Halaman 14

3.5K 196 0
                                        

"Baiklah." Ruth hanya mengangguk mengikuti apa yang dikatakan Andrew kepadanya.

Ia masuk ke dalam ruang ganti dengan tumpukan pakaian yang dibawakan pekerja di belakangnya. Ia merengut kesal. Tidak, bukan kesal pada Andrew ataupun Evans---walau ia sempat merasakannya---ia kesal pada dirinya sendiri karna selalu menuruti apa yang dikatan Andrew kepadanya. Bahkan ia melupakan amarah sebelumnya, untuk memberi perhitungan pada pria berkuasa itu.

Ruth keluar dengan pakaian pertama. Ia mengenakan kemeja bergaris berwarna biru muda, yang dipadukan bersama cullote pants berwarna putih. Kakinya dilindungi dengan cutaway arch shoes---jenis sepatu berhak tinggi dengan kedua sisi yang tebuka.

Ia melangkah keluar. Mendapati Andrew yang duduk di hadapannya sambil mengenggam ponselnya di samping telinganya. Ketika mata itu menatapnya, Andrew menutup teleponya dan mengalihkan perhatian seutuhnya pada dirinya.

***

"Kau cantik, ini pantas untuk mu."

"Kau melebih-lebihkan. Tapi aku memang cantik, Rusell."

Ia mengatakan setiap fakta yang dilihatnya. Ruth terlalu mengangumkan untuk dilewatkan begitu saja, bahkan untuk dirinya sendiri. Walaupun menjadi wanita yang nakal dengan prilaku bar-barnya, tidak menghilangkan sedikit pun pesona dari wanita itu. Setelah menghabiskan seminggu penuh bersama Ruth, Andrew menyadari bahwa penampilah Ruth akan lebih mempesona dan begitu seksi dengan pakaian yang lebih pantas.

"Gunakan yang lainnya! Aku ingin melihat seorang dewi berdiri di hadapanku."

Untuk dua jam ke depan dipenuhi oleh Ruth yang mecoba pakaian yang dipilihkannya untuk wanita itu. Beberapa pekerja wanita juga membantu Ruth mengenakan pakaiannya, aksesoris, dan juga berbagai macam jenis sepatu yang---tidak dimengerti olehnya. Sedangkan tugasnya hanya satu, ia selalu mengangguk dan membeli setiap pakaian yang dikenakan Ruth.

Saat Ruth masih berada di dalam ruang ganti, matanya menangkap gaun berwarna hitam yang begitu indah. Gaun itu panjang menjuntai ke bawah, tanpa menggunakan lengan. Begitu cocok untuk sebuah acara formal.

Andrew memanggil pekerja yang berjalan melaluinya. "Ada yang bisa saya bantu, Mr. Rusell?"

"Aku menginginkan gaun itu. Ku harap kau membungkusnya dengan rapi. Bedakan dengan pakaian sebelumnya."

"Baik, tuan."

Sesaat setelah pelayan itu pergi, Ruth keluar dari ruang ganti dengan menggunakn gaun floral longgar berwarna cerah dengan motif bunga yang begitu cantik. Rambut Ruth di tutupi dengan topi musim panas berwarna cokelat muda. Kakinya dibalut oleh stiletto holographic metallic  berwarna cerah.

Andrew terpana. Ruth begitu cantik dan mengagumkan. Wanita itu benar-benar jelmaan dewi kecantikan seperti yang ia katakan sebelumnya. Di saat kaki ramping itu berdiri di hadapannya, Andrew terlalu fokus pada wajah Ruth saat wanita itu tersenyum senang kepadanya.

"Aku menyukai pakaian ini!" Ruth berseru senang.

***

Andrew menghentikan mobilnya di depan kedai kue kecil di pinggir jalan. Bau kopi dan beberapa kue yang baru saja diangkat dari pemanggangan menyambut keduanya. Lantai kayu berwarna cokelat, berbunyi ketika mereka menarik kursi untuk diduduki. Seorang wanita tambun mengenakan celemek yang dikotori tepung dan mentega berjalan menghampri mereka.

"Selamat datang di Duck Bexters," kata sambutan dengan senyum lembut, membuat Ruth tersenyum bersamanya.

"Kalian ingin memesan sesuatu?" tanya wanita tambun tersebut.

Ruth terlihat lebih tertarik dari pada Andrew yang hanya diam sambil menatap dirinya dan wanita tua itu. "Aku mencium bau cokelat disini, kurasa aku menginginkannya." Ruth tidak perlu repot untuk melihat buku menu. Ketika hidungnya mencium aroma kue coklat yang selalu menjadi favoritnya, perutnya langsung berbunyi. Menandakan bahwa dia menginginkannya.

"Kami memiliki kue dengan saus cokelat yang kami buat sendiri," wanita itu menatapnya dengan mata berbinar.

"Aku ingin dua," Ruth mengalihkan tatapannya ke arah Andrew. "Apa yang kau inginkan?"

"Hanya roti gandum dengan selai kacang," jawab Andrew seadanya.

Wanita itu menatap keluar jendela sebelum berkata, "Kurasa malam akan segera tiba. Apa kalian ingin memesan sesuatu? Seperti kopi atau teh?"

"Aku kopi." Andrew menjawab terlebih dahulu.

Ruth tersenyum, "Kalau begitu aku teh saja."

"Baiklah. Seseorang akan membawanya untuk kalian. Ku harap kalian menyukainya," wanita itu berkata lalu menunduk sebelum menghilang di balik pintu ganda berwarna kuning---warna yang sama seperti dinding.

Sebuah gambar tokoh kartun seekor tikus dan kucing terlukis di jendela besar di depan kedai. Tempatnya terlihat sempit dengan kasir dan etalase besar yang berisi kue di depan dapur pembuatan kue. Sebagian besar tempat duduk dipenuhi oleh para remaja yang sedang belajar atau hanya bercengkrama dengan kue di mulut mereka.

Seorang wanita yang lebih muda membawa apa yang ia dan Andrew inginkan. Senyum hangat terlukis di bibirnya ketika ia meletakkan secangkir kopi dan teh hijau dengan taburan bubuk tiramisu. Kue datang beberapa saat kemudian. Harum cokelat yang menusuk hidung, membuat Ruth ingin melahapnya sekarang juga.

"Astaga, ini sungguh lezat!" Ruth memekik saat kue dengan saus cokelat yang melebur di dalam mulutnya sebelum masuk ke dalam perut melalui tenggorokannya.

"Kita harus kembali lagi kesini."

Ruth tidak berhenti berbicara ketika kue itu beberapa kali ditelannya. Bergumam betapa lezatnya kue itu. Bahkan ia tersedak saat kue itu masih berada di ujung mulutnya. Andrew hanya tertawa sambil memberikan teh hijau miliknya.

Pretty Woman (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang