulang?" tanya Alvin.

"Lusa," jawabku senang.

"Woah, Justin akan kesepian," goda Carol.

"Tenang," Alvin melingkarkan tangannya lalu menggerakkan keatas dan kebawah seperti orang masturbasi.

"JOROK!" kata Carol malu.

"Tenang saja, Justin masih punya lotion dan tisu. Cukup untuk menampung spermanya," goda Paula lalu mereka tertawa kencang sementara Justin menggeleng-geleng malu dengan ulah teman-temannya.

Aku terdiam melihat Melissa yang datang kearah kami sambil membawa selembar kertas. Mereka perlahan-lahan sadar dan kami terdiam.

"Ada apa?" hardik Paulina.

"Ini alasan aku marah besar padamu! Mungkin aku memang kekanak-kanakan tapi aku berusaha menahan emosiku!" kata Melissa lalu menyerahkan kertas itu didepan mataku.

"Apa itu?" tanya Carol penasaran.

Aku langsung membaca kertas itu sementara yang lain terlihat sangat penasaran, bahkan Justin.

"Apa isinya, Ash?" tanya Justin.

Aku menatap Justin dengan tatapan tidak percaya. "Itu kertas yang menyatakan kalau aku hamil anak Justin. Aku baru mengetahuinya juga! Aku menyimpan buktinya untuk jaga-jaga," kata Melissa.

"Hey!" Alvin melotot.

"Hat-hati kalau bicara!" tambah Carol.

"Cek saja. Aku sudah punya buktinya. Aku hamil anak Justin! Justin itu milikku, bukankah sudah kubilang sebelumnya?" tanya Melissa.

"Jangan bercanda. Kita bahkan... tidak..."

"Kamu tidak ingat! Tentu saja! Kamu mabuk! Ketika Ashley pulang ke Amerika, kita bertemu dan kamu mabuk!" kata Melissa. "Aku punya DNA-mu. Kamu tidak bisa menolak!" kata Melissa lalu tersenyum penuh kemenangan.

Aku berdiri lalu berlari meninggalkan mereka. "Ashley!" panggil mereka.

Justin mengejarku dan menarik tanganku. "LEPASKAN!" teriakku lalu menepis tangan Justin kasar.

"Aku bersumpah! Aku... hanya minum sekali! Aku bahkan tidak mabuk! Itu pesta temanku dan aku hanya minum sebagai formalitas! Percayalah padaku, kumohon," kata Justin. Wajahnya begitu tegang.

"Dia... punya DNA-mu. Spermamu," kataku bergetar. Rasanya hatiku begitu sakit. Aku sangat ingin berteriak kuat-kuat.

"Kumohon! Percayalah padaku!" kata Justin putus asa. "Kumohon! Dia menjebakku!"

"Lalu bagaimana dia mendapatkan spermamu?? Apa dia memberikan blowjob gratis untukmu??" teriakku.

"Ashley, Sayang?" panggil Ibu khawatir. "Ada apa?" tanya Ibu.

"Aku ingin pulang ke Amerika, sekarang," aku menarik tangan Ibu yang sempat menatap Justin bingung.

"Ayo, Ashley," Ayah merangkulku, saling melempar pandang bingung dengan Ibu.

"Ashley! Kumohon!" teriak Justin.

Jangan lupa vote dan comment x

Lost StarsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang