a/n: yang di garis miring itu flashbacknya Nathan, malam setelah dia bertengkar sama Ana sama malam setelah paginya ketemu Jessica sama Elle. Kalo kalian lupa kenapa Ana bisa marah dan kenapa bisa kenalan sama Elle, kalian bisa liat chap 25a sama b. Dan yang ga di garis miring itu reaksi Nathan habus facetime di chap 29b. Sebenernya rada ga ngaruh sih, tapi ya fyi aja siapa tau bingung hqhqhqhq ;))
***
Nathan's POV
Sial, sial, sial.
Hari ini adalah hari - hari terakhirku bersama Abiana sebelum akhirnya aku berangkat ke New York, dan gadis itu malah merajuk kepadaku karena masalah aku tak pernah bercerita kepadanya masalah Jessica. Aku tahu aku salah, namun aku tak tahu mengapa, aku sedikit merasa muak kepada Abiana karena pertengkaran ini. Aku menyadari bahwa Abiana sedikit kekanak - kanakan sekarang. Aku merasa bahwa aku sedikit, bosan dan jenuh, eh?
Ah, tidak mungkin. Aku adalah lelaki setia yang tidak akan mungkin menyakiti Abiana hanya karena aku bosan dengannya. Tidak mungkin.
"Hei, dudes. Jangan melamun. Kau minum malam ini?"
Tiba - tiba John duduk di sebelahku dan menyodorkanku satu botol bir yang tanpa pikir panjang langsung aku terima. Aku pun jadi tersadar bahwa aku sedang berada di pub malam bersama teman - temanku sekarang. Mungkin dengan sebotol bir perasaanku akan sedikit lebih tenang dan aku dapat berpikir jernih akan masalahku dengan Abiana. Mungkin saja.
Aku menegak bir dengan cepat sampai akhirnya aku merasakan sofa yang aku duduki bergerak, yang menandakan sebelahku tak lagi kosong dan ada yang menempati. Aku menoleh sejenak, lalu menemukan Jessica dan temannya yang aku rasa bernama Elle sedang duduk dan mengobrol akrab dengan para temanku.
Sialan, Jessica lagi.
"Hei, Nathan. Ada mantanmu. Kau tidak mau menyapa?" tanya Bob yang membuat Jessica tersenyum malu dan aku membuang mukaku dan tersenyum kecut.
Anthony Nathan memang menyebalkan saat sedang setengah mabuk dan frustasi.
Aku terus meminum bir sampai botol ketiga. Disini kesadaranku sudah mulai di ambang batas. Pikiranku juga sudah mulai berpencar kemana - mana, tidak lagi memikirkan Abiana dan permasalahanku. Aku juga mengedarkan pandanganku, yang ternyata berakhir di gadis bernama Elle-gadis yang baru kukenal tadi siang dan sekarang tak henti - hentinya menatapku dengan tatapan intens sambil sesekali menggigit bibir bawahnya.
Oh, apakah dia sedang menggodaku?
Aku menggelengkan kepalaku sejenak, berusaha mengenyahkan pikiran terakhirku itu lalu menegak bir ku lagi. Namun entah kenapa, mungkin karena efek alkohol yang membuatku mulai mabuk, pandanganku tak henti - hentinya jatuh kepada sosok Elle itu-yang sekarang menatapku sembari mengobrol dengan Jessica. Aku tak tahu dewa fortuna sedang jatuh padaku atau tidak, namun beberapa saat kemudian, Elle tampak menghampiriku dan duduk di sebelah kananku yang kosong sembari memegang bir miliknya.
"Hai, Nathan" sapanya dengan tersenyum sembari mengusap lenganku. Otomatis, aku sedikit merinding dan tersenyum kepadanya.
Sialan. Ada apa denganku.
"Hai, Elle?" jawabku, yang tanpa kusadari dengan suara serak.
Sialan lagi.
Elle hanya mengangguk dan tersenyum, yang aku balas dengan senyuman sembari aku meneguk lagi bir ku, kali ini memasuki botol keempat. Aku tahu aku sudah mulai mabuk dan jika aku minum lagi bisa saja terjadi hal - hal bodoh. Namun kali ini aku tak peduli, aku hanya ingin bebas untuk malam ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Incandescent. [Discontinued]
Roman pour AdolescentsDua keberuntungan yang didapat seorang Theresia Abiana adalah: 1. Mendapat Beasiswa di International Boarding School 2. Satu kamar dengan senior tampan yang memiliki mata hijau memabukkan, hidung mancung, bibir merah muda, dan garis rahang yang taj...
![Incandescent. [Discontinued]](https://img.wattpad.com/cover/34165327-64-k395392.jpg)