tiga; little flashback

756 141 4
                                        

Sengaja pake tulisan italic khusus dipart ini:)

Seoul,2004.

Hari itu benar-benar hari yang sangat Wendy benci seumur hidupnya.

Tepat setahun ibunya meninggal, ayah Wendy memutuskan untuk menikah lagi.Dan Wendy benar-benar tidak dapat melakukan karena umurnya baru akan 6 tahun bulan depan.Ingin sekali ia berteriak pada ayahnya agar tidak menikah lagi.

Karena Wendy kecil percaya, bahwa ibu tiri itu sangat jahat dan kejam seperti sebuah dongeng Cinderella yang mendiang ibunya pernah bacakan.

Wendy membenci ibu barunya.

"Wendy,ayo masuk dan berikan salam mu pada ibu barumu" pinta Bibi Jung.

"Shireo!"Tolak Wendy mentah-mentah lalu melipat kedua tangannya didepan dada.

"Bibi bisa pastikan bahwa semua ibu tiri itu tidak selalu jahat,masuk dan lihatlah"rujuk Bibi Jung.

Wendy memasang wajah kesalnya.

"Aku tidak percaya pada bibi.Aku tidak mau ibu baru!"tegas Wendy lalu berlari menjauh dari bibi Jung.

Bibi Jung pun berusaha mengejar Wendy tapi sayangnya ia sudah kehilangan jejak Wendy.

Hari semakin sore,langit tampak berwarna jingga dan matahari pun hampir meninggalkan tempatnya dan Wendy masih betah duduk dipinggiran danau itu.

"Kenapa semua orang selalu mengatakan hal yang bohong padaku? Aku tidak bodoh!"

"Aku tahu mana yang benar dan mana yang tidak"

"AKU BENCI SEMUANYA!"teriak Wendy lalu menyembunyikan wajahnya diantara lututnya dan mulai menangis.

"Berhentilah menangis!"

Wendy sedikit mengangkat kepalanya dan menghapus sisa airmatanya lalu menatap anak seumurannya yang berdiri didepannya.

"Kau harusnya senang mendapat ibu baru,eommaku sudah lama meninggal dan appa..aku bahkan tidak tahu dimana dia"

"Berhentilah menangis dan hapus airmatamu dengan ini"

Bocah pria itu lalu memberikan sebuah saputangan berwarna pink dengan motif-motif bunga-bunga.

"Eomma bilang kau harus menghapus airmatamu dengan ini dan kau tidak akan pernah sedih lagi"

"Bohong!"

"Tidak! Aku benar-benar.Ini pakailah!"

Anak pria itu menarik paksa tangan Wendy dan memberinya saputangan itu.

"Kau boleh mengambilnya jika kau mau"

"Tapi ini adalah milikmu?"

"Aku tidak membutuhkannya lagi"

"Gomapta!"

"Yien ah!!"

"Bibiku mencariku.Aku harus pergi!"

"Ne,aku datang!"

Anak itu langsung berlari menghampiri bibinya dan meninggalkan Wendy sendiri.

"Wendy?"

Wendy menoleh kebelakangnya dan mendapati ayahnya berdiri disana dengan tuxedo lengkapnya.

"Appa"

Tanpa basa-basi Wendy langsung belari memeluk ayahnya.Tuan Son pun sedikit berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh putrinya.

"Appa?"

"Hm?"

"Bisakah appa tidak menikahi bibi itu?"

"Tidak bisa sayang.Sudahlah, ayo masuk semua orang menunggumu"

Wendy hanya pasrah saat itu , ia sudah tidak tahu apa yang harus ia lakukan waktu itu.

*

Sebulan kemudian.
21 Februari 2004.

Hari ini adalah ulang tahun Wendy yang ke-6.Dan tidak tanggung-tanggung Tuan Son mengatakan pesta yang meriah untuk putri sematawayangnya itu.Bertemakan princess , Wendy kecil tampak sangat cantik dibalut dress berwarna pink dengan pita besar dibelakangnya.

Semua tamu undangan tampak menikmati pesta meriah tersebut.Tapi berbeda dengan Wendy sang pemilik pesta,ia memilih diam dan duduk disebuah kursi yang disediakan untuk tamu dan mengamati teman-teman sebayanya yang asyik bermain dengan pemukul.

Ya,sebuah permainan dimana kau harus memungkul dengan mata tertutup sebuah mainan kardus dibentuk sedemikian rupa yang digantung untuk mengeluarkan semua isi yang ada didalamnya. (Paham ga? Susah jelasinnya--")

Hampir semua temannya gagal dan Wendy ingin sekali mencobanya.

"Ahjussi,bolehkah aku mencobanya?"tanya Wendy.

"Tentu saja,ini adalah pestamu kau boleh melakukan apapun yang kau suka"balas ahjussi itu.

"Ini peganglah dan ahjussi akan memasangkan penutup matanya"lanjut ahjussi itu.

Semua teman Wendy menggerubunginya dan meneriaki kemana arah Wendy harus memukul.

"Kanan!!"

"Tidak! Kekiri sedikit!!"

"Maju sedikit dan pukul!!"

BRAKK!

Semua orang tampak terkejut dan berlari menghampiri anak kecil yang terjatuh dengan hidung mengeluarkan darah.

Okay,tampaknya Wendy salah mengenai sasarannya ia malah memukul seorang anak pria yang berdiri disana hingga hidungnya berdarah.

"Yien ah!!"

"Bibi..."

Wendy langsung melepas kain hitam yang menutupi matanya setelah mendengar nama itu.

Wendy terkejut bukan main saat melihat anak itu terduduk ditanah dengan hidung yang berdarah.Wendy pun menghampirinya.

"Maafkan aku,aku tidak sengaja memukulnya"

"Ini pakailah untuk mengelap darahnya!"

Wendy kembali memberikan saputangan yang pernah anak itu berikan padanya.

"Sudahlah! Yien,ayo kita pulang!"ajak bibinya.

"Gomapta!"seru anak itu sebelumnya akhirnya pergi meninggalkan pesta itu.

Sejak kejadian itu,Wendy selalu merasa bersalah pada anak pria bernama "Yien" itu.Setiap hari Wendy selalu menunggu waktu dimana ia akan bertemu dengan Yien lagi.Setiap senja datang ia akan pergi kedanau itu dan berharap bisa bertemu dengannya lagi.

Dua tahun berlalu,Wendy tidak pernah melihat bahkan bertemu dengan Yien.Seiring berjalannya waktu,Wendy benar-benar lupa tentang Yien dan menjalani hidupnya sendiri.

Pernah dalam hidupnya, Wendy berharap bahwa ia akan bertemu dengan Yien dimasa depan tapi entah kapan.

"Tidak peduli kapan pun itu, tapi aku akan selalu mengingatmu sampai aku tahu apa yang membuatku begitu terobsesi padamu....yien"

Flashback end.

-tbc.

Vomment janlup♥ thankseu (bonus part buat hari ini).

PLAYGROUND ✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang