Halaman 17

3K 151 6
                                        

Rahang Andrew mengeras. Andrew tidak tau untuk alasan apa ia merasa marah. Tapi mendengar pengakuan mengejutkan yang dikatakan Ruth kepadanya, membuat dirinya ingin melenyapkan Theodore secepat mungkin.

Ruth tidak sekuat seperti yang dilihatnya selama ini. Wanita itu terlalu lemah, bahkan sulit untuk menyentuh Ruth agar tidak menghancurkannya.

Ruth seorang wanita lemah. Dia juga seseorang yang rapuh yang dapat menyembunyikan penderitaannya di balik wajah cantiknya.

Seperti yang dilakukan oleh kebanyakan pria, Andrew juga melakukannya. Nalurinya menyuruh agar dirinya membawa Ruth ke dalam lingkup hangatnya. Mengelus pelan rambut wanita itu, menunjukkan rasa peduli secara terang-terangan. Tapi ia tidak pernah dapat mengartikan apa yang sudah ia lakukan kepada Ruth selama ini. Karena ia tahu bawa ia tidak akan memahami apapun yang sudah terjadi di antara dirinya dan Ruth. Bahkan mungkin Andrew tidak akan pernah mengetahuinya.

"Apa aku harus membunuh pria itu?"

Ruth menggeleng. "Tidak perlu. Bahkan aku tidak tahu dimana dia sekarang."

"Itu tidak penting, Andrew." Ruth menyambung.

"Siapa sebenarnya nama aslimu?"

"Rubie Smith Lambert. Aku menggantinya menjadi Ruth Smith, ketika aku pertama kali berada di Amerika. Aku tidak akan sudi memakai nama yang diberikan bajingan itu kepadaku."

"Aku tidak tau harus berkata apa?"

Ruth tersenyum. Berbeda dengan suasana hatinya beberapa saat yang lalu. "Kalau begitu jangan berbicara apa pun."

***

Terkadang cerita tentang kehidupannya tidak lagi membuatnya merasa sedih, seolah dirinya sudah terbiasa dengan hal itu. Dulu ia akan merasa sedih dan berakhir dengan menangis. Bahkan ia sempat kehilangan berat badannya sebulan semenjak Theodore menjualnya kepada Rosela. Namun semenjak ia pergi dari tempat terkutuk itu---walapun masih menjadi seorang pelacur---kehidupan Ruth sedikit demi sedikit membaik. Hubungannya dengan Lynette, membawa warna baru dalam garis hidupnya.

Di usianya yang masih kecil sekalipun, Ruth sudah menyadari kehidupan pahit yang menimpanya. Setelah kehilangan ibunya dan ayahnya yang brengsek menjual dirinya, hidupnya semakin hancur. Ruth sadar kalau apa yang terjadi kepadanya adalah sebuah takdir.

***

Keesokan harinya, Ruth terbangun dengan kepala yang terasa berat. Pandangannya buram, ketika ia membuka matanya. Tapi malam ia terlalu banyak minum sehingga menyebabkan dirinya sendiri mabuk dan kehilangan akal sehatnya.

Ruth memutuskan untuk mencuci muka dan membersihkan giginya. Ketika kembali, ia baru sadar bahwa Andrew tidak berada di sampingnya sedari tadi. Wanita itu hanya menemukan secarik kertas yang di tahan oleh gelas---di atas nakas. Ia mengambilnya, membacanya dengan pelan karena kata yang terlihat berantakan di matanya.

Aku akan kembali jam lima sore. Ku harap kau sudah terlihat cantik dan seksi. Aku akan menejmputmu untuk makan malam.

Tertanda
Andrew Rusell

Makan malam?

Mengapa Andrew baru memberitahunya. Ruth merasa ini terlihat sangat buru-buru. Padahal Andrew bisa mengatakannya tadi malam.

Ruth masih terdiam sambil memandangi kertas di tangannya. Ketika pintu kamar tiba-tiba diketuk, wanita itu terlonjak kaget. Ia segera berjalan untuk membuka pintu, yang hanya mendapati Evans yang berdiri dengan paper bag berwarna putih.

Evans menyerahkan kepadanya. "Mr. Rusell memberikannya kepadaku."

"Apa ini?"

"Saya juga tidak tahu. Mungkin anda bisa melihatnya sendiri, Ms. Smith."

Ruth mengangguk. "Terima kasih."

Evans tidak berkata apa-apa lagi. Pria itu berbalik dan hilang di antara pintu lift yang tertutup. Tanpa memperdulikan Evans yang tidak menanggapinya, Ruth masuk kembali ke dalam kamar, tangannya berusaha membuka isi paper bag.

Ruth bingung ketika tangannya menyentuh sesuatu yang terasa lembut. Ia segara mengangkatnya, mendapati sebuah gaun hitam tanpa lengan.

"Untuk apa ini?"

Belum terjawab pertanyaannya, ponsel Ruth berbunyi menampilkan wajah Andrew yang berada di layarnya.

Andrew menelponnya. "Untuk apa ini?"

"Kau akan mengenakannya malam ini, sayang." Andrew berbicara di seberang sana.

"Mengapa mendadak. Kau bahkan bisa mengatakannya tadi malam!"

"Maaf, aku lupa."

"Sampai jumpa sayang, aku akan menjemputmu jam lima sore."

Ruth hendak berbicara ketika sambungan terputus secara sepihak. Ia menatap lurus ke arah jam dinding di depannya. Jarumnya menunjukkan pukul dua. Ia dan Andrew tidak tidur semalaman, ia tidak tau bagaimana pria itu bisa bangun sebelum dirinya. Akhirnya, Ruth memutuskan untuk membersihkan dirinya.

***

Ruth keluar dari kamar mandi sambil menggosok kepalanya menggunakan handuk. Aroma jeruk manis keluar dari tubuhnya, membawa pikiran menenangkan menyelimuti dirinya.

Ia segera berjalan menuju meja rias, menatap wajahnya yang masih dialiri bulir-bulir air. Ruth masih tak menyangka bahwa Andrew menepati perkataannya. Pria itu tidak menyentuhnya sedikit pun selama sesi bercerita mereka. Tidak menciumnya, menggodanya maupun membuainya.

Ruth menyapukan perona cokelat muda di pipinya. Bibirnya terpoles dengan lipstik merah dengan mata yang dihiasnya setajam mungkin. Beserta bulu mata tipis yang dikenakannya. Ia membuat wajahnya begitu mendominasi sehingga semua orang hanya memperhatikan bagian itu tanpa melihat ke arah lain. Ruth suka ketika ia menjadi pusat perhatian dengan daya tarik yang cantik dan begitu menggoda. Ia suka jika harus tampil seksi di hadapan semua orang, hingga seluruh wanita merasa iri dengannya.

Setelah mengenakan gaun yang diberikan Andrew kepadanya, Ruth mengikat rambutnya menjadi satu. Membiarkannya terikat rapi tanpa mengganggu bahu dan lehernya yang terbuka. Ia memakin anting dengan material emas putih yang memiliki permata berwana perak

Jarum jam menunjukkan pukul setengah lima ketika Ruth mengenakan sarung tangan hitam yang panjangnya menutupi sampai sikunya. Wanita itu mengenakan stiletto hitam yang tertutupo oleh rok gaun yang menjuntai hinggai ke lantai.

Pintu kamar terbuka, menampilkan Andrew yang berdiri di hadapannya dengan setelan rapi berupa kemeja berwarna putih yang di lapisi jas berbahan sutra beserta dasi kupu-kupu berwarna merah. Ketika melihat ke bawah, sepati pria itu akan menjadi perhatian dengan tampilan dan modelnya yang kekinian. Menurut dirinya, Andrew benar-benar bisa mencocokan penampilannya.

"Cantik dan seksi," komentar Andrew di saat dirinya masih sibuk mengamati setelan pria itu.

"Kau menakjubkan." Ruth berkata sambil berjalan mendekati Andrew.

Andrew tersenyum. "Kau akan terlihat sempurna dan menakjubkan, jika kau mengenakan ini." Andrew mengambil sesutu di balik jasnya.

Sebuah kalung berlian yang tersusun rapi dengan permata putih berukuran sedang. Pria itu memberikan kepadanya, membuat Ruth terkejut sambil tertawa di balik tangan yang menutupi mulutnya. Ia ingin menyentuh kalung itu, tapi Andrew menutup genggaman tangannya sambil tertawa. Pria itu mempermainkanya.

"Berbalik lah menghadap cermin." Ruth menurutinya.

Dari kaca ia dapat melihat Andrew yang bergerak mengenkan kalung itu ke lehernya. Andrew tersenyum, lalu menciumi leher dan bahunya sambil melihat dirinya dari balik kaca.

"Kau sempurna."

"Cantik."

"Seksi..." Andrew menggantungkan kalimatnya. "...dan menggoda."

Pretty Woman (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang