8-1 Dream

188 30 24
                                        

Hari ini banyak wartawan dari majalah-majalah, koran, bahkan hingga stasiun TV datang ke SMA Dong Ah. Mereka semua mewawancarai Kepala Sekolah Shin dan Hakyeon mengenai program penerimaan khusus yang Dong Ah gelar.

Wartawan itu mengatakan kalau seorang murid program penerimaan khusus yang dapat merevolusi sekolah bergengsi seperti Dong Ah itu bisa menjadi topik yang sangat menarik dan menginspirasi orang lain, dan menyuruh Hakyeon mengatakan hal yang ingin ia capai selama menjadi Ketua OSIS.

Di depan banyak wartawan, Kepala Sekolah Shin, OSIS, Minerva, dan siswa lainnya ia mengatakan, "Mulai saat ini kami para siswa ingin memikirkan diri kami sendiri dan membuat sekolah menjadi tempat menyenangkan dimana setiap orang saling mencintai dan memiliki mimpi." Ucapan itu tentu disambut tepuk tangan dari OSIS dan yang lain.

Setelah itu para wartawan itu sibuk mewawancarai Hakyeon sedangkan Kepala Sekolah Shin kembali ke ruangannya bersama Wakil Kepala Sekolah. Wakil Kepala Sekolah mengatakan kalau ia khawatir jika kini para siswa itu bersatu.

"Anak-anak yang bersatu adalah hal buruk. Mereka bagaikan mobil tanpa rem, ketika mereka mulai berjalan tidak ada yang bisa menghentikan mereka," keluh Wakil Kepala Sekolah.

"Jika Anda terus mengganggu mereka, saya lebih suka Anda yang meninggalkan sekolah ini. Terima kasih atas pekerjaan Anda yang telah meningkatkan manajemen sekolah," balas Kepsek Shin.

"Satu-satunya yang akan meninggalkan sekolah bukanlah saya tapi Anda. PTA sudah memberikan saya kuasa, pengendalian anak tanpa rem akan menjadi kebijaksanaan sekolah. Tidak ada yang percaya kepada Anda lagi. Kita masih belum mengetahui identitas orang itu dan sebelum hal buruk terjadi anda lebih baik mengubur program ini."

"Aku sedang menyelidiki gadis itu," ucap Kepsek Shin.

"Dalam hal apapun, cita-cita konyol Anda akan menghalangi jalanku," balas Wakil Kepala Sekolah.

" Tapi aku ingin mengetahui apa hubungan gadis itu dengan ketua OSIS kita."

Besoknya pagi-pagi sekali, Hakyeon dengan bangganya menunjukkan kepada Kyungri artikel yang meliputnya. Gadis itu hanya melihat-lihat artikel itu dan meletakkannya di meja.

"Lalu? Kau mau aku komentari? Pertama, senyummu itu terlalu lebar. Kedua, kacamata botolmu itu sudah berapa kali aku bilang untuk melepasnya dan menggantinya dengan lensa kontak?" tanya Kyungri.

"Kau tidak pernah bilang, lagipula mana aku tahu kalau wartawan itu datang untuk mewawancaraiku ketika aku memakai kacamata," jawab Hakyeon.

"Yah ... lagipula kau sudah menjadi idol di sekolahmu sekarang."

"Bukan itu tujuanku." Hakyeon kemudian mengambil kembali artikel itu dan duduk di sofa, "Selain itu ada satu hal yang ingin kutanyakan ... kakimu ... sebenarnya sudah sembuh kan?" tanya Hakyeon.

"Hanya karena aku berdiri kau pikir aku sudah bisa melompat-lompat hah?" Hakyeon menggeleng.

"Aku ingin tahu apakah kau bisa berdiri sejak awal."

"Eii ... kau terlalu curiga, aku tidak bisa berdiri selain yang kemarin," ucap Kyungri sambil menjalankan kursi rodanya menghampiri Hakyeon.

"Kalau begitu sejak kapan?"

"Hmmm ... secara medis sudah membaik beberapa waktu yang lalu."

"Lalu kenapa?"

"Mungkin karena alasan psikologis, aku tidak punya keinginan untuk bisa berdiri."

"Lalu apa yang membuatmu punya keinginan seperti itu?"

"Kau bilang kau hanya bertanya satu hal kan? Sekarang kau sudah berapa kali bertanya huh?"

[VIXX FF] The Boy's SpeechTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang