Halaman 19 (Mature)

2.9K 155 0
                                        

Halaman 19 (Mature)

Ruth benci ketika ia tidak mengetahui rencana apapun, dari seseorang yang bersangkutan dengannya. Ia merasa asing ketika ia hanya diam saja tanpa menuntut jawaban. Mengikuti Andrew yang terus membawanya ke dalam pesawat, sebelum mereka duduk di sebuah sofa dengan dua botol anggur di atas meja.

"Kemana kau membawaku?"

Andrew menyeringai. "Kau akan tahu dalam waktu beberapa jam ke depan."

"Kuharap kau tidak membawaku ke tempat antah-berantah."

"Setidaknya itu hanyalah sebuah rencana."

Ruth mendengsus dalam diam. Ruth menuangkan anggur ke dalam gelasnya. Ia dapat merasakan sensasi yang membakar ketika minuman itu melewati tenggorokannya. Andrew terus menatapnya. Mata pria itu tertutupi oleh kabut gairah berwarna kelabu.

Ruth terkekeh. "Hilangkan keinginanmu untuk bercinta di dalam pesawat, Andrew."

Andrew berdiri, duduk di sampingnya, membawa tubuhnya berada di atas pangkuan pria itu. Hidung Andrew mengendus lehernya, menimbulkan gelenyar aneh melingkupi dirinya. "Itu ide yang bagus untuk dilakukan. Waktu yang kita tempuh akan cukup untuk dua kali bercinta, mungkin juga lebih."

Andrew terus menggodanya, mencium sekitar leher sampai bahunya. Membawa nyawa Ruth seakan melayang tinggi di atas kapas putih. Ruth tidak bisa menahan untuk tidak mengeluarkan leguhannya. Semakin berteriak ketika Andrew mengigit bagian sensitif di belakang telinganya.

Mereka hanya membutuhkan satu hal. Persetan dengan pesawat yang terguncang akibat menabrak awan.

Menyatu.

Hanya itu yang dibutuhkan Ruth dan Andrew di waktu-waktu seperti ini. Pria itu menggedongnya, membawanya ke arah belakang sampai berada di sebuah kemar berukuran sedang dengan ranjang yang cukup untuk ditempati dua orang.

Andrew masih menciumnya. Mereka berdiri di depan ranjang. Tangan Andrew berusaha untuk melepaskan gaun yang dikenakan Ruth, membiarkannya berada di lantai sebelum membawa Ruth berada di atas ranjang.

Andrew mencumbu setiap jengkal tubuh Ruth yang hanya ditutupi oleh lingerie berwarna merah. Ruth dapat merasakannya ketika Andrew berada dalam tubuhnya, membenamnya hingga keduanya mengeluarkan leguhan. "Kau sungguh luar biasa, sayang. Ah, dan akan selalu seperti itu."

Ruth masih dapat merasakannya. Ia masih dapat merasakan bagaimana perasaan membuncah terlewat senang ketika Andrew memasukinya. Bagaimana keringat membasahi keduanya. Bagaimana setiap suara yang keluar dari mulut mereka, menjadi saksi penyatuan sempurna keduanya.

"Ruth Smith!" Ruth tahu betul bagaimana pria memanggilnya setiap kali mereka bercinta. Ini berbeda, sesuatu yang asing yang baru saja didengar olehnya. Sesuatu yang begitu Ruth dambakan di hidupnya.

"Andrew," bisik Ruth. Dan kemudian ia tidak bisa mengingat apa yang selanjutnya dikatakan olehnya, ketika bibir Andrew menciumnya tanpa tarikan nafas. Lidah Andrew mengirimkan suatu sensasi yang hangat ke seluruh tubuh Ruth. Andrew bersikap tanpa ampun, mengontrol dirinya dan juga perasaannya, mengantarkannya lebih tinggi dan lebih dekat dan dekat lagi kepada... ambang kenikmatan.

Ruth mencapai puncak bersama Andrew yang jatuh di atas tubuhnya. Ke dalam kedasyatan dan panasnya waktu yang mereka lewatkan, dan satu-satunya yang ia dengar hanyalah sebuah kata manis, kalimat merayu, dan itu tidak cukup untuk Ruth.

***

Ruth sedang merapikan penampilannya Setelah ia dan Andrew tertidur lebih dari satu jam. Ruth kembali mengenakan gaun yang di berikan, Andrew dan menata rambutnya yang sedikit berantakan. Beruntunglah tidak ada hal yang terjadi pada riasannya, sehingga ia tidap perlu oanik untuk mencari make up yang tidak ia bawa.

Andrew mengecupnya, membawanya kembali kabin depan setelah pilot mengumumkan sesuatu melalu interkom.

Pesawat lepas landas setengah jam kemudian. Ruth tidak tahu di mana mereka berada. Yang jelas, Ruth merasa ia tidak asing dengan langit yang ia lihat.

Andrew menyelipkan tangannya di balik pinggang Ruth. Pria itu membawanya berjalan ke arah pintu keluar. Ruth cukup terkejut ketika menuruni tangga, matanya menangkap semua mobil klasik mewah, berjenis chevrolet 1957. Mobil dengan gaya klasik, berwarna cokelat muda dan terlihat sangat...

Mahal.

"Bagaimana kau bisa memiliki apapun? Bahkan di saat kau tidak berada di tempatmu."

Andrew menyeringai, "Aku memiliki uang, dan aku bisa melakukan segala yang aku inginkan, sayang."

"Kau masih saja terlalu percaya diri dan sombong, tuan."

"Itu bukan percaya diri sayang. Kau tidak akan pernah bisa mengelak dari apa yang aku lakukan."

Ruth hanya dapat memutar bola matanya.

Andrew berlaku manis dengan membuka pintu mobil untuknya. Pria itu pergi ke kursi kemudi setelah mencium pungggung tangannya.

Ketika mobil Andrew berada di jalanan, Ruth melihat sekitanya. Sesuatu yang tidak asing baginya. Lalu mata Ruth menangkap sebuah menara yang menjulang tinggi, di saat mobil Andrew berada di tengah kota.

Ruth mengeluarkan suaranya yang tercekat." Aku tidak menyaka hal ini akan terjadi. Tapi aku tahu jelas di mana kita berada."

Andrew tersenyum. Sebuah senyum yang terbentuk sangat lebar. "Apa kau senang?"

"Aku tidak tau bagaimana perasaanku, semuanya tercampur. K..kita berada di Paris, kau membawaku kembali ke Prancis!"

"Aku tahu kau pasti membenci segala kenangan burukmu di tempat ini. Tapi aku yakin ada sesuatu yang kau rindukan. Kenangan buruk akan berdampingan dengan kenangan bahagia."

Ruth merasa senang. Ia hendak menangis, tapi tidak ada air mata yang keluar dari matanya. Jadi, Ruth hanya menutup mulutnya sambil menikmati angin Paris yang menerpa wajahnya.[]

Pretty Woman (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang