Andrew tahu bahwa dirinya sudah salah menentukan tempat untuk sebuah pernikahan. Ah tidak---bukan dia. Sahabat dan calon istrinya yang tidak waras hingga menghabiskan uang mereka di sebuah kasino mahal. Las vegas surga dunia bagi semua orang, termasuk Andrew. Ia tidak dapat mempungkirinya, berada di kota ini sama hal nya berada di surga.
Ketika kakinya melangkah keluar bandara, Andrew dapat melihat wanita-wanita berbikini dan berpakaian seksi memenuhi jalanan Nevada. Bar dan kasino tesebar dimana-mana. Gemerlap cahaya remang di jalanan menambahkan kesan seksi pada kota ini. Vegas memang surga, tapi jangan lupakan bahwa kota ini juga bisa menjadi sumber dosa dari segala dosa.
Andrew berjalan ke arah mobil Aston Martin one-77 yang sudah menunggunya di depan pintu masuk bandara paradise, Nevada. Andrew yakin, jika dirinya tak segera masuk ke dalam mobilnya satu bahkan beberapa wanita yang tadinya berdiri di trotoar akan berjalan menghampirinya. Dan mengerumbunginya seperti madu yang sangat manis.
Astaga. Andrew tidak dapat membayangkan jika itu terjadi padanya. Ada saatnya untuk dirinya bermain-main, tapi nanti bukan sekarang.
Andrew membawa mobilnya berjalan menyusuri kota Nevada yang di penuhi sumur dosa. Mobilnya melaju cepat, membelah kota Vegas tanpa meneliti apapun.
***
Andrew menghentikan mobilnya di sebuah swalayan untuk membeli sekaleng bir. Sebenarnya, Andrew bisa saja menghabiskan malam pertamanya di Vegas untuk bersenang-senang di bar. Namun ia tak yakin untuk melakukan itu, tubuhnya terlalu lelah hanya utuk sekedar membuang penat di sebuah bar. Ia butuh ranjang untuk kembali meluruskan punggungnya.
Andrew membayar dengan uang lima puluh dolar. Tanpa menunggu kembaliannya, ia segera bergegas kembali ke mobilnya. Namun, Andrew mengkerutkan keningnya ketika mendapati seorang wanita berpakaian seksi bersandar di mobilnya. Sebatang rokok terjepit di antara bibirnya, dengan salah satu-tangan yang berada di paha putihnya.
Bohong jika Andrew tidak tertarik dengan apa yang berada di hadapannya. Ia akan menarik semua kalimat yang sudah ia katakan. Ia tidak membutuhkan ranjang untuk istirahat. Andrew membutuhkan wanita itu berada di ranjangnya, bersamanya tanpa busana.
Andrew menyeringai. Ia berjalan menghampiri wanita itu sambil menenguk birnya. Membiarkan sensasi panas membakar tenggorokannya. "Manis," kata itu keluar spontan saat Andrew berdiri di hadapan wanita itu.
Andrew mengangkat tangannya, membiarkan jemarinya bersentuhan langsung pada kulit halus di wajah wanita itu. "Kau berdiri di depan mobilku, nona."
Wanita itu menatapnya, memberikan senyuman nakal sambil mengeluskan wajahnya pada tangan Andrew seperti seekor hewan peliharaan. "Benarkah?"
Ketika bibir itu terbuka, Andrew hampir saja melepaskan kontrolnya. Tubuhnya bereaksi hanya karna sepatah kata. Keinginan untuk menghapus lipstik merah itu dari bibirnya berkoar besar pada tubuh Andrew.
"Jika kau ingin masuk, mungkin kau akan berada di dalam mobilku."
"Apa kau percaya aku bisa membaca pikiran seseorang?" wanita itu mengabaikan ucapan Andrew.
"Apa aku sudah mengatakan jika aku tak percaya hal aneh apapun."
"Ah, tentu saja. Berani bertaruh?"
Wanita itu mendekat, kedua tangannya melingkar di leher Andrew.
Andrew tersenyum. "Aku tidak takut apapun, nona."
Bulu kuduk Andrew meremang ketika ia merasakan sesuatu yang basah menjilati telinganya. Matanya terpejam menahan erangan yang hampir lolos dari mulutnya. "Kau sungguh percaya diri, tuan."
"Aku tau apa yang berada di pikiranmu," lanjut wanita itu.
"Sebutkan sayang," suara Andrew terdengar seperti desahan.
"Ranjang. Kau memikirkan ranjang."
Andrew tidak terkejut jika wanita itu mengetahuinya. Semua orang tahu apa yang akan dilakukan oleh mereka selanjutnya. Ranjang pilihan yang bagus untuk menebak isi pikiran semua orang. Remaja yang tak mengerti apapun akan tau semuanya tanpa bisa membaca pikiran.
"Gadis pintar," Andrew mengambil batang rokok yang terkapit di antara jari tengah dan telunjuk wanita itu untuk menyesapnya sendiri lalu ditiupkan ke wajah wanita itu.
"Aku tidak gratis, tuan."
"Persetan! Siapa yang peduli."
Wanita itu mendekatkan diri, mengecup singkat bibir Andrew yang sedikit terbuka. "Kau tau, aku mahal."
"Kupikir setelah melihat mobilku, kau tau aku dapat membayarmu sebanyak apapun itu."
"Kau harus membayarku perjam."
"Tidak ada masalah tentang itu, manis. Kau ikut denganku dan semuanya selesai."
***
Mobil Andrew memasuki sebuah hotel berbintang dengan seorang wanita yang duduk di sampingnya. Ia baru mengetahuinya bahwa prilaku wanita itu sedikit bar bar untuk ukuran wanita seksi seperti dirinya. Namun itu tak masalah, menurut Andrew wanita itu akan terlihat berlipat-lipat lebih seksi dengan prilaku apapun.
Andrew mentap wanita itu. "Jika kita berdua keluar dari mobil ini, kau tau bahwa dirimu tidak akan pernah bisa kembali, Ruth."
Memanggil nama wanita itu membuatnya kembali teringat dengan perkenalan mereka yang sedikit aneh. Andrew masih bisa merasakan hebatnya bibir itu berada di dalam mulutnya, membelit lidahnya sambil menari menggerang keras di dalam mobil.
"Namamu, sebutkan namamu!" Andrew berkata di sela-sela kecapannya.
"Ruth. Kau dapat memanggilku seperti itu."
"Kau manis, Ruth!" Andrew menggerang.
Andrew disadarkan dari lamunanya ketika bibir, Ruth menciumi rahangnya. "Aku dibayar untuk itu, tuan."
Andrew kehilangan kontrolnya. Sentuhan sekecil apapun yang dihantarkan Ruth kepada dirinya, membuatnya seakan tersetrum. Wanita itu menguasai dirinya, Ruth menguasai seluruh akal sehalnya. Dan tidak ada satupun orang yan pernah melakukan hal itu terhadap dirinya. Mungkin Andrew harus memberi sesuatu yang istemewa untuk wanita ini karena sudah lancang membuat dirinya melewati batasnya.
Andrew mengecap bibir Ruth, kembali merasakan manis strawberry yang melekat pada seluruh bagian tubuh wanita itu. Ciumannya semakin menuntut, ketika tangan Ruth berada di depan dadanya, menggerakkan pelan sehingga membuatnya menginginkan Ruth membuka selangkangnya di dalam mobilnya.
Andrew menggeram marah ketika mendengar suara ketukan di jendela pintu mobilnya. "Sialan, siapa yang berani mengangguku!" Andrew menggerutu kesal, membuat Ruth yang memperbaiki penampilannya terkekeh kecil di sampingnya.
"Valet, tuan."
Andrew dan Ruth keluar bersamaan dari mobilnya. Ia menatap datar wajah seornag pria muda di hadapannya. Pria itu menunduk, sedikit mencuri pandangan ke arah Ruth, membuat Andrew mendengus kesal melihatnya.
Ketika Ruth berjalan menghampirinya, Andrew menyerahkan kunci mobilnya kepada pria itu dan berlalu dari hadapannya dengan tangan yang merangkul bahu terbuka milik Ruth.
"Kau siap sayang." Andrew memberikan ciuman di cuping telinga Ruth.
"Tidak pernah sesiap ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Pretty Woman (Selesai)
RomanceKarya ini di privat acak, silahkan follow sebelum membaca ___________________________________ Ruth Smith, harus menjalani kehidupan barunya yang menyakitkan. Berkerja di jalanan bukanlah cita-citanya. Apalagi ia harus bekerja sebagai pelacur, ironis...
