22. Selamat Jalan Nenek 🎭

44 4 0
                                    

09.34
"Lagi - lagi kamu tidak mengerjakan PR, di Rumah itu ngapain saja? Tugas ini sudah 1 minggu yang lalu. Soal hanya 4, kenapa kamu selalu tidak mengerjakan?" tegas bu Ajeng menatap tajam Devana yang sama sekali tidak merasa bersalah.

"Santai dungsss!" ucap Devana santai. Teman - teman lainnya hanya mengumpat melihat Vana yang menjengkelkan.

"Kesabaran saya sudah habis, mulai besok kalau ada pelajaran saya, kamu tidak boleh masuk kelas! Ingat!"

"Yaelah gitu doang ngambek. Lagian Vana juga tau kalau soal nya itu cuman 4, tapi jawabannya itu susah dunia akhirat, udah gitu panjanggg banget kek ekor kecebong !"

Bu Ajeng terus menggeleng, kalau saja dia bukan anak dari sahabat pemilik sekolah ini, dia sudah dikeluarkan dari sekolah.

Tak lama bel istirahat berbunyi. Seperti biasa Devana dan 2B pergi ke Kantin.

"Lo tuh emang si goblok ya! Itu Guru bukan temen main lu bego!" ketus Bisma mengolok Devana.

"Tau nih, jangan mentang² tajir lo se enaknya sama orang!" sahut Bella.

"Lo berdua ngomong apa sih? Udah buruan pesen makanan, gue traktir !" ucap Devana, Bisma bersemangat memesan makanan sebanyak- banyaknya.

*****

Alan meraba ponsel di saku nya, dilihatnya ada telepon dari pihak rumah sakit.

+628xxxxxxxxx

Hallo

Selamat pagi pak, ini dari pihak rumah sakit Delta Surya

Iya tau, saya bukan bapak - bapak, ada apa?

Memberitahu bahwa pasien bernama Idahera telah meninggal dunia pada pagi jam 08.45 diharapkan anda segera mengurus administrasi.

Apa? Nenek meninggal?

.Tutt tut..

Alan melempar handphone ke segala arah, teman- temannya pun merasa bingung. Alan berlari mengambil motornya menuju Rumah Sakit.

"Nenek nya meninggal? Ayo ngikut!" ajak Willi menggeret tangan temannya.

"Emang dibolehin sama Satpam? Ini masih jam pelajaran coy" ucap Juna.

"Yaudah. Lo pilih sekolah apa temen kita yang lagi berduka" tegas Reno.

"Iyy ya temen lah. Yaudah ayo terobos tuh gerbang" antusias Willi. Mereka mengejar motor Alan yang tak jauh jaraknya dari mobil yang ditunggangi ketiga temannya.

Sesampainya di Rumah Sakit, Alan sangat frustasi meskipun sudah di tenangkan oleh para sahabatnya yang sok bijak. Alan menangis dan berteriak sampai sesekali ia memukul tembok dengan keras.

Apa yang membuat Alan menangis? Teman - temannya terlihat cemas. Alan yang begitu menyayangi Neneknya, kini tinggal nama. Orang yang merawatnya dari kecil, hanya Nenek Ida lah yang sangat menyayangi Alan. Alan bagaikan kehilangan separuh jiwanya melihat mayat Neneknya yang harus diurus lebih lanjut.

Look At MeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang