Halaman 23

2.9K 164 0
                                        

Andrew tidak tahu berapa lama mereka tertidur saling memeluk di atas karet yang lembut. Tapi saat ia terjaga, suasana di balik jendela sudah memperlihatkan cahaya terangnya. Api di perapian sudah nyaris padam hingga cahaya hampir tidak bisa menerangi ruangan ini dengan lilin yang sudah meleleh hingga tak lagi mengeluarkan aromanya. Ruth masih tidur di dalam peluknya, menyelipkan lengan wanita di perutnya. Bobot tubuh Ruth sangat ringan ketika ia mengangkat wanita itu untuk meletaknya di dalam kamar. Setelah mencium lembut kening Ruth, Andrew memutuskan untuk membersihkan diri.

Ketika Andrew keluar dari kamar mandi, ia melihat Ruth yang bersadar pada tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Wanita itu tidak menyadari kehadirannya, sampai suara Andrew terdengar bergairah. "Kau akan menutupi tubuhmu, atau kita kembali mengulang malam kita, sayang?"

Seperti seseorang yang hampir mengenai benda tajam, Ruth tersentak. Wanita itu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Setalah tubuhnya tertutup sepenuhnya, ia menatap Andrew dengan kesal. Seumur hidupnya, Andrew tidak pernah dihidangkan dengan pemandangan menarik di pagi hari. "Aku tergiur dengan tawaranmu, tuan. Tapi tidak untuk sekarang!" ucap Ruth.

"Selamat pagi," sapa Andrew tanpa memperdulikan perkataan wanita itu.

"Selamat pagi juga untukmu. Apa kau ingin kopi atau sarapanmu?"

Andrew tidak tahu apa Ruth berniat menawarkannya atau wanita itu hanya berbasa-basi. Ruth kembali meringkuk di atas tempat tidur. Menggunakan bantal yang lain untuk menutupi wajahnya.

"Secangkir kopi mungkin akan cocok untuk pagi ini."

Tidak seperti pikirannya, Ruth bangkit dari tempat tidur dengan selimut yang melilit di tubuh wanita itu. Andrew tersenyum, ia akan lebih senang jika Ruth membiarkan selimut itu tetap berada di tempatnya. Ruth mengambil pakaiannya dan membawanya ke dalam kamar mandi.

***

Setelah pintu kamar mandi di tutup, Ruth berjalan ke arah kaca besar di hadapannya. Ia meletakkan pakaiannya di penggantung pakaian dan membiarkan selimut yang melilitnya jatuh ke lantai. Ruth menatap wajahnya sendiri di dalam kaca, tersenyum simpul ketika mengingat apa yang mereka lakukan tadi malam. Jantungnya terasa berdebar lebih kencang seperti biasanya, pipinya memerah menahan malu---sesuatu yang tidak pernah dirasakannya kepada pria lain.

Melupakan apa yang diinginkan Andrew, Ruth masuk ke dalam bak mandi yang berisi air hangat dengan harum jeruk segar seperti biasanya. Saat ia duduk dan membuat nyaman dirinya sendiri, uap panas melingkupinya, dan ia mendesah lagi ketika air masuk ke sela-sela tubuhnya. Ruth membiarkan dirinya tenggelam sebelum kembali kepermukaan. Ruth memasang earphone di telinganya, membiarkan alunan nada menenggelamkan pikirannya. Kedua matanya tertutup sambil mengikuti lirik yang terdengar di setiap kata. Tangan Ruth bermain di tubuhnya, membiarkan air semakin menguasainya. Memberikan sensasi hangat melingkupinya.

Ketika ia membuka mata, ia mendapati Andrew yang duduk di pinggir bak mandi sambil tersenyum menatapnya. Pria itu memainkan tangannya di dalam air, lalu membasahinya dengan sekali cipratan. Ruth tertawa ingin membalas, namun merasa sayang karena setelan kerja lengkap yang sudah dikenakan pria itu.

Andrew bersuara. "Aku ingin sekali memandikanmu, tapi pekerjaan membuatku harus ada di kantor lebih cepat dari biasanya."

Lalu Ruth teringat sesuatu yang dari tadi dilupakannya. "Bagaimana dengan kopinya?"

"Lupakan kopinya. Aku hanya ingin bibirmu di pagi hari--" Andrew mendekatinya, memcium bibirnya sesaat sebelum melumatnya pelan. "--kau tetap terasa manis seperti biasanya."

"Aku akan mengusahakan pulang lebih cepat," sambung Andrew.

Setelah kepergian Andrew, Ruth tidak melakukan apa-apa. Ia segera menyeselaikan mandinya dan membuat sarapan untuk dirinya sendiri. Sambil menyantap sarapannya, Ruth meneliti sekitarnya. Setiap tempat yang ada di rumah ini memiliki kenangan tersendiri di hatinya. Ruth tidak yakin bisa meninggalkan atau bahkan melupakan tempat ini. Ia tertawa ketika pertama kali menonton bersama Andrew, lalu di meja ini mereka menikamati makan malam romantis yang disiapkan oleh Andrew dan mama Laurent. Astaga, Ruth melupakan wanita tua itu dalam waktu lama. Sudah lama ia tidak menggunjungi Laurent.

Akhirnya Ruth mengganti pakaiannya dan memanggil Evans untuk mengantarkannya ke kedai milik Laurent.

***

"Kau bisa menjemputku setelah makan siang, Evans." Ruth berkata ketika hendak membuka pintu.

"Aku bisa menunggumu, Miss."

Ruth menghela nafas, pria ini benar-benar loyal terhadap Andrew. Jika Andrew menyuruhnya untuk menjaga Ruth dan mengawasinya, maka Evans akan melakukannya. "Aku akan baik-baik saja. Lagi pula kau akan bosan menungguku hingga siang hari di mobil ini."

Evans menunjuk kedai kopi di seberang mereka. "Aku bisa menunggu di sana."

Ruth menyerah, "Baiklah."

Ruth berjalan ke dalam kedai. Ketika ia membuka pintu, lonceng yang tergantung mengeluarkan bunyi, membuat Laurent yang berdiri di balik meja kasir menatap ke arahnya. Ruth bersumpah melihat wanita tambun itu terkejut sebelum menyambutnya dengan senyuman hangat.  Laurent berjalan menghampirinya, memeluk tubuh Ruth yang jelas jauh lebih tinggi dari tubuh Laurent. "Apa kau merindukanmu, mama."

"Astaga! Bagaimana bisa aku tidak merindukanmu, kau lama tidak berkujung ke kedai?!"

Ruth tersenyum, "Maaf mama, Andrew membawaku dalam perjalanan bisnisnya."

Laurent tertawa. Wanita itu membawanya duduk ke meja bar. Laurent menyuruh pegawai paruh wantu untuk memberikannya dua cokelat hangat dengan beberapa kue cokelat. "Itu tandanya dia ingin selalu bersamamu, sayang. Jika dia menyanyangi sesuatu, mereka tidak akan meninggalkan apapun itu."

"Benarkah, ma?" Ruth bertanya. Ia tidak tahu menahu mengenai pria kecuali tentang mereka yang hanya ingin Ruth membuka selangkah di hadapaan mereka.

"Tentu saja benar. Aku sudah pernah merasakan itu sayang. Andrew menginginkanmu, aku dapat melihat itu di matanya."

"Aku tidak tahu, ma. Aku benar-benar tidak pernah mengerti tentang semua ini. Aku begitu payah tentang hubungan seperti itu."

***

Ps: Sudah siap untuk konflik?



Pretty Woman (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang