Beranjak menuju lantai dua. Sedari tadi Arya belum berhasil membujuk Tiffany untuk membuka pintu kamar. Diketuk berulang kali. Memanggil dengan nada pelan hingga keras. Namun, seolah kamar tersebut tak berpenghuni. Tak merespon sedikitpun. Arya sedikit menyerah. Dia sudah kehabisan stock cara membujuk lagi. Akhirnya dia menyandarkan pelan punggungnya didepan pintu kamar Tiffany. Wajahnya lelah hingga lambat laun punggungnya turun perlahan membuatnya pada posisi duduk pasrah sekarang.
" Ahh, aku nyerah.!". Arya sedikit menelan ludah. " Kinay, coba gantian kamu yang bujuk Tiffany keluar. Siapa tahu cewek punya cara komunikasi sendiri !" tunjuk Arya kearah perempuan berambut pirang dengan wajah penuh putus asa.
" Ok, I'll try. !" mulai mengayunkan tangan untuk mengetuk pintu.
" Tiffany, Sorry, Are you okey ?" Dia mendekatkan telinganya pada bilik pintu untuk mengecek suara.
" Aku Kinaya !. Maaf, mungkin kamu belum kenal aku sebelumnya. So, tolong buka pintunya. Aku sangat ingin berkenalan dan mengenalmu !" Kinay semakin mengeraskan suaranya.
Kinay sedikit berpikir tentang cara dan topik lain agar dapat membujuk. Otaknya juga berusaha me-recall kosakata Indonesia untuk merangkai kata
" Fan. !. Ok, No problem. Kalau kamu dengar aku, it's ok, tidak usah buka pintu. Kita ngobrol saja disini. Aku tahu mungkin kamu masih sedih. Tapi, ayolah jawablah sedikit saja. I'm very miss you !"
Tetap tidak ada suara. Namun, Kinay seolah merasa sebenarnya Tiffany mendengar semua kata-katanya. Lantas, dia terus berbicara dan bercerita didepan pintu walau tak ada respon sedikitpun dari dalam.
" Oh iya, aku sampai di Indonesia tiga hari yang lalu. Maaf, tidak bisa langsung ke Jakarta. Mama masih ingin jalan-jalan dan shopping. Really, I don't know about your father before. Baru kemarin aku dikabari Paman Nata kalau ayahmu meninggal. I'm very regret and sorry about that.. "
" Fany, kamu serius ngga mau buka pintu ?. I have many candy from Singapore. Kamu pasti suka. Ngga cuma permen, ada beberapa baju hasil desain mama yang dibikinin buat kamu !. Bajunya ada dimobil, kamu harus coba dan kamu pasti terlihat lebih cantik dengan baju itu !.."
Kinay mulai sedikit putus asa. Dia memandang kearah Arya yang sedari tadi tertunduk lesu. Pandangan mereka menyatu seolah memikirkan hal buruk telah terjadi pada Tiffany di dalam. Pandangan Kinay berbalik kearah pintu lagi. Menarik nafas panjang dan mencoba sekali lagi.
" Fany, aku ke Jakarta ngga sendiri kok !" dengan nada pura-pura ceria dan atraktif. "Aku sekeluarga bareng Paman Nata dan Arya, oh, by the way, kamu belum kenal mama dan papa aku ya ?. Mamaku namanya Cecilia. Ehm, kamu bisa panggil tante aja ya, soalnya dia kakak perempuan ayahmu!." Kinay terus saja nyerocos. "Ya, betul kamu panggil mama, tante Cecilia. Kalau papa ...."
Pyaarr !!
Terdengar benda pecah belah jatuh dari arah dalam kamar Tiffany. Kinay tersentak kaget. Begitupun Arya segera menegakkan badannya kembali. Dari dalam kamar, Kinay mendengar gesekan rak terbuka seolah terburu-buru. Disusul derap langkah cepat mendekat kearah pintu. Klek Klek. Beberapa putaran kunci membuka pengaitnya. Seketika pintu itu terbuka tiba-tiba.
Tiffany muncul dihadapan mereka bedua, tampak kedua tangannya memegang sebuah kotak.
" Dimana ? Perempuan bernama Cecilia ? Ehm, maksud aku Tante Cecilia, dimana dia ?" tanya Tiffany bertubi-tubi. Raut wajahnya sulit dideskripsikan, antara histeris, senang, bergairah. Entahlah, semua berpadu.
Arya tergagap membisu. Begitu pula Kinay tak bisa menyembunyikan kagetnya. Mereka berpandangan. Kemudian hening.

YOU ARE READING
ENCODE
Mystery / Thriller2 x 24 jam. Itulah waktu yang diberi ayahnya untuk menyelesaikan sebuah kasus terbunuhnya Tuan Tama. Dalam prosesnya, Hannada terjebak dalam motif kasus yang membingungkan. Banyak alur, kode, serta motif yang sulit dipecahkan. Kode-kode itu muncul d...