Part 15 : Uninvited Guest

391 20 0
                                        

Bukan bagian penting cerita sih, selingan penambahan tokoh aja hehe... Enjoy guys! :3

Singkat cerita, mid tes sudah selesai dan nilaiku sangat memuaskan. Meskipun hasil peringkat sementara menunjukkan aku tidak menjadi peringkat satu, peringkat dua sudah lebih dari cukup bagiku. Tam menjadi peringkat pertama, tak peduli seberapa dia mengeluh tidak belajar dengan cukup. Menurutku, tanpa belajarpun, dia akan mendapatkan peringkat 10 besar.

Justin sendiri akhirnya berhasil mendapatkan peringkat 8 dan seharian ini, dia sibuk pamer ke Tam yang masih kaget bukan main dengan perolehan nilai Justin. Tam bahkan menuduhku memberikan contekan ke Justin.

Anyway, semenjak kejadian aku seks dengan Justin, hubungan kami tidak ada perubahan drastis. Entah aku harus bersyukur atau tidak, yang jelas aku senang dengan keadaan seperti ini. Dia tidak membuatku merasa aneh. Justin sendiri lebih fokus untuk mempertahankan nilainya dan mempersiapkan diri untuk ujian akhir semester ini.

"Hey," sapa seorang gadis cantik.

"Hey," kataku.

"Aku mendengar rumor... oh maaf, namaku Paulina. Aku senior, 1 tahun diatasmu," katanya lalu kami bersalaman.

"Hai, Paulina," aku tersenyum kecil.

"Aku ingin mengucapkan selamat atas peringkatmu. Itu mengagumkan. Aku juga pemilik Gold Book dan... kelas kita dinilai sebagai orang-orang kaya bodoh. Tapi kamu sudah membuktikannya dengan baik," bibir pink segarnya itu melengkung lagi, membentuk senyuman.

"Ya... penilaian seperti itu agak sulit," aku mengangguk setuju.

"Kembali ke topik utama, apa kamu berpacaran dengan Justin? Justin Bieber?" tanyanya.

Aku menatapnya. Dia tidak memiliki niatan membully, sepertinya. "Tidak, ada apa?" tanyaku.

"Syukurlah. Kamu gadis baik, jadi jangan terpengaruh oleh orang seperti dia," Paulina mendekat. "Dia brengsek. Aku dulu pernah berhubungan seks dengannya beberapa kali. Hanya itulah yang dia butuhkan dari perempuan. Vagina, dada, dan desahan," bisik Paulina hati-hati. "Aku tidak berniat mencampuri hubungan kalian, tapi kumohon, pikirkan hal ini baik-baik. Mempertahankan nilai sebagai pemilik Gold Book itu sangat penting dan.. orang seperti Justin adalah gangguan. Aku menilaimu sebagai orang baik. Nikmati makan siangmu," jemari lentiknya melambai dan dia berjalan pergi.

Aku menatap makan siangku dan tiba-tiba kehilangan nafsu makan. Paulina tidak terlihat seperti orang jahat. Secara teknis, dia hanya membagi pengalamannya.

"Sial, nafsu makanku hilang," aku mendorong nampanku dan menghela nafas.

~~~

"Ting tong...," bel kamarku berbunyi.

"Sebentar!" kataku lalu berlari tanpa membuka celemekku. Aku baru saja akan memasak untuk makan malam nanti. "Wow... Greg!" kataku senang lalu memeluknya.

"Hey apa kabarrr!" kata Greg riang.

"Greg! Aku senang kamu disini! Maaf," kataku lalu melepas celemekku dan menariknya masuk. "Apa yang membawamu ke Kanada, Greg?" tanyaku, mempersilahkan Greg duduk. Dia terlihat senang dengan meja tamuku yang tanpa sofa alias duduk di lantai.

"Pekerjaan. Aku memutuskan untuk datang dan memberikan kejutan," kata Greg.

"Kejutan!" kataku senang. Aku berlari untuk memberikan minuman dan makanan kecil. "Silahkan," kataku.

"Thanks. Kamar ini keren. Kamu merawatnya dengan sangat baik," kata Greg senang.

"Kamar yang indah juga butuh perawatan lebih," kataku senang.

Greg tersenyum manis. "Bagaimana kabarmu? Kuliahmu?" tanyanya.

"Dua duanya baik. Kamu?" tanyaku.

"Aku juga baik," Greg menatapku. "Niall akan senang kalau tau kamu baik-baik saja, sungguh," katanya lalu mengelus tanganku lembut.

"Tentu. Aku harus tetap bahagia," kataku, lega karena senyumku tidak palsu seperti biasanya. Aku menatap Greg yang mirip dengan Niall lalu balas menggenggam tangannya. "Apa kamu akan lama disini?" tanyaku.

"Sebenarnya tidak. Faktanya, aku harus pergi 5 menit lagi," kata Greg.

"Kenapa?" aku merengut.

"Ada pekerjaan yang harus keselesaikan. Maafkan aku, Ashley," kata Greg.

"Aku kira kita bisa jalan-jalan sebentar," kataku sedih.

"Mungkin lain kali, oke?" Greg menghabiskan minumannya. "Lebih baik kamu lanjutkan acara memasakmu," kata Greg.

"Tidak bisa makan bersama?" bujukku.

"Aku janji, lain kali, oke?" kata Greg tidak enak.

"Baiklah... aku akan mengantarmu," kataku lalu tersenyum.

"Jaga diri baik-baik," kata Greg lalu memelukku erat.

"Jaga dirimu juga. Salam untuk Denise dan little Theo," kataku.

"Akan kusampaikan. Daahh," kata Greg riang.

"Dah!" kataku senang.

Aku menatap Greg sampai dia masuk ke taksi yang menunggu dan melambai. Mataku tiba-tiba menatap Justin yang duduk diatas kap mobilnya. Dia menatapku dari balik kacamata hitamnya.

"Hei," sapaku bingung.

Justin berjalan kearahku. "Siapa itu?" tanya Justin datar.

"Kakak Niall," kataku jujur. "Kamu darimana?" tanyaku.

Dia diam saja dan menyerahkan sebotol jus. "Mengurus restoran Ibu. Aku akan pergi lagi," kata Justin lalu berbalik.

"Pergi ke restoran atau bertemu perempuan?" tanyaku.

Justin berhenti lalu berbalik. Dia melepas kacamatanya lalu menatapku tajam. "Apa itu pertanyaan? Aku tidak menemui siapa-siapa!" kata Justin meninggi.

"Baiklah. Jangan meninggikan nadamu," kataku lalu membuang tatapanku.

"Jaga nada bicaramu juga, Nona! Aku datang kesini untuk mengantarkanmu jus itu dan sekarang kamu menuduhku menemui orang lain?" tanya Justin.

Aku merengut lalu dia menghela nafas. "Aku..."

Justin tiba-tiba menciumku dan aku langsung merasa lemas sekali dipelukannya. Kami pun saling mencium dengan nafsu lalu Justin melepaskan ciuman itu.

"Sebuah kata terimakasih akan membuatku senang, Nona," Justin menatapku tajam.

"Terimakasih," kataku malu.

"Mungkin kamu hanya ingin ciumanku. Aku sudah terlambat. Aku akan menemuimu nanti," kata Justin lalu melambai.

"Hati-hati," kataku sambil menahan rasa senang yang tiba-tiba memenuhi dadaku.


Pendek ya? Maaf ya hehe Jangan lupa vote dan comment ya :3

Lost StarsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang