Enam | 1/5

12 0 0
                                    

Ada dua kubu dan satu kelompok tuan rumah yang kini tengah sibuk dengan obrolannya masing-masing. Begitulah kurang lebih komposisi manusia di meja ruang utama. Suasananya riuh, bukan karena diskusi terpola. Melainkan cengkrama tema bebas dengan kubunya masing-masing.

Mengingat telah banyak waktu terbuang, Nyonya Cecilia menengahi dengan menaikkan intonasi suara.

" ehm... ehm.." sedikit berdeham. "Bapak, Ibu dari perusahaan dan kepolisian. Bagaimana jika segera kita mulai saja pembicaraan dengan sedikit formal. Hari sudah mulai gelap, saya melihat sepertinya banyak hal yang akan dibahas dimeja ini !" Nyonya Cecilia menjelaskan dengan mata menyorot ke semua penjuru tamu.

" Baik, saya setuju. Sebelum kita mulai, masing-masing bisa memperkenalkan diri terlebih dahulu. Oh iya, sampaikan pula maksud kedatangan bapak ibu sekalian ke rumah ini untuk apa !" tegas Inspektur Ronald.

" Oke, mulai dari saya saja, Pak !" seorang pria dari sisi kiri tiba-tiba mengacungkan tangan dan melanjutkan ucapannya. "Maaf, bapak ibu sekalian. Bukan bermaksud mendahului dan tidak sopan. Tapi, ijinkan saya bicara terlebih dahulu. Karena memang pertemuan antara pihak PT. Prastama dan Kepolisian kali ini adalah inisiatif saya berkenaan hal penting yang ingin disampaikan untuk semua yang hadir disini !" pria itu menjelaskan sambil mengambil tas kerjanya.

" Siap, silahkan Bung Andi !." Inspektur Ronald mempersilahkan.

" Saya Andi Siregar, notaris yang biasa diberi kepercayaan Tuan Tama dalam urusan mengurusi hak paten, akta jual beli dan segala hal berkenaan tentang masalah hukum yang dibutuhkan beliau, saat beliau masih hidup".

Para tamu dan tuan rumah kini fokus kearah pria berkacamata itu.

"...terakhir saya berkomunikasi dengan beliau, ya .. mungkin sekitar pertengahan bulan lalu. Singkat cerita, beliau menghubungi saya dengan maksud yang tidak biasa. Maksudnya bukan tentang bisnis tapi tentang masalah pribadi beliau..".

" Hah ..? tentang apa ?" sambar Nyonya Cecilia dengan penuh penasaran.

" Tenang dulu..." balas Tuan Nata. Sekilas Nyonya Cecilia menekuk wajah.

"ehmm, Bung Andi maaf saya memotong pembicaraan anda ". dengan sedikit sinyum simpul. "Bapak ibu sekalian, bagaimana jika pembicaraan ini kita lanjutkan setelah makan malam. Sepertinya hidangannya telah siap di meja makan..."

" Baik Pak, saya setuju !. Saya rasa juga lebih baik begitu. Yang ingin saya sampaikan sebenarnya singkat, tapi mungkin akan melahirkan diskusi yang agak lama." Bung Andi menyetujui usulan Tuan Nata. Begitu pula gelagat para tamu yang tampak senada mengiyakan.

" Oke, saya rasa semuanya juga ngga ada masalah jika kita break sebentar. Mari, silahkan. Ruang makannya disebelah sana !". Tuan Nata menunjuk kearah kanan.

Para tamu bangkit, berangsur berjalan kearah ruang makan. 

ENCODEWhere stories live. Discover now