Halaman 21

3.3K 164 0
                                        

Andrew membawa Ruth kembali ke Amerika seteleh mereka menghabiskan seharian penuh di Paris. Andrew membawa Ruth ke sebuah festival setelah wanita itu mulai tenang dan beranjak pergi dari pemakaman. Ia merasa bukan dirinya ketika melakukan semua itu. Bagaimana ia bersikap agar dapat membuat Ruth tertawa, tersenyum dan merasa senang. Bagaimana hatinya terasa pedih ketika melihat wanita itu merasakan kesedihan. Ia tahu jelas sebuah perasaan apa yang melingkupinya. Andrew tidak akan menghindarinya. Bahkan ia merasa ini sebuah anugerah. Bagaimana pun, setelah melewati segala macam perempuan di hidupnya, Andrew juga ingin merasakan semua perasaan ini. Perasaan ingin melindungi, membahagiakan dan membuat Ruth nyaman di sampingnya. Persetan dengan pekerjaan wanita itu. Persetan dengan perjanjian mereka di awal.

Di sela-sela waktu, Andrew terus menghabiskam waktu bersama Ruth. Menghabiskan malam dengan bercinta atau hanya berjalan-jalan mengelilingi Seattle, dan sesekali melewati makan malam romantis di sebuah restoran berbintang. Seperti saat ini, Andrew dan Ruth sedang  menghadiri balap kuda yang di adakan oleh Parker di pertenakannya. Andrew benci jika harus berurusan dengan Richard, tapi ia tidak mungkin menolak Benjamin hanya karena alasan putranya menginginkan wanitanya. Ini benar-benar terdengar seperti lelucon!

"Kau menikmatinya?" tanya Andrew.

Ia melihat Ruth yang tersenyum sumringah. Wanita itu mengangguk dengan semangat. "Ini menyenangkan."

Ruth terlihat cantik dengan jumpsuit tanpa lengan berwarna hijau tua. Leher berbentuk V, membuat belahan dada wanita itu terlihat dengan sempurna. Rambut terurai yang di selipkan ke belakang telinga, membuat bahu terbuka Ruth terlihat menggoda untuk mendapatkan sebuah ciuman panjang.

Seusai pertandingan, para penonton berlarian ke tengan arena balap kuda untuk melakukan suatu permainan yang menyenangkan. Mereka berlomba untuk menutup tanah yang berlubang menggunakan rumput yang disediakan di dekatnya  . Andrew menarik tangan Ruth, membawa wanita itu ke tengah-tengah pengunjung yang melakukan hal serupa.

"Apa menyenangkan?" tanyanya di samping telinga, Ruth.

"Tidak ada yang lebih menyenangkan dari bermain rumput dan kotoran, Andrew." Rutb tertawa bersamaan dengan rumput hijau yang gagal untuk ia balik.

***

Setengah jam lebih bermain dengan tanah dan rumput membuat Andrew maupun Ruth merasa sangat kelelahan. Ia membawa  Ruth ke pinggir arena balap dan bertenduh di bawah pohon yang menyediakan karpet piknik. "Apa kau lelah?"

"Tidak benar-benar lelah seperti yang kau bayangkan."

Andrew membuat Ruth meluruskan kakinya. Ia merebahkan kepalanya di paha wanita itu, memainkan rambut Ruth yang mengenai wajahnya. Sedangkan tangan Ruth mengusap rambutnya, membuat mata Andrew tertutup menikmati perlakuan wanitanya.

"Perjanjian kita akan berakhir empat hari lagi." Andrew memulai sebuah percakapan.

Andrew bersumpah ia bisa melihat raut wajah Ruth yang berbeda dari biasanya. Terlihat seperti sedih, putus asa dan rasa kehilangan. "Ya."

"Aku tidak menyangka kita akan melewati hari dengan sangat cepat."

"Waktu terus berputar, Andrew. Kita tidak bisa hanya diam menunggu waktu yang mengendalikan kita. Kau harus bergerak, berusaha agar dirimu yang mengendalikan segalanya, waktu, dan uang."

"Apa kau akan kembali ke Vegas?"

"Mungkin saja. Aku tidak mungkin kembali ke Paris, itu bukan tempatku lagi."

"Apa aku bisa mengantarmu?

Ruth berpikir. Ia tidak suka setiap perpisahan. Melihat Andrew sebelum keprgiaannya adalah sebuah mimpi buruk, dan itu tidak akan berjalan dengan baik. "Sebaiknya tidak. Aku bisa mengenakan bis atau naik pesawat dengan kelas ekonomi dengan uang yang kau berikan.

Andrew mengerutkan keningnya. "Kau yakin tidak membutuhkanmu?"

"Aku tidak tahu."

"Aku pasti akan merindukanmu."

"Aku juga, jagalah dirimu."

Andrew tiba-tiba tertawa. Ia bangkit dan bersadar di batang pohon yang bsar. Membawa kepala Ruth berada di dadanya, mengusap rambut wanita itu dengan pelan sambil menciumi pucuk kepalanya. "Berhentilah bersikap seakan kita akan berpisah sekarang, sayang."

"Kau yang memulainya."

"Kalau begitu hentikan," lalu keduanya tertawa bersamaan.

***

Ruth baru saja menyelesaikan mandinya sejak berendam satu jam yang lalu. Udara dingin yang masuk dari jendela terbuka membuat tubuhnya semakin menggigil. Ruth berjalan ke arah perapian menyala yang tertempel di dinding. Ia berdiri di depan perapian sambil mengososkkan kedua tangannya dan sesekali menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.  Ruth tidak memperdulikan apapun sampai telinganya mendengar suara piano yang berbunyi. Awalnya ia hanya diam mendengarkan permainan Andrew yang terdengar biasa saja. Tapi semakin jarum jam bergerak lebih tinggi, nada itu berubah. Suara tuts piano yang tadinya terdengar rendah kini lebih melingking dengan suara nyanyian yang menggema. Ruth berjalan ke arah satu-satunya ruangan yang hanya di isi sebuah piano. Suara samar-samar yang tadinya terdengar kini semakin jelas. Ruth tidak menyangka bahwa Andrew bisa bernyanyi. Mungkin tidak dapat dikategorikan seperti suara penyanyi sekelas John Legend tapi terdengar lebih cukup dan pas di telinga setiap wanita.

Ruth bertepuk tangan di saat Andrew menyelesaikan permainannya. Ia berdiri di belakang Andrew, memandanginya dari jarak sejauh dua meter. "Suara mu terdengar lebih bagus dari pada yang kubayangkan."

"Terima kasih." Andrew tersenyum. Ia kembali menarikan jarinya di atas tuts piano. "Berjalan kepadaku," ucap Andrew.

Ruth menurut. Berdiri di hadapan pria itu ketika Andrew berbalik menatapnya. Tangan Andrew menggenggam pinggangnya, menggeser tubuhnya hingga terdengar detingan suara dari tuts piano yang tak sengaja tertekan. Andrew mengangkat tubunya duduk di atas piano. "Aku mengginnginkanmu." Andrew menyentuh pahanya.

"Lakukanlah!"

"Aku tidak pernah bercinta di atas piano."

"Mungkin ini akan menjadi pengalaman yang baru, untukmu maupun untukku." Ruth memainkan jarinya di sekitar rahang, Andrew yang ditumbuhi oleh bulu-bulu halus yang tajam. Ia memainkan jari telunjuknya di bibir pria itu, menekan-nekannya sebelum kembali diam.

"Kita akan melakukannya, Ruth."

Pretty Woman (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang