21. Kaka ipar🎭

38 3 0
                                    

Yang menciptakan kata JOMBLO itu sapa sih? Di denger sakit banget 😌

^^^^^

Alan merutuki kesal kepada sikap ketiga sahabatnya. Bagaimana tidak, ketiga temannya tidak tau malu menyita suguhan yang diberikan Zaki. Namun, yang lain hanya tertawa.

"Nih kakak kelas bagi dong, untit sendiri !" ketus Jose.

"Yaelahh Jos, kek gak tau kita aja! Eh Pana, ada kantong plastik gak?" tanya Juna.

"Buat apa? Mabok?" ucap Devana.

"Nih buat ngantongin jajan buat di rumah, hihi" Alan menoyornya.

Velio yang masih menatap wajah Davina merasa sangat iba, ingin saja ia menangis. Pasalnya, baru saja mereka jadian sudah ada hal yang tidak di inginkan.

"Udah Pel, gak usah Baper! Ntar juga sembuh!" ucap Willi dengan santainya.

"AMIN" teriak mereka bersama.

"Eh ssstttt Jangan berisik !!" perintah Vana, yang lain saling menimpuk mulut mereka karena ceroboh berbicara.

Alan izin untuk keluar dari ruangan Davina. "Van, gue duluan ya.. Sekalian jenguk Nenek gue. Deket sini!"

"Lah jadi opnam juga nih? Kalau gitu Vana ikut kak, pengen tau juga kan?"

"Gak usah Van, lo sini aja.. Masak anak- anak disini lo pergi. Lain kali aja ya! Bay.. Bay semuaa jangan kangen gue! Termasuk lo Will " ucap Alan. Willi terkekeh geli.

*****

Saat Alan menghampiri ruang inap yang dua hari ini tidak didatanginya, ia kaget saat melihat Alda berada di dalam dan menyuapkan bubur pada Neneknya.

Alda menatap Alan datar. Alan menatap Alda sekilas namun ia antusias melihat neneknya yang sudah sadarkan diri.

"Nenek udah sembuh.. Cepet pulang nek, biar Alan ada temennya dirumah" bujuk Alan agar neneknya semangat untuk sembuh.

"Nenek Ida udah bangun dari kemarin, dia nyari'in lo terus.." ucap Alda.

"Lah terus, kenapa lo bisa dateng ke sini?" tanya Alan heran.

Alda diam, Alan menatapnya kesal tetapi, pintu ruangan terbuka yang menunjukkan sosok Herman dibalik pintu.

"Papa yang nyuruh Alda kesini. Buat menjaga Nenek kamu" sahut Herman.

"Untuk apa?" ketus Alan.

"Kemana aja kamu akhir- akhir ini? Salah kamu sendiri tidak pernah datang jenguk nenekmu.. Apa bedanya kamu sama papa?" ucap Herman dengan melipatkan kedua tangan didepan dadanya.

Alan mengakui kalau akhir - akhir ini ia jarang jenguk neneknya.. Karena ia datang menemui Devana di Danau. Tapi tidak harus memanggil Alda kan? Apalagi Alan sangat membencinya.

Alda memang dekat dengan keluarga Alan. Tidak heran jika sejak kecil Alan pernah menyukainya dan sekarang Alda yang mengejar cinta Alan kembali.

"Om, Alda pulang dulu ya.. Alan kan sudah datang.. Apalagi Alda tidak penting bagi Alan" pamit Alda.

"Emm Alda, maafkan sikap Alan ya.. Om janji akan bantu hubungan kamu" ucap Herman kemudian Alda menyalaminya. "Alan! Sebaiknya kamu antar Alda!" perintah Herman.

Look At MeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang