membuka hati ?

330 43 0
                                        

"Ssshhhhhh !" Sehun mendengus kesal. Pasalnya,sudah 30 menit lewat 51 detik ia mengobrak abrik lemari,laci ataupun meja kerjanya, mencari dokumen yang menurutnya begitu penting,tapi entah dimana keberadaan dokumen tersebut. Sehun telah sampai dirumah,ia ingin mencari data tentang salah satu muridnya,Yoona. Ia membutuhkan nomor telepon gadis itu,sudah jam 4 sore tapi Hani belum juga pulang,Sehun cemas.
Ia menarik salah satu laci dimejanya,menggeser beberapa buku,sampai akhirnya ia menemui sebuah figura foto dengan keadaan terbalik. Figura itu masih tersimpan rapi disana. Tergeletak tanpa ada yang berniat membangunkannya.
Entah apa yang terjadi pada Sehun,ia mengambil figura itu, membaliknya untuk melihat foto yang terlukis disana, jangankan menyentuhnya, melirik foto itu saja Sehun tidak tertarik. Tapi berbeda dengan sekarang, Sehun memperhatikan lekat lekat foto itu,terdapat dirinya,Heerin dan Hani disana. Saat itu Hani masih berusia 2 tahun, Heerin menggendongnya dan Sehun memeluk pinggang Heerin dari belakang. Terlihat jelas disana betapa bahagianya Sehun dan Heerin. Betapa banyak pancaran sinar kesenangan. Sehun memejamkan matanya, menarik dalam dalam nafasnya dan menghembuskannya secara kasar. Sehun mencampakan begitu saja figura yang tadi ditangannya. Seperti menyesal telah menyentuh benda itu.

Otaknya memaksa untuk mengingat kejadian 5 tahun lalu. Kejadian yang menghancurkan kepercayaannya selama ini kepada Heerin yang saat itu masih menjadi istrinya.
Masih tergambar dengan jelas, bagaimana ia melihat Heerin hanya berdua dengan pria lain dikamarnya. Diranjangnya, ranjang yang ia tempati bersama Heerin. Sehun masih mengingat seluruhnya, bagaimana ia menarik pria yang posturnya lebih kecil darinya itu untuk menjauh dari ranjangnya, bagaimana ia membuat hidung pria itu berdarah, ada rasa ingin membunuhnya saat itu juga. Dan Sehun masih mengingat jelas bagaimana Heerin menangis sambil menarik Sehun,berteriak agar Sehun menghentikan aktivitasnya.

Sehun yang saat itu masih diselubungi rasa marah,cemburu dan emosi yang meletup letup dengan tidak sadar menampar pipi kanan Heerin. Heerin tidak melawan,ia malah membantu pria yang sudah terkapar tak berdaya itu untuk berdiri,menjauh dari Sehun,sebelum pria itu melakukan hal yang tak diinginkan.

Sehun menjambak rambutnya frustasi. Ia mengacak acak rambutnya, ia tak ingin mengingat kejadian itu. Tidak ! Cukup sudah! Ia sudah tau bagaimana rasanya dikecewakan,dihancurkan secara perlahan. Sehun mengerti semua itu. Ia terduduk dikursi kerjanya, mencoba menetralisir nafasnya. Tapi ucapan sang ibu kemarin sore saat ia berkunjung masih terngiang diotaknya.

'Carilah pengganti Heerin. Kau tidak bisa menjaga Hani seutuhnya. Hani membutuhkan kasih sayang seorang ibu'

'Brakk'

Sehun menjatuhkan beberapa buku dengan halaman yang cukup tebal dari mejanya. Betapa banyak beban yang ia tanggung.
Haruskan ia membuka hatinya kembali?
Siapkan dia untuk jatuh cinta lagi?
Siapkah dia dengan segala resikonya?
Siapkan dia untuk kembali dikecewakan?

Tidak ! Sehun belum siap untuk itu semua.
Puzzle hatinya belum tersusun dengan benar sekarang,ia tak ingin puzzle itu hancur lagi dan sehun harus menyatu-nyatukan kembali untuk bentuk yang sempurna.

'Untuk saat ini. Aku belum siap untuk kembali membuka hati'

ThankyouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang