"Apa?" Neal melotot ke arahku.
"Tanggal kematian adiknya, sama dengan tanggal kematianku yang pertama!" Aku mengulanginya lagi. Neal tidak bergeming.
"Artinya?"
"Artinya? Artinya aku segaris dengan adiknya, Vinny. Bukan Val. Ia meninggal tanggal 20 Desember 2001. Aku mengalami kematian pertamaku di tanggal itu. Dan tidak menutup kemungkinan kami meninggal di waktu yang bersamaan!! Ini hampir masuk akal dan tidak bisa dibilang kebetulan" Aku hampir memekik. Kenyataan baru ini membuatku bersemangat.
"Woah..woah..tahan dulu" Neal mengangkat kedua tangannya "Lalu kenapa Val bisa.. Ber-efek padamu? Itu juga bukan kebetulan kan?"
"Kami di sekolah yang sama Neal. Kalau dipikir-pikir, bisa jadi memang kebetulan kalau ia bertanggung jawab atas kecelekaan-kecelakaan itu!"
"Bagaimana dengan ia bisa 'merasakan' pemunduran Rae? Kebetulan kah itu?" Sambung Neal. Suaranya menajam. Aku mengangkat pundakku
"Entahlah. Sekarang ini, sesuai dengan penjelasan yang kudapat, aku segaris dengan Vinny. Val tidak akan menyakitiku. Ia tidak punya alasan untuk menjauhiku" aku mengangguk senang. Neal tidak menanggapi.
"Rere.."
"Percayalah padaku Neal. Aku yakin akan hal ini!"
"Tidak bisakah kau melupakannya?" Tanya Neal pelan. Aku tertegun. Matanya yang cokelat, mirip denganku, memandangku bagai binatang terluka.
"Oh Neal..."
"Tidak bisakah kau merelakannya?"
"Aku..." Aku menggeleng pelan "tidak bisa Neal"
"Tidak bisakah aku mengantikannya Rae?!"
Aku menggeleng lagi. Kali ini lebih kuat dan mantap.
"Tidak ada yang bisa menggantikannya, Neal. Sejak pertama kali aku melihatnya, ia sudah mengambil alih hatiku" aku tersenyum ketika mengingat momen-momen indahku bersamanya.
"Dan ia selalu ada disana. Ia berhasil menyingkirkan semua ketakutan yang dulu ku alami. Menyentuhnya ujung jarinya saja sudah membuatku merasa tenang dan aman... Ia mengerti diriku Neal, dimana tidak ada orang lain yang bisa mengerti aku"
"Aku menyingkirkan semua ketakutanmu yang SEKARANG!" Teriak Neal. Tangannya menggebrak meja dengan keras. Wajahnya memerah.
"Lihat aku Rae... Lihatlah aku seorang" katanya lirih. Aku mendekatinya dan memegang bahunya dengan lembut
"Kau cowok yang baik Neal, aku yakin kau akan menemukan seseorang yang pantas untukmu"
"Jangan gunakan kalimat murahan 'kau-akan-bertemu-yang-lebih-baik' itu padaku!" Ia menyentak bahuku dan menggerakan badanya agar berhadapan denganku
"Aku tidak mau 'yang lebih baik' Rae.. Aku mau.. Kamu.. Karena kau berbeda. Kau berani di level yang berbeda. Kau yang jarang tertawa dan dingin. Kau yang menjadi dirimu sendiri tanpa peduli orang lain. Kau yang berjuang melawan ketakutanmu seorang diri. Kau yang rela berkorban demi orang yang kau sayangi. Kau..." Ia terdiam dan melanjutkan "Kau benar-benar menyayanginya ya?"
"Ya" jawabku.
"Kau tahu? Aku tidak peduli. Aku tidak akan berhenti berada di sisimu sampai kau berjalan di altar dan orang yang akan menjadi pendampingmu mengeluarkan surat hukum agar aku menjaga jarak sekurang-kurangnya 1000 meter darimu!" Katanya keras. Aku tertawa kecil.
"Aku senang mendengarnya. Tapi itu tidak akan menghentikanku untuk mencarikan kencan untukmu" jawabku.
Hening panjang menyelimuti kami. Lalu ia membuka suara
"Kau yakin kau akan kembali pada Sewell dengan kesimpulan dadakanmu itu?"
Aku menggeleng "tidak. Aku butuh kepastian"
"Bagaimana dengan ibumu?"
"Ia sudah menceritakan semuanya padaku. Aku berpikir bahwa aku harus menemui seorang Jinx. Mereka tahu lebih banyak karena mereka mengawasi"
"Jadi, kau akan menemui kakaknya?"
"Tidak. Seseorang yang tahu lebih banyak lagi dari kakaknya" aku terdiam sebentar dan Neal menantikan lanjutan kalimatku
"Aku harus menemui orangtuanya"
"Kau yakin?"
"Entahlah. Itu ide yang terbaik" balasku. "Tapi aku tidak tahu apakah ibunya atau ayahnya"
"Well, itu bisa dibilang gawat"
"Orangtuanya sudah bercerai. Masing-masing menikah lagi. Ayahnya memiliki anak dengan istri barunya sedangkan ibunya tidak. Hanya itu saja yang kutahu"
Kami terdiam lagi. Aku berpikir keras. Aku tidak berani mengambil resiko dengan menemui orangtua yang salah.
"Ayahnya" kata Neal.
"Maaf?"
"Menurutku ayahnya lah seorang Jinx"
"Menurutmu? Aku butuh sesuatu yang pasti disini Neal"
"Ibunya tidak memiliki anak lagi, wajar bagi sesorang yang baru saja kehilangan anaknya. Sedangkan ayahnya, ia memiliki tiga anak sebelumnya. Bagi seseorang yang hidupnya dikejar waktu, pasti ia akan berusaha memiliki keturunan yang cukup. Apalagi dengan keluarga baru" jelas Neal. Aku mengerutkan kening. Sedikit masuk akal memang.
"Baiklah. Peluangnya tetap 50:50, tapi aku tidak punya pilihan. Bisakah kau membantuku menemukannya Neal?"
***
Aku berdiri di depan pintu yang bernomor 312 itu. Setelah menghela napas berkali-kali karena menapaki tangga dari gedung berlantai 10 ini dan ayah Val tinggal di lantai tiga. Siapa yang menyangka ayahnya tinggal di kota besar-sedangkan kami di pinggirang kota- dan tinggal di apartemen yang tidak terlalu kecil dan tidak terlalu mewah juga. Selain itu aku juga menghela napas untuk menghilangkan kegugupanku.
Baiklah, ini dia Raellene. Kalau kau ingin mencari tahu kebenarannya, inilah saatnya. Aku menyemangati diriku sendiri.
Aku menekan tombol bel. Hening. Aku menekan bel lagi. Kali ini seseorang membuka pintu.
Seorang gadis kecil. Berambut pirang dan dikuncir dua, wajahnya berbintik-bintik.
"Halo, selamat siang" sapaku ramah. Gadis kecil itu tersenyum
"Halo.." Balasnya sambil malu-malu
"Apa Mr. Sewell ada di rumah?"
Ia mengangguk dan segera berlari ke dalam
"Dad! Daaad!! Ada tamu" teriakannya terdengar sampai ke pintu. Aku mendengar mereka bercakap-cakap dan menangkap beberapa kata 'cewek', 'muda', dan 'cantik'. Wow, kuharap istri barunya tidak mendengarnya. Bisa-bisa terjadi salah paham.
"Selamat siang" sosok laki-laki yang sudah berumur muncul di ambang pintu. Rambutnya mulai beruban di beberapa tempat dan postur tubuhnya tinggi seperti Val. Aku menyadari ia memiliki mata Val, atau Val yang memiliki matanya. Mata yang berwarna kelabu yang kelam dan dingin.
"Se..selamat siang" aku menjawab dengan gugup. Tanganku gemetar sedikit
"Mr. Sewell? Perkenalkan nama saya Raellene Sullivan" aku menyimpulkan senyum. Ia mengangguk kecil. Tapi wajahnya tampak terkejut sewaktu aku menyebut namaku walaupun cuma sedetik.
"Maaf apabila saya menganggu anda, tapi saya ingin bicara sebentar. Ini tentang.. Putra anda" aku menjelaskan
"Putra saya?"
"Val.. Maksud saya, Vaclav Sewell"
"Oh astaga.. Apakah ia melakukan hal buruk padamu" seketika wajahnya berubah tegang
"Oh tidak..tidak pak.. Sama sekali bukan itu. Ini sesuatu yang... Berbeda" aku buru-buru membetulkan duduk perkara.
"Sesuatu yang berbeda? Apakah itu?"
Aku berdeham singkat sebelum memutuskan mengeluarkan kartu matiku. Apabila aku salah sasaran, pasti aku tidak bisa lolos dari tuduhan 'tidak waras'
"Saya seorang Underhand"
KAMU SEDANG MEMBACA
Reversed Time
FantasyKetika kematian tidak bisa menghampirimu... Rae seorang gadis biasa saja. Tapi ada 1 yang membuatnya istimewa. Ia tidak bisa mati. Bukan abadi, hanya berumur panjang. Keadaannya itu membuatnya frustrasi, paranoid, dan berbeda. Sampai ia bertemu Val...
