Andrew tidak berbohong ketika ia mengatakan bahwa dirinya menginginkan Ruth berada di bawahnya dengan keadaan terikat.
Ruth telentang di bawahnya. Wanita itu tidak mengenakan pakaiannya, ia masih ingat bagaimana dirinya melepaskan gaun sutra yang dikenakan Ruth dengan mata tertutup. Tubuh wanita itu benar-benar indah, berlekuk, dan begitu cantik.
Kedua tangan Ruth terikat di antara tiang ranjang. Matanya tertutup dengan kain sebelumnya. Kaki Ruth terbuka lebar, memperlihatkan kaki yang ramping serta paha berisi yang begitu indah untuk disentuh. Milik Ruth yang berwarna merah muda, berteriak mengundangnya untuk segera memasukinya. Namun sebisa mungkin, Andrew menghalau hasratnya. Ia ingin bermain sebelum mereka berdua sama-sama berada di puncak.
"Kau begitu sempurna, sayang."
Andrew menyentuh Ruth, membuat wanita itu mengerang ketika tangannya bersentuhan langsung pada kulit putih Ruth.
Ia menatap, Ruth seperti pria kebanyakan, penuh hasrat dan gairah yang membakar. Wanita itu begitu mempesona dengan tubuh tinggi seperti model. Payudara yang berisi, bibir tebal yang mengundang, serta mata yang menghipnotis. Ruth cantik, seksi, dan begitu menggoda. Kombinasi sempurna untuk wanita yang berhasil menarik perasaannya. Andrew tidak tau apakah ini akan berlanjut atau hanya sekedar rasa penasaran semata. Ia tidak pernah merasakan hal yang membuatnya marah jika pria memandang wanitanya, ia tidak pernah benci ketika seorang wanita mengenakan pakaian terbuka di depan publik. Tapi, Ruth, wanita itu berhasil menembus batasannya.
"Sentuh aku, Andrew."
"Dimana pun yang kau inginkan," balas Andrew.
Andrew merangkak naik ke atas tubuh Ruth. Bibirnya mencumbu tubuh wanita itu hingga menimbulkan bekas kemerahan. Leguhan keluar, membuat dirinya semakin terbakar. Ia mencium, Ruth. Menuntut dan penuh hasrat. Tangannya bergelenjang di tubuh wanita itu, mengusap bagian pinggul hingga ke paha.
"Kau manis, Ruth." Andrew menggeram. Ia tidak bisa berhenti untuk bergerak di atas tubuh Ruth.
"Por pavor," Ruth menggeram di bawahnya.
Tanpa memperdulikan, Ruth. Andrew turun ke bawah, mencumbu kaki wanita itu dengan menghisap jemari Ruth satu persatu. Lidah Andrew membasahi punggung kaki Ruth, menjilatinya seakan ia sedang menyantap es krim favoritnya. Ruth memang seperti es krim, cukup manis untuk membuatnya ketagihan.
Sambil menarik lidahnya menuju pembuluh darah yang berada di paha Ruth, Andrew gemetar dengan perasaan menginginkan. Menemukan titik yang tepat untuk merasakn Ruth dengan cara yang berbeda.
Sambil mengigit-gigit kecil kulit Ruth, Andrew semakin membuka kaki Ruth untuk mencari titik yang paling sempurna.
"Si Dios!" Andrew mendengar Ruth berteriak ketika lidahnya berada pada titik sensitif wanita itu.
Ia menyeringai ketika Ruth, hampir saja membuat rambutnya rontok. Tapi apa pedulinya, itu hanya sebuah rasa sakit kecil yang digantikan dengan kenikmatan luar biasa yang didapatnya dari Ruth.
Andrew merasakan wanita itu melalui bibirnya. Menciumi dinding kemerahan milik Ruth, yang berbau jeruk menyegarkan. Ia bergerak ke atas dan melumat bibir Ruth, dengan ritme teratur. Kaki wanita itu melingkar di pinggulnya ketika kedua tangannya berada di atas payudara, Ruth.
Pinggul Ruth, menegang ketika Andrew masuk ke tubuh wanita itu secara perlahan. Nafasnya terengah-engah. Mereka saling menyatu, membuat keduanya di selimuti kenikmatan yang menerjang seperti gelombang samudra.
"Aku melihat surga, sayang."
Ia menenggelamkan wajahnya pada cekukan leher, Ruth. Sambil terus bergerak dengan dengan irama yang pasti, Andrew menunggu hingga Ruth menegang di bawahnya.
Dan ketika wanita itu meneriaki rasa puasnya dengan umpatan dari bahasa asing yang tak dikenalinya, ia menenggelamkan diri sedalam mungkin. Sampai ia meraih puncak dan membiarkan klimaks menyerang Ruth dan dirinya.
***
Matahari pagi menyelinap masuk di antara gorden besar yang menutupi kamar dari dunia luar. Cahaya putih dan kekuningan merayap masuk, menyusuri lantai dan karpet mahal. Sinar itu menyusup di balik celah-celah gorden yang terbuka. Dan menyinari dua manusia yang masih menikmati waktu di balik selimut. Lilin-lilin yang menyala telah padam sejak dini hari. Meninggalkan gelas-gelas kosong dengan aroma kesturi yang masih berterbangan di langit-langit.
Tapi Ruth tidak merasakn udara dingin di tubuhnya. Ia hanya merasakan hangatnya kulit Andrew yang melilit tubuhnya.
Ketika gelombang kegembiraan memenuhi hatinya, ia dikejutkan dengan Andrew yang tiba-tiba memutar tubuhnya, agar dirinya menghadap pria itu.
Ruth mengangkat kepalanya untuk mencium bahu Andrew yang lebih tinggi darinya.
Pria itu mendesah. "Aku ingin di sini bersama mu."
"Kau tau akhirnya kita akan kelaparan dan aku harus membawamu ke dapur untuk menikmati beberapa panekuk dengan saus apel dan minum segelas susu."
"Dan kau harus bekerja," sambung Ruth.
"Panekuk mungkin iya, tapi tidak untuk susu. Aku meminum kopi, sayang." Andrew menggodanya dengan ciuman-ciuman kecil di wajahnya.
"Berhenti menciumi ku, Andrew. Kau harus membersihkan tubuhmu dan bersiap dengan setelan kerjamu."
Ia bangkit dengan selimut yang melingkupi tubuhnya. "Aku akan menyipkan sarapannya."
"Apa kita tidak bisa mandi bersama?" Andrew mengerlingkan matanya.
"Tidak. Aku yakin jika kita melakukannya, pagi ini tidak akan pernah berakhir." Ruth tertawa sebelum ia menghilang di balik pintu dengan kemeja putih ke besaran yang ia ambil dari lemari, Andrew.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pretty Woman (Selesai)
RomanceKarya ini di privat acak, silahkan follow sebelum membaca ___________________________________ Ruth Smith, harus menjalani kehidupan barunya yang menyakitkan. Berkerja di jalanan bukanlah cita-citanya. Apalagi ia harus bekerja sebagai pelacur, ironis...
