Ruth mencoba memberontak ketika bibir Richard menguasainya. Pria itu bermain kasar, bahkan Ruth dapat merasakan asin darah mengalir di mulutnya. Ia kembali mencoba menyingkirkan Richard dari tubuhnya, kedua tangannya memukul dada pria itu. Hingga Ruth dibuat tak dapat berkutik di saat Richard mengunci tangannya, membawanya terperangkap di atas kepalanya sendiri.
Ruth berusaha tidak membalas apa pun yang dilakukan Richard terhadap reaksi tubuhnya. Salah satu tangan pria itu, memegang dagu Ruth, berusaha untuk membuka mulutnya untuk menerima lidah pria itu.
Pria itu masih menciumi Ruth hingga ia kehabisan nafas. Sampai ciuman Ricahard beralih ke pangkal lehernya, ia menangis saat tangan Richard dengan kurang ajar menampar wajahnya. Pria itu begitu kasar hingga menarik rambutnya dengan cukup kuat. Richard masih menciumi kulitnya, lidah pria itu menjilati tubuhnya seperti es loli. Ruth menutup mata berusaha menahan eragan yang akan lolos dari mulutnya.
Dari ujung matanya, ia dapat melihat Andrew berdiri tepat pada saat pintu terbuka. Ruth bersyukur ia akan terbebas dari pria brengsek di hadapannya.
"Andrew..." cicitnya pelan.
Andrew melangkah mendekati Ruth dan Richard. Dalam hitungan detik, tubuh Richard terlempar jauh dari tubuhnya. Andrew memukul pria itu tepat di wajah, dan menendang perut Richard dengan tendagan keras. Andrew duduk di atas tubuh Richard, memegang kerah baju Richard, hingga membuat pria merasa tercekik. "APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA?!" Andrew berteriak marah. Ruth cukup tersentak ketika mendengar Andrew yang selalu bersikap manis dan lembut, berubah 180 derajat hanya dalam hitungan detik.
Richard tertawa. "Tanyakan pada kekasihmu yang cantik dan begitu seksi."
"Bahkan dia melupakan apa yang kami lakukan di malam itu."
Ruth terkejut ketika Richard mengatakan itu seakan dirinya diam-diam berselingkuh di belakang Andrew. Mereka mungkin memang melakukan hal itu, tapi tentu saja Richard membayarnya dengan apa yang dilakukannya.
Ketika Andrew menatapnya, Ruth bersumpah ia merasakan dadanya terasa sesak. Ruth dapat melihat kemarahan, cemburu, rasa sakit, dan kekecewaan di mata Andrew. Semua bercampur aduk, dan Ruth tidak mengerti itu semua.
"Aku bisa menj---" Richard memotong perkataannya secara tiba-tiba.
"Ruth benar-benar hebat saat kami melakukannya. Aku masih ingat bagaimana bibir itu mencumbuku, bagaimana eragan dan desahan saling bersahutan di dalam ruangan remang yang memabukkan."
Ketika Andrew mendengar kaliamat itu keluar dari bibir Richard, pria itu mungkin sudah kehilangan kesabarannya saat ia tanpa ampun memukul wajah Richard tanpa henti. Andrew membuat pria itu bangkit dan melemparnya keluar melewati pintu. "Kau akan menyesal berurusan denganku, Parker." Setelah itu, Andrew menutup pintu dengan bantingan yang keras.
Richard menatap Ruth yang terduduk di atas lantai. Pria itu berjalan menghampirinya, dengan langkah gontai dan nafas yang memburu. Ruth tidak tahu bagaimana ia harus bersikap. Ia yakin Andrew sudah salam paham dengan apa yang diucapkan si bajingan Richard.
Ruth dapat merasakan, Andrew bersiri beberapa langkah di depannya. "Maafkan aku. Ini semua salah pa---"
Ketika Andrew tertawa dan bertepuk tangan dengan keras, Ruth menghentikan perkataannya. Ia di buat bingung dengan apa yang di lakukan Andrew. Pria itu sudah jelas terluka, tapi bagaimana Andrew bersikap seperti ini.
"Kau menjadi pelacur ketika aku tidak ada di penthouse ku sendiri, Ms. Smith."
Perkataan Andrew bagaikan tamparan keras yang menyakitinya. Ruth tidak pernah terluka ketika orang lain memanggilnya seperti itu bahkan yang lebih buruk. Tapi ketika pria yang membuatnya nyaman mengatakan itu secara langsung di hadapannya, rasanya begitu menyakitkan. Seperti ribuat jarum yang menusuk jantungnya. Mungkin ini yang dikatakan orang-orang sakit tapi tidak berdarah.
"Ini hanya salah paham, Andrew!"
Andrew tertawa, "Mungkin kau pikir aku bodoh."
"Bagaimana kau bisa menghancurkan segalanya dengan kelakukanmu, Ms. Smith."
"Mengapa harus Parker."
Ketika Ruth ingin menjawab, ia tidak diberi kesempatan. Andrew terus saja berbicara tanpa jeda.
"Kau bahkan membuka kakimu untuk setiap anjing yang tidak berharga. Dan kau hampir membukanya lebar di penthouse ku, Ms. Smith."
Tidak. Sudah lama Ruth tidak mendengar Andrew memanggilnya dengan nama belakangnya. Rasanya Ruth ingin menjelaskan semuanya, tapi tidak sedikit pun Andrew memberikannya kesempatan untuk berbicara. Rasanya seakan separuh jiwanya direnggut paksa dari tubuhnya.
"Dan kau bertingkah sangat memalukan dan tidak tahu aturan!"
"Aku pikir kau akan berhenti bersikap seperti wanita penggoda!"
"Aku tidak suka memiliki pelacur!"
Cukup sudah!
Ruth tidak bisa mendengar hal yang lebih menyakitkan dari ini, keluar dari mulut Andrew. Pria itu tidak menginginkannya, dan untuk apa ia berada di tempat pria itu. Jelas-jelas Andrew bersikap seakan mengusirnya.
Ruth berdiri, ia menatap Andrew dengan mata yang memerah sebelum berlalu dari hadapan pria itu. Ruth harus segera pergi dari tempat ini.
Ruth masuk ke dalam kamar yang selama ini ditempati olehnya dan Andrew. Ia menatap sekeliling, setiap sudut di tempat ini memiliki kenangan yang tidak akan dapat di lupakannya. Bagaimana mereka tertawa, mendesah, lalu saling berbagi kasih sayang bersama. Tanpa membuang waktu lagi, Ruth mengambil kopernya dan memasukkan bajunya secara acak. Ruth bahkan mengganti sepatu mahal yang dibelikan Andrew, dan menggantinya dengan sepatu boots biasa miliknya.
Ruth segera menarik kopernya keluar dari kamar itu sebelum air matanya kembali menetes. Andrew masih berada di ruang tengah ketika Ruth ingin kelaur dari tempat ini. Ruth berhenti tepat di hadapan pria itu. Ia berkata tanpa menatap Andrew. "Jika kau memang tidak menginginkanku, aku akan pergi!"
"Aku pelacur yang kau sewa, Mr. Rusell. Aku membutuhkan bayaranku." Ruth seakan kehilangan suaranya ketika mengatakan hal itu.
Mereka terdiam cukup lama, sampai Andrew mengambil dompetnya dan mengeluarkan sejumlah uang dari sana. Andrew meletakkan uang itu di atas meja sebelum pria itu beranjak pergi menjauhinya.
Ruth terdiam. Ia menatap uang yang tergeletak di atas meja. Tanpa mengambil uang itu, Ruth segera beranjak pergi meninggalkan penthouse Andrew.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pretty Woman (Selesai)
RomanceKarya ini di privat acak, silahkan follow sebelum membaca ___________________________________ Ruth Smith, harus menjalani kehidupan barunya yang menyakitkan. Berkerja di jalanan bukanlah cita-citanya. Apalagi ia harus bekerja sebagai pelacur, ironis...
