PROLOG

387 57 43
                                    

Happy reading ❤
Sorry, Not INTRODUCE character in a story Look at me.

°°°°°°°°°°

Mecklenbrug-vorpommern

Jerman

"Davina cepet bangun, gue bosen liat lo kayak gini terus. Tidur didalam ruangan terkutuk ini. Udah hampir setahun lo diam mematung kayak gini. Lo nggak capek hidup dibawah alam sadar sana? Apa disana lo dapat kehidupan yang lebih baik? Gue tau lo denger suara gue hiks hiks"

"Devana.." Panggil seorang Pria berumur 38 tahunan yang tak lain adalah David Ayah Devana, Davina, dan juga Daniel.

"Kamu harus pulang, ini sudah malam besok kamu sekolah!" tegas David.

"Enggak Pa, Vana tetep disini sampai Vina bangun" bantah Devana.

"Sayang, kamu jangan seperti ini terus. Kamu harus ikut Mama pulang!" ujar David.

"Tap--"

"Devana, come on back!" perintah Ellina istri David yang merupakan orang asli Jerman.

David melihat Devana dan Ellina yang semakin menjauh dari kamar VVIP no 14 yang merupakan tempat khusus Davina di rawat.

David melihat anaknya yang terbaring tenang dengan banyak selang yang menggelantung dari tubuhnya.

"Davina.. ayo bangun sayang, Papa yakin kamu gadis yang kuat" ucap David dengan sendu mengibakan anaknya.

*****

"Was machst du denn hier?" Devana terkejut saat mendengar pertanyaan seseorang yang tak asing baginya.

"Ngapain lo kesini?" ketus Devana yang memang membenci sosok dihadapannya.

"Okey, ak- aku harus berbicara bahasa indonesia denganmu" ucap laki - laki berdarah Jerman "suka - suka ku kan?" lanjutnya.

"Semerdeka lo aja deh"

"Yeah, kamu masih marah sama aku ya?, sudah lupakan saja peristiwa yang dulu"

"Pala lo peang, seenaknya lo habis nyakitin kembaran gue, terus lo suruh gue lupain itu semua" bentak Devana dengan menajamkan matanya ke Arnold.

"Sedang apa kamu disini? Ini masih jam pelajaran kan?" tanya Arnold yang berusaha mengalihkan pembicaraannya.

"Bukan urusan lo, alergi sama pelajaran berumus gue" ketus Devana.

"Ternyata tetep saja sifatmu dari kecil, benci sama yang namanya pelajaran bahkan semua pelajaran. Hasshh"
Ujar Arnold dengan balasan senyum tipis oleh Devana.

Devana anak berambut pirang dengan lensa matanya yang hazel dan penceria membuat siapa saja selalu nyaman dengannya, Devana yang benci dengan pelajaran dan tak heran jika nilainya tidak pernah ada. Tapi, dia multitalenta kecuali pelajaran tentunya.

"Sana lo masuk ke kelas! Gangguin pemandangan gue aja, jadi burem semua nih ada lo!"

"Yaelah Van, baru saja ketemu. Emang kamu gak kangen gitu sama aku?" Arnold  yang kepandaiannya bisa menguasai 12 bahasa didunia salah satunya bahasa indonesia meskipun tidak mengenal kata lo-gue.

"Nggak, bodo amat lah. Kalo gitu gue yang cabut" ketus Devana sembari mengambil tas dan jaketnya.

"Mau kemana? Ntar ketemu bisa?"

"Gak, gue ke tempat Davina"

Arnold hanya berdecak kesal sembari melihat punggung Devana yang semakin menjauh.

*****

Sore itu sama seperti sore kemarin dan seterusnya, tidak ada lagi yang bisa buat Devana tertawa bebas. Yang ada hanya gelap.

Iya gelap, bahkan cahaya satupun menghindar dari gadis ini. Karena melihat keluarga brengsek seperti keluarganya.

Orang tua yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, kakaknya yang kuliah di NY bahkan saudara kembarnya terbaring lemah diatas nakas ruangan terkutuk itu.

Devana sendiri.

Berharap mengganti kehidupan yang begitu nyata ini.

Penghuni wattpad baru dan butuh saran atau masukan untuk cerita ini.
Jangan lupa vote and comment !!!


Look At MeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang