4. Pacar Lima Langkah

2.3K 144 4
                                    

4. Pacar Lima Langkah.

Pacarku memang dekat

Lima langkah dari rumah

Tak perlu kirim surat

Sms juga gak usah

Kalau rindu bertemu

Tinggal ngomong depan pintu

Tangan tinggal melambai

Sambil bilang 'halo sayang'

Lala menyanyikan lagi dangdut berjudul Pacar Lima Langkah itu di balkon kamarnya yang langsung berhadapan dengan balkon kamar Erfan. Jarak kamarnya tidak begitu jauh, hanya lima meter dan dipisah dengan jalan raya. Jadi tidak perlu risau akan terdengar oleh Erfan atau tidak. Pasti terdengar kan? Belum lagi suara Lala yang cempreng menambah kedahsyatan lagu itu.

Setiap Lala melakukan hal konyol macam itu, dia selalu ditemani gitar kesayangannya yang berwarna merah muda serta segelas susu coklat dingin yang ia buat di dapur.

"Udah dulu kali kodenya. Bukain dulu tuh pintu buat temen-temen lo masuk," goda Adeo yang nongol dari balkon kamar sebelah. Sangat dekat sekali dengan balkon kamar Lala. Bahkan dulu perempuan berambut sepunggung itu bermimpi, andai saja yang mengisi kamar sebelah adalah Erfan.

Lala terkekeh melihat teman-temannya yang masih duduk di jok motor mereka masing-masing. Tampak jelas bahwa mereka sangat kesal sebab Lala belum membuka gerbang saat mereka memanggil namanya. Dan itu lima menit yang lalu.

Ia langsung turun begitu sebuah botol plastik dilempar oleh Steffi.

"Bukannya bukain, malah nyanyi-nyanyi lo, Tai," kata Rania yang membawa motor matic berwarna biru dan Lintang dibagian boncengannya.

"Ngurusin noh pacar lima langkah yang kagak peka-peka," sahut Steffi yang membawa motor sendiri. Dia menunjuk rumah putih bercampur abu-abu yang berada tepat didepan rumah Lala.

"Berisik lo. Lagian pada gangguin gue mulu kayak si Adeo," ucap Lala menunggu Steffi dan Rania memasukan motor kedalam halaman Lala yang cukup luas.

"Heh! Turun, bego! Dikata kagak berat apakali," kepala Rania menoleh kebelakang.

Lintang yang baru menyadari itu nyengir sambil mengangkat tangan kanan dan mengacungkan jari jempol serta telunjuknya. "Lupa."

"Kita rumahnya jauhan aja main mulu. Gimana kalo deket kali ya? Nginep setiap hari," ucap Steffi girang.

"Yee itu sih mau lo," seru Adeo. Dia melempar Steffi menggunakan kulit kacang.

"Kadang gue lupa ni kamar punya siapa," gumam Lala seraya mengganti chanel televisi. Sekarang mereka sudah dikamar Lala. Dimana tempat mereka biasa menghabiskan banyak waktu.

"Milik kita bersamaaaaaaaa.." celetuk Lintang yang sedang mengambil minuman dingin di kulkas kecil milik Lala yang berada di atas nakas samping tempat tidur.

Lala menghempaskan tubuhnya ke kasur. Menutup matanya agar dia merasa lebih tenang. Namun itu tidak mungkin terjadi, karena selama masih ada teman-temannya. Hidup dia tidak akan tenang sedikitpun.

"Erfan keluar dari rumah tuh, La " ucap Rania sedikit kencang. Tidak perduli Erfan di bawah sana mendengar atau tidak. Toh, sepertinya laki-laki itu sudah tau kalau Lala menyukainya. Sangat jelas dari tingkah Lala yang memang suka kecentilan.

Lala tidak bangun. Perempuan berkaus biru itu hanya bergumam tidak jelas. Sangat malas menanggapi ucapan Rania barusan. Tidak seperti biasanya.

"Kan Erfan udah punya pacar, Ran. Gimana sih lo."

Rania menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal ketika mendengar perkataan Steffi. Ia baru ingat. Tadi saat mengantarkan buku, Erfan terlihat sedang berduaan bersama seorang gadis dikelas. Saat ditanya pada teman dekat Erfan, laki-laki itu menjawab bahwa perempuan yang sedang bersama itu adalah pacar Erfan.

"Nggak usah diomongin dan diperjelas gitu dong!" Lala bangkit dan memukul Steffi yang sedang memakan coklat batangan menggunakan guling.

"Biasa aja kali!" Steffi meletakan coklatnya dan membalas Lala dengan guling yang satunya lagi.

"Eh! Heh! Bentar! Bentar!" Lintang melerai aksi kedua temannya itu. Tapi tidak berpengaruh sama sekali.

"WOY! DIEM DULU NGAPA! DENGERIN GUE NGOMONG!!!" perkataan Lintang mampu membuat Lala maupun Steffi membuang guling jauh-jauh dan mengangkat kedua tangan pertanda menyerah. Naas, guling itu mengenai Adeo juga Rania.

"Punya mata gak, Njing?"

"Lo belum pernah ke timpuk gagang sapu, ya, kayaknya?"

Lintang tersenyum senang. Ia mengambil handphonenya yang sempat dia taruh di kasur. "Nama Instagram ceweknya Erfan @Ritatha_ bukan?" tanya Lintang pada Lala dan perempuan yang hatinya tidak sedang baik itu mengangguk.

"Mereka udah putuuusss." Lintang memberikan ponselnya kepada Lala agar perempuan itu melihatnya sendiri.

"Masya Allah, rasanya tau dia jomblo lagi tuh kayak ngebelah atmosfer berlapis-lapis, meluncur bareng paus akrobatis, terus ngebut ke rasi bintang paling romantis," ucap Lala jingkrak-jingkrakan sendiri.

"Kayak pernah denger di iklan." Rania mencoba mengingat-ingat.

"MAMA PULANG. SAYANG, KAMU DIMANA?"

Suara khas ibu-ibu milik Zania—Mama Lala—itu terdengar dari lantai bawah membuat anak perempuannya membulatkan mata. Ia buru-buru turun untuk menjumpai Mama dan mungkin juga Papanya yang pulang satu minggu sekali terkadang.

"Mama pulangnya lama banget sih. Lala kan kangen." Lala memanyunkan bibirnya. Tapi dia tetap memeluk Zania.

"Lebay deh. Itu di ruang tamu, ada oleh-oleh buat semua temen kamu. Trus juga, ada buat Erfan dan Erin. Tolong dikasihin, ya." Zania melepas pelukannya dan berjalan menuju kamar wanita itu yang tidak jauh dari tangga. Sebelumnya, ia tersenyum pada Lintang, Steffi, Rania dan Adeo. "Hai!"

"Gue kangen dibilang lebay," ucapnya pada diri sendiri.

"Mama mau balik ke Bali lagi ya, Sayang. Ada urusan yang belum selesai. Papa juga masih disana."

Wanita yang memakai pakaian kantoran itu keluar dari kamarnya dengan map-map yang tidak diketahui isinya oleh Lala. Ia mengecup kening Lala sebelum akhirnya pergi.

"Nyokap lo kebanyakan duit apa kali ya bulak-balik Bali," celetuk Steffi yang berdiri di tangga. Sementara Lintang dan Rania menghampiri Lala. Adeo lebih memilih ke ruang tamu, melihat-lihat oleh-oleh yang dibawakan Zania dari Bali.

Lala, Lintang, Steffi dan Rania mengikuti jejak Adeo yaitu ke ruang tamu. Disana mereka menemukan bertumpuk-tumpuk kardus, belasan kantung plastik besar serta paper bag.

Lala mengehela napas kala teman-temannya mulai rusuh membuka satu persatu oleh-oleh yang dibawa Zania.

**

12 IPA 1Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang