Halaman 15

3.7K 150 1
                                        

Keesokan harinya, Ruth benar-benar kembali ke kedai itu. Ia datang bersama Evans yang setia menunggunya seharian. Bercengkarama bersama  Laurent Hawkins---wanita tambun---pemilik kedai kue. Laurent sangat ramah dan begitu baik hati. Bahkan wanita itu dengan sabar mengajarinya untuk membuat roti gandum yang biasanya ia beli di swalayan. Wanita tua itu tidak memiliki siapapun di Seattle selain pekerja paruh waktu di tempatnya. Suaminya sudah meninggal tujuh tahun yang lalu, sedangkan dirinya tidak bisa memiliki anak karena kanker rahim yang pernah di deritanya sebelum menikah dengan suaminya.

"Astaga, ini tidak mudah Laurent." Ruth mengeluh di saat adonan roti yang ia buat lagi-lagi gagal. Ia menyapukan tangannya yang kotor ke wajahnya hingga membuat Laurent tertawa keras.

"Kau harus sabar, nak. Semuanya harus dilakukan dengan pelan-pelan. Kau tidak bisa mengocok telur dan mentega terlalu cepat. Semuanya butuh perasaan, sayang."

Ruth merengut. "Kue bukan keahlianku. Kurasa aku hanya bisa berdandan." Ruth tidak peduli dengan adonan kue yang mengotori wajahnya.

"Kau pasti bisa jika kau bersabar, sweetheart."

"Aku tidak tau kapan itu akan terjadi." Ruth tertawa kecil.

Laurent melepaskan adonan roti gandum di tangannya. Wanita itu membawa Ruth untuk mencuci wajahnya. Ruth terdiam ketika tangan Laurent mengusap wajahnya, membersihkan adonan roti yang mengotori wajahnya. Ruth merasa seperti kembali memiliki ibu. Wanita itu terlalu tulus dan baik hati. Orang-orang akan menyayangi Laurent dengan mudah karena kebaikan hati wanita itu.

"Kau sangat baik, Laurent."

Laurent tertawa, "Jangan melebihkan yang tidak benar, nak."

"Kurasa aku harus berkata, 'jangan menolak yang sudah benar' Laurent."

Keduanya lalu tertawa. Ruth memeluk Laurent seperti memeluk ibunya sendiri. Ia merindukan sosok ibu di dalam hidupnya. Tapi Ruth tidak yakin apa ia bisa kembali menemuai ibunya. Ia tidak punya cukup uang untuk kembali ke rumah. Lagi pula siapa yang sudi menerimanya dengan keadaan dirinya seperti ini.

Laurent melepaskan pelukannya. Wanita itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, nak.

"Aku tidak melakukan apapun." Ruth mengerutkan keningnya.

Laurent menggelang. Wanita itu menangkup wajah Ruth dengan tangan kasarnya. "Kau membuatku seakan memiliki seorang putri, sayang."

"Kalau begitu anggap saja aku putrimu, Laurent." Ruth tersenyum.

"Panggil aku mama, sweetheart."

Bibir Ruth bergetar ketika mengucapkannya. "Mama.."

***

Ruth kembali ke penthouse Andrew, setelah makan malam. Tempat itu begitu gelap, saat ia memasukinya. Tidak ada penerangan sedikit pun. Apa Andrew belum pulang, pikirnya.

Ruth mencoba meraih saklar lampu. Ketika semuanya menjadi terang, ia terkejut mendapati Andrew yang berdiri di samping meja makan sambil memegang sebotol sampanye. Pria itu tersenyum manis kepada Ruth. Andrew menggerakkan tangan, meminta ia untuk berjalan mendekat.

Di atas meja terdapat beberapa jenis makan malam seperti ; kalkun panggang, kue cokelat yang ia sukai, dua gelas kristal dengan sampanye di dalamnya. Sepotong daging yang dilumuri keju dan saus tomat.

"Kau yang menyiapkan ini semua?" Ruth bertanya.

"Tidak semua, mungkin dibantu beberapa orang termasuk Mrs. Hawkins."

"Bagaimana bisa? Mam---maksudku Laurent, bersamaku seharian ini."

"Aku tau kau memanggilnya mama. Tidak perlu mengubahnya, sayang."

"Bagaimana bisa?" tanya Laurent lagi.

"Kau pikir siapa yang menyuruhnya menahanmu di kedai kuenya. Dia juga mengirimkan kue cokelat kesukaanmu." Andrew memberikan sepotong kue cokelat kepadanya.

Ya benar. Betapa sulitnya Ruth keluar dari kedai itu saat Laurent terus-terusan berusaha menahannya dan mengajarinya membuat berbagai macam kue. Evans juga menghilang saat Ruth melangkah keluar dari kedai Laurent, sehingga ia harus menunggu satu jam lebih sebelum pria itu kembali menjemputnya.

Ruth memakannya. Rasanya masih sama. Bahkan lebih lezat lagi dari kemarin. Kue Laurent bersifat seperti kokain pada reaksi tubuhnya, membuatnya terus dan terus menginginkannya.

Ia melirik Andrew yang menarik kursi makan. "Duduklah, sayang."

Ruth terdiam. Ia menatap Andrew lalu berlaih kemeja makan. Beberapa kali melakukan hal yang sama, sebelum pandangannya lurus menatap Andrew. "Entah mengapa aku merasa bahwa aku seorang wanita terhormat, Andrew."

"Karena kau memang wanita terhomat, sayang."

Ruth tertawa setelah menyesap sampanye yang diberikan Andrew kepadanya. "Tidak ada wanita terhormat yang berkerja sebagai pemuas nafsu, Andrew. Kau harus selalu mengingat hal itu."

"Bagiku kau wanita terhormat," balas Andrew.

"Aku tidak yakin itu."

"Jadi untuk apa kau menyiapkan semua ini?" tanya Ruth.

"Untuk sebuah malam yang panjang, sayang."

"Si Dios! Jangan bilang kita akan berakhir tanpa mengenakan pakaian, Andrew. Kau memang membayarku, tapi kumohon tidak malam ini. Tubuhku benar-benar lelah dan bau pemanggangan."

Andrew berjalan ke belakangnya. Memeluknya dari belakang sambil menyusupkan wajah di antara leher dan rambut Ruth. Ketika bibir itu menyentuh kulitnya, Ruth merasa kehidupan seolah terbang bagaikan asap, begitu ringan dan cepat menghilang terbawa angin. Nafas pria itu berada di kulitnya, mengendus beberapa kali sambil berguman tidak jelas.

"Aku suka bau kue di tubuhmu. Kau terasa sangat manis, sayang."

Ruth menolak gairahnya. Ia mendorong tubuh Andrew menjauh darinya. Jika pria itu lebih menguasainya lagi, Ruth tidak yakin apakah dirinya bisa keluar dari tali yang mengikatnya bersama Andrew. Apakah ia bisa melawan saat pria itu mencumbunya. "Berhenti mencium ku, Andrew. Tubuhku di penuhi keringat dan kotoran."

Pria itu menempelkan bibirmya di atas bibir Ruth. Lelaki itu memainkan lidahnya di permukaan bibirnya. Menggigitinya kecil saat Ruth mulai membuka mulutnya dan melingkarkan tangannya di leher Andrew.

Namun, belum sempat ia membalas ciuman yang dimulai oleh Andrew, pria itu melepaskannya. Menatap wajahnya yang berkabut dengan seringai kecil. "Seperti kata mu, sayang. Tidak akan ada seks atau pun hal yang berbau sensual malam ini."

"Apa yang akan kita lakukan? Lebih baik aku mandi dan beristirahat, Andrew."

"Tidak." Andrew menghalangi jalannya ketika ia ingin naik ke lantai atas.

"Pertama-tama kita akan menghabiskan makan malam bersama. Lalu bersantai sambil menonton dan meminum sampanye. Di lanjutkan dengan malam penuh cerita yang akan kita lewatkan. Aku tidak akan membiarkanmu tidur, sayang."

"Kita akan menghabiskan malam sambil saling bercerita satu sama lain, Ruth Smith."

Pretty Woman (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang