Halaman 12

3.2K 159 1
                                        

Seminggu sejak keberadaannya di penthouse Andrew, ia menghabiskan banyak waktu bersama pria itu. Tidak setiap waktu memang, mungkin mereka mereka menghabiskan waktu yang panjang pada malam hari.

Tidak banyak yang bisa ia lakukan di tempat ini, hari-harinya hanya di penuhi dengan memasak, mendegarkan musik, senam yoga untuk menjaga tubuhnya, menonton televisi, dan bermain bersama, Andrew.

Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Ia melirik sekilas, mendapati nama Andrew tertera di layar ponselnya.

Untuk : Ruth Smith

Dari : Andrew Rusell

Perihal : Bosan

Aku tahu kau merasa bosan di rumah. Di lemariku ada beberapa kartu debit, aku yakin kau akan senang untuk berbelanja atau hanya berjalan-jalan.

Ruth tidak tau apa yang akan ia lakukan. Mengikuti apa yang dikatakan oleh Andrew, di dalam pesannya, atau ia akan diam saja tanpa melakukan apapun.

Ponselnya kembali berbunyi, menampilkan pesan dari orang yang sama.

Untuk : Ruth Smith

Dari : Andrew Rusell

Perihal : Cepat

Lakukan lah secepatnya. Kau tidak perlu berpikir. Anggap saja itu sebagian dari bayaramu.

Tanpa berpikir dua kali, Ruth bangkit dari tempat tidur.  Berjalan ke arah lemari setinggi delapan kaki, dengan pintu raksasa yang diukir dengar rumit dan begitu sempurna. Serta sebuah cermin besar yang berhias batu pualam.

Ketika ia membuka pintu lemari, ia di hadapkan dengan kemeja berbagai warna dan beberapa dasi milik Andrew. Ia membuka laci, mendapati dua buah kartu debit yang tergelak begitu saja. Ia tidak yakin untuk mengambilnya. Tapi mengingat pesan yang dikirimkan Andrew kepadanya, ia segera mengambil salah satunya.

Ini musim panas, dan Ruth tidak tau apa yang akan ia kenakan untuk pergi keluar. Ia membuka kopernya dan hanya memdapati pakaian lusuh yang  sering ia gunakan untuk bekerja dan tak akan pantas ia kenakan di kota ini. Seattle berbeda dengan Nevada, tempat ini benar-benar jauh berbeda dengan Vegas.

Akhirnya, Ruth memutuskan untuk mengenakan jumpsuite berbahan jins dengan bagian celananya yang pendek lima senti dari lututnya. Kakinya dibalut dengan angkle boots berwarna hitam. Suhu panas Seattle membuatnya harus mengikat rambutnya menjadi satu.

Ketika ia memasuki lift, ia terkejut mendapati Evans, yang berdiri tegak memandang lurus ke depan. Suasana terlalu canggung. Dengan ragu, Ruth melangkah masuk dan berdiri di belakang Evans.

Tapi Evans, malah berjalan mundur dan berkata. "Berdiri di depan Ms. Smith."

Ia diam tidak menurut. Jari-jarinya saling terpilin di bawah sana, hingga Evans kembali membuka suaranya. "Terlihat tidak sopan jika aku berdiri di depanmu, Miss."

Ruth menarik nafas. Tepat ia berdiri di depan Evans, pintu lift terbuka. Menampilkan orang-orang yang berlalu-lalang. Keduanya berjalan dengan Evans, yang berdiri di belakang, Ruth. Ruth, mengerinyit bingung, di saat Evans mengikuti langkahnya. Ia ingin bertanya, namun rasa takut melihat tatapan tajam pria itu, ia akhirnya mengurungkan niatnya.

Ketika ia ingin berbelok ke arah trotoar, Evans menahan bahunya lalu mengatakan maaf sebelum melanjutkan ucapannya. "Kita akan menggunakn mobil, Ms. Smith. Mr. Rusell memintaku untuk mengantar mu kemana pun."

Ruth ingin membantah. Ia tidak suka diikuti. Ia tidak suka dikekang, Ruth ingin bebas seperti burung. Namun intrupsi, Evans kembali membuatnya bungkam. "Jangan membantah, Ms. Smith. Ini perintah langsung dari Mr. Rusell. Komohon jangan mempersulit pekerjaanku."

Akhirnya Ruth hanya mengangguk. Evans, membukakan pintu. Membuatnya masuk tanpa pemberontakan. Ini bukan dirinya sama sekali. Kemana Ruth yang tidak suka diperintah. Ingatkan dirinya untuk memberi perhitungan pada Andrew nanti.

***

Andrew  berada di ruangannya. Duduk di meja dengan laptop yang terbuka. Tangannya tidak berhenti menulis sesuatu di atas kertas. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu, membuatnya menyerukan suara menyuruh orang yang berada di balik pintu tersebut masuk ke dalam.

Terlihat Grace---sekretarisnya---masuk dengan dua orang pria berbeda umur. Keduanya tersenyum, membuat Andrew mau tidak mau berdiri dari duduknya. Ia menyabut dua orang itu dengan menyuruhnya duduk, dan memerintahkan Grace untuk membawakan kudapan.

"Aku menunggu kedatangan mu, Mr. Parker." Andrew menyalami tangan pria yang lebih tua lalu beralih ke pada pria yang lebih muda.

"Senang bisa bertemu dengan mu, Mr. Rusell."

Mereka membicarakan beberapa hal tentang kerja sama, saham dan investasi. Lelucon beberapa kali, Andrew lemparkan untuk membuat suasana sedikit lebih santai. Ia menatap mata hijau Richard Parker---sang putra, dan mendapati ambisi yang kuat di sana. Dalam tawanya, Andrew menyeringai. Ia tahu bahwa Richard tidak menyukainya.

"Bagaimana kalau kita melanjutkan pembicaraan ini dua hari lagi, Mr. Parker." Andrew berkata pada Benjamin Parker.

"Akan lebih santai, jika kita menghabiskan waktu sambil makan malam." Richard menyambung.

Ia dan Benjamin menatap Richard, lalu tersenyum. "Ya, kuras itu lebih baik," ujar Andrew.

Setelah keduanya menghilang di balik pintu besar berwarna coklat, Andrew mendial ponselnya---menghubungi Evans. Telepon tersambung saat dering kedua. "Halo, Evans."

"Dimana posisi kalian saat ini?"

Andrew mengangguk saat Evans---yang berada di seberang sana---mengatakan keberadaan mereka. Ia mematikam sambungan, mengambil jas nya dan berjalan keluar ruangannya, sampai mobilnya membelah jalanan.

Pretty Woman (Selesai)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang