Park Ji Min

298 29 3
                                    

“Kumohon bantu aku ya? Kumohon Jiminie. Kumohon,” [Name] menangkupkan kedua tangannya dengan tatapan memohon. “Aku akan memesan pizza dengan ukuran besar hanya untukmu, ya, ya, ya?”

Jimin menggelengkan kepalanya sembari menyembunyikan senyum. “Aku sedang diet. Tidak bisa makan pizza walaupun aku ingin.”

Wajah memelas [Name] seketika berubah masam mendengar balasan Jimin. “Diet lagi? Tidak. Aku tidak akan mengizinkanmu diet. Kau akan membantuku dan kita akan makan pizza lalu gemuk bersama, bagaimana?”

Sebelumnya Jimin belum pernah menolak permintaan [Name] dan ia tidak akan memulainya sekarang. Dengan senyuman kecil, Jimin mengangguk, mengiyakan permintaan [Name] agar membantunya mencari hadiah untuk maknae mereka.

“Yey!” [Name] melompat ke pelukan Jimin tanpa berpikir dua kali. Gadis itu mengubur wajahnya di lekukan leher Jimin seraya menahan diri agar tidak tersenyum lebih lebar lagi. “Kau yang terbaik Jiminie. Aku sangat mencintaimu.”

Jimin tersenyum getir. Betapa ia berharap kalimat itu bermakna lebih dalam daripada yang terdengar. Betapa Jimin berharap kalimat itu akan ia dengar setiap hari sampai jiwanya  meninggalkan raga. Namun, impian hanya tinggal bayangan. Tidak semua keinginannya mampu terpenuhi oleh takdir.

Tidak ingin mengecewakan [Name], Ia mengusap punggung [Name] ringan seraya mengeratkan pelukannya. “Ya ya. Aku juga mencintaimu.”

Entah sudah berapa lama Jimin menikmati pelukan [Name], tapi ia harus menahan rasa kecewa ketika [Name] melepaskan pelukan mereka saat pintu kamarnya terbuka dan menampakkan sosok Jungkook dari balik pintu. Maknae itu langsung memperlihatkan gigi kelincinya sambil menghampiri [Name] lalu mencium pipi gadis yang beberapa saat lalu masih dalam pelukannya.

“Kenapa noona bisa di sini? Bukankah sebelumnya noona bilang tidak bisa datang hari ini?” Jungkook memeluk [Name] tanpa basa-basi. Tidak terlalu mempedulikan Jimin yang menatap keduanya sendu.

“Aku tidak bisa menahan rindu lebih lama. Aku merindukan kelinci kesayanganku,” [Name] berdiri dengan jari-jari kakinya, menempelkan bibirnya di pipi Jungkook selama beberapa saat.

Pipi Jungkook menggembung lucu, bibirnya mengerucut sebal. “Kalau memang merindukanku, kenapa Jiminie-hyung dulu yang melihatmu? Yang menjadi kekasih noona kan aku, bukan Jiminie-hyung.”

Ucapan Jungkook seakan menampar Jimin kembali pada kenyataan. Ya, [Name] memang kekasih dari Jungkook. [Name], gadis yang bersamanya sejak mereka mengenal apa arti dari menari, gadis yang selalu memamerkan senyum hingga saat melihatnya hari Jimin terasa ribuan kali lebih baik. Gadis yang diam-diam ia cintai.

Park Jimin yang selalu berusaha tersenyum bahkan saat hatinya meraung sedih. Park Jimin yang selalu menutupi perasaannya hanya untuk menjaga keceriaan orang-orang di sekitarnya. Park Jimin yang tidak pernah gagal membahagiakan orang lain itu memang mencintai [Name].

Park Jimin mencintai gadis yang tidak seharusnya ia cintai.

Karena saat ini [Name] adalah milik Jungkook. Bahkan maknae itu sudah berani menyematkan cincin di jari manis [Name] pertanda serius dengan hubungan yang keduanya jalani. Jimin hanya bisa tersenyum kecut setiap kali Jungkook menceritakan hubungannya dengan [Name]. Tidak sampai hati ia menghancurkan hubungan dua orang yang sangat ia sayangi hanya untuk keinginan egoisnya.

Ia rasa tidak ada member yang mengetahui perasaannya. Namun, beberapa hari setelah Jungkook mengumumkan hubungannya dengan [Name], Yoongi menghampirinya dan menatapnya dengan penuh simpati.

‘Aku tidak tahu harus mengataimu sebagai laki-laki paling bodoh atau memberimu penghargaan sebagai sahabat paling baik. Tidak seharusnya kau melepaskan sesuatu yang sangat berharga bagimu begitu saja, Jim,’ itulah yang Yoongi bisikkan saat mendapati Jimin tengah menatap [Name] dengan tatapan kecewa penuh damba.

Jimin mengakui kalau ia pengecut, tapi saat melihat senyuman [Name] bersama dengan Jungkook memaksanya untuk bertanya ‘apakah [Name] akan sebahagia ini kalau ia mengatakan perasaannya?’ atau ‘apa dirinya yang banyak kekurangan ini pantas mendapatkan sosok yang sangat luar biasa untuk menjadi pendampingnya?’

Kalau ada yang mengejek Jungkook dengan sebutan perusak kebahagiaan orang lain atau laki-laki egois yang tidak punya perasaan, maka Jimin adalah orang pertama yang akan menghajar sosok itu.

Tidak. Walaupun hatinya terasa nyeri melihat pujaan hatinya bahagia dengan ‘adik’ yang sangat ia sayangi, tapi tidak ada yang boleh menyalahkan Jungkook karena sikap pengecutnya. Jimin yang tidak mampu mengatakan perasaannya, ia yang tidak sanggup memikirkan resiko kehancuran persahabatan mereka, ia yang sudah menyia-nyiakan kesempatan selama bertahun-tahun, ia yang melepaskan kebahagiaannya begitu saja.

Kejadian hari ini adalah salahnya. Bukan kesalahan Jungkook.
Mungkin Jimin terlalu pandai menyembunyikan perasaannya, mungkin juga Jungkook yang terlalu melupakan sekitar saat bersama [Name] hingga tidak bisa mendengar suara Jimin yang begitu lirih atau tatapannya yang begitu sendu. Tapi sepertinya Jungkook tidak pernah curiga kalau Jimin menyimpan perasaan yang amat dalam untuk [Name].

“Hyung. Hyung! Kenapa melamun saja? Mau ikut dengan kami tidak?” suara Jungkook yang setengah berteriak membuyarkan lamunan Jimin akan perasaannya. “Aku ingin membeli sesuatu untuk Jin-hyung. Siapa tahu hyung ingin membeli sesuatu juga atau mungkin berbaik hati ingin membantuku.”

Jimin menggelengkan kepalanya dengan berat hati. “Tidak bisa Jungkook-ah. Aku masih ingin latihan.”

Ada dua hal yang mampu meruntuhkan seluruh pertahanan Jimin, yaitu air mata [Name] dan raut wajah mencebik Jungkook. Dan melihat Jungkook kembali cemberut hanya mendorong Jimin untuk mengikuti permintaannya, tapi bayangan pasangan kekasih di hadapannya bergandengan tangan dan tertawa bersama hanya akan menambah luka untuknya. Jimin tidak ingin berakhir dengan membenci Jungkook walaupun ia tidak akan bisa melakukannya sampai kapanpun.

“Baiklah. Kalau begitu kami pergi dulu. Sampai jumpa Jimin-hyung, Taetae-hyung.”

Tepat saat Jungkook dan [Name] menghilang di balik pintu, Jimin merasakan tatapan tajam dari Taehyung yang menabrak punggungnya.

“Aku tahu kalau kau sangat menyayangi mereka berdua,” ucap Taehyung. “Tapi kapan kau akan memikirkan kebahagiaanmu sendiri? Asal kau tahu saja, hyung selalu khawatir dengan keadaanmu setiap kali [Name] mampir.”

Jimin menghela nafas berat lalu menatap langit-langit berusaha menghalau air mata yang siap turun tiap kali [Name] dan Jungkook menjadi topik pembicaraan.

“Aku tahu, Tae. Kau tidak perlu mengingatkannya berulang kali. Aku juga ingin bahagia sama seperti Jungkookie.”

“Kalau begitu cari kebahagiaanmu sendiri, pabo.”

“Mencintainya adalah kebahagiaanku. Biarkan aku mencintainya dalam diam walaupun aku tahu hanya akan ada sakit dan perih dari kebahagiaanku ini.”

Diriku galau..

Seven WingsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang