Halaman 24

2.2K 143 0
                                        

Ruth dan Laurent masih berbincang-bincang dengan menghabiskan dua gelas cokelat panas dan tiga porsi kue cokelat. Mereka sudah menghentikan pembicaraan tentang hubungan sejak setegah jam yang lalu. Ruth merasa sedih, ia merasa tidak siap untuk berpisah dengan Laurent. Ruth tidak mau membuat hati baik Ruth ternodai dengan kesedihan.

"Aku dengar makan malam kalian berjalan dengan cukup baik."

Ruth tertawa, ia jelas mengingat kejadian itu. "Kau dan Andrew memang sangat pandai membuatku begitu terkejut dan terkesan. Aku tidak menyangka kau berada di balik itu semua, mama."

"Astaga aku benar-benar tidak melakukan apa pun. Aku hanya membuatmu terus bersamaku, dan percayalah aku menyukainya."

"Kau mengajarkanku banyak hal, mama."

"Aku senang aku melakukannya. Aku sudah ingin melakukan ini sejak lama. Dan aku menemukanmu, ah---tidak Tuhan mempertemukan aku dengan putriku."

Ruth terdiam, ia tidak akan sanggup untuk memberitahukan hal ini kepada Laurent. Tapi ia tetap harus melakukannya. "Mama..."

Laurent menatapnya, menunggu Ruth mengatakan kalimat selanjutnya. "Aku minta maaf jika ini mengecewakanmu. Tapi kau tahu kalu Seattle bukanlah kotaku. Ini saatnya, mama. Aku harus kembali ke tempat asalku."

Wajah Lauret berubah murung membuat Ruth merasa tidak nyaman. Wanita itu tetap berusaha menerbitkan senyumnya. "Kupikir kau akan selalu tinggal bersama, Andrew."

"Tidak selamanya kami tinggal bersama."

"Aku tahu ini akan terjadi. Setiap pertemuan pasti akan ada perpisahaan."

"Maaf, jika ini membuat mama kecewa padaku."

Lauret menggeleng. "Tidak nak, aku tidak bisa menghalangi apa yang sudah kau niatkan. Tetap saja semua keputusan ada padamu."

***

Ruth menepati apa yang ia katakan sebelumnya. Ia sudah kembali ke penthouse Andrew setelah makan siang. Evans mengantarnya sampai ke lantai teratas, membiarkannya diam dengan pikirannya. Mungkin pria itu menyadari raut wajahnya yang berubah 180 derajat. Menghabiskan banyak waktu di kota ini ternyata memberikan dampak buruk terhadapnya. Ruth merasakan kepalanya berdenyut sakit. Ia masuk ke dalam kamar, memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya.

Mungkin Ruth hanya memejamkan matanya selama sepuluh menit ketika bel berbunyi mengusik telinganya. Ia tidak tahu siapa yang datang. Jika itu Andrew, pria akan berjalan memasuki kamar lalu menciumnya. Evans juga tidak akan menghabiskan waktunya dengan memencet bel, lagi pula pria itu lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Andrew.

Akhirnya Ruth bangkit dari tidurnya, kepalanya tentu saja masih berdenyut. Ia berjalan dengan langkap pelan, pandangan matanya buram ketika ia membuka pintu. Ia melihat orang itu tersenyum, namun tetap tidak melihatnya dengan jelas.

"Richard?!" Ruth terkejut ketika matanya dapat menangkap objek di depannya.

Pria itu tersenyum, "Selamat siang, Ruth."

"Andrew tidak ada di sini jika itu yang kau cari." Ruth dan Richard masih berdiri di depan pintu.

"Aku tahu. Bos besar lebih sering menghabiskan waktu mereka di kantor."

"Lalu apa yang kau cari di sini?"

"Kau?"

"Permisi, apa maksudmu?"

Richard melangkah masuk mendekati Ruth. Pria itu menatapnya, jenis tatapan yang tidak asing baginya. Richard menyeringai. "Aku mencarimu, menginginkanmu, cantik."

"Kau sangat tidak sopan, tuan. Pergilah dari sini!" Ruth berusaha mendorong tubuh Richard keluar dari penthouse Andrew. Tapi tidak semudah itu, pria itu terlalu berat hanya untuk bergeser.

"Ini bukan tempatmu, Ruth."

"Kau tahu siapa aku bagi Andrew, tuan."

Tiba-tiba Richard tertawa keras. Pria itu semakin mendekatinya hingga mereka berhenti kerena dinding dingin di belakang punggung, Ruth. "Kau pikir aku tidak tahu!"

Ruth semakin dibuat binggung oleh Richard.

"Kau bukan kekasihnya, Ruth!"

"Apa yang kau bicarakan?!"

"Kau pelacurnya, hanya pelacurnya!" 

Ruth terdiam. Ia tidak tahu bagaimana Richard tahu tentang dirinya. Ruth menatap Richard, tidak sedikit pun ia terluka dengan perkataan yang dilontarkan Richard terhadapnya. Ruth sudah terlalu sering mendengarnnya, bahkan lebih dari itu.

"Maaf?"

"Kau pikir aku tidak tahu. Kau pelacur, sayang."

"Bagaimana kau tahu?" ucap Ruth datar.

Richard lagi-lagi tertawa. "Sayang sekali kau melupakan apa yang pernah kita lalui, Ruth-ku yang manis."

"Apa maksudmu? Apa yang ku lupakan? Aku tidak pernah mengenalmu sebelum kita bertemu di makan malam itu."

Tawa Andrew semakin keras. "Aku yakin kau benar-benar melupakannya."

"Kita pernah bersama beberapa bulan sebelum kita bertemu di makan malam itu, Ruth."

"Bicaralah dengan jelas!" Ruth tidak suka bertele-tele.

"Kau berasal dari Nevada. Kau pernah mendekatiku, lalu kita berakhir di sebuah ranjang motel murahan. Kau lupa aku pernah membayarmu?"

"Kenapa kau melupakannya, di saat aku selalu mengingatmu, sayang." Richard terdiam, sebelum kembali berkata. "Bibirmu terasa manis, tubuhmu begitu cantik, seksi dan menggoda."

Sialan! Dalam waktu beberapa bulan, Ruth menghabiskan malam dengan banyak pria. Membawa mereka ke atas ranjang dalam kurun waktu singkat lalu menggantinya dengan pria lain. Mana mungkin ia dapat mengingat satu-persatu pria yang pernah menjadi pelanggannya---kecuali Andrew tentu saja.

Pantas saja, pikir Ruth. Ia tidak heren bagaimana Richard menatapnya malam itu. Bagaimana pria itu berprilaku seakan mereka saling mengenal walau Richard dengan sopan memperkenalkan dirinya.

"Aku tidak pernah mengingat siapa pun yang tidur bersamaku."

"Kau jelas-jelas mengingat, Andrew!"

"Dia berbeda, kalian tidak sama!"

Andrew dan Richard saling berteriak.

"Kau mencintainya, bukan?"

Ruth diam. Ia tidak tahu bagaimana ia bisa menjawab ini. Bahkan ia sendiri tidak yakin jika ia mencintai Andrew. Tapi pria itu selalu bisa melewati pertahanan pikirannya. Ruth dapat bernafas lega, ketika Richard mengalihkan pembicaraan. "Berbangga lah, karena aku hanya mengingatmu, Ruth."

"Tidak berguna!" Ruth berdecih.

"Apa mau mu, Richard?!

Wajah Richard semakin dekat terhadapnya. "Jika kau bosan bersama Andrew, kau bisa menghabiskan malam bersamaku. Aku tidak akan merasa keberatan."

"Dalam mimpi mu, brengsek!" Ruth meludahi wajah Richard.

Pria itu tidak marah dengan apa yang dilakukannya. Ruth sendiri yakin jika seseorang melakukan itu terhadapnya, Ruth merasa bahwa harga dirinya sudah luntur.

Richard membersihkan ludan Ruth dan kembali menyeringai. "Bagaimana kalau kita membuktikannya. Apa itu hanyalah mimpi atau akan menjadi kenyataan."

Lalu, dalam waktu seperkian detik, mukut Richard membungkam mulutnya.





Pretty Woman (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang