BEST HUSBAND 1

118K 3.9K 45
                                        

Sesil menata blouse berwarna pinknya, rambutnya ia kumpulkan di belakang dan mengikatnya menjadi satu, Sesil mengecek setiap jengkal baju yang menempel di tubuhnya. Ia menatap dirinya dalam pantulan cermin, senyumnya terkembang dengan sempurna. "Perfecto!"

Sesil mengambil tas nya yang tergeletak di ranjang, menyapirkannya dibahu idealnya. Lantas bersiap untuk berangkat.

Jalanan ibu kota masih dipenuhi dengan genangan air, kebetulan, tadi malam habis hujan besar. Pantulan cahaya matahari yang menembus dedaunan membuat bercakan indah di jalan yang di lalui Sesil, Sesil berjalan dengan senyum terukir indah di wajah cantiknya.

"Arggg! Sial!" Sesil berteriak ketika blouse yang di kenakannya menjadi kotor karena terkena cipratan ban mobil yang melintas disampingnya. "Berhenti!" Teriakan Sesil berhasil membuat mobil yang telah membuat bajunya kotor terhenti.

Sesil menghampiri mobil yang berhenti di depannya dengan amarah bergemuruh di dada, tatapan tajamnya mengisyaratkan kekesalan yang amat mendalam. "Buka! Cepat buka!" Sesil menggedor-gedor kaca mobil yang tertutup rapat, napasnya memburu.

Perlahan kaca mobil itu terbuka dan menampilkan sosok pria dengan kaca mata hitam bertengger manis di hidung mancungnya.
Sesil seketika terdiam, menatap kagum pada sosok pria yang ada di dalam mobil. "Tampan sekali Dia." Sesil membatin.

"Sorry, apa kau tidak di ajarkan sopan-santun oleh orang tua mu? Kenapa kau tiba-tiba menggedor-gedor kaca mobilku?" Sesil menautkan kedua alisnya, amarahnya kembali memucak. Dia yang salah kenapa Sesil yang di marahi? Gila!.

"Maaf, apa kau tidak menyadari jalanan ini banyak genangan? Lihat, pakaianku jadi basah terkena cipratan ban mobilmu!" Sesil menunjuk blouse pink nya yang kini berubah warna menjadi coklat pekat.

"Terus? Kau menyalahkanku untuk kejadian ini? Oh, kau ini, merusak moodku saja!" Pria itu menarik telapak tangan Sesil lantas membukanya lebar, pria itu memberikan 5 lembar uang
seratus ribu kepada Sesil. "Ini, belilah pakaian yang baru, habis itu, jangan ganggu Aku lagi, Aku sedang sibuk!" Pria itu menutup kembali kaca mobilnya, lantas kembali melaju membelah jalanan ibu kota yang begitu ramai. Di sisi lain, Sesil hanya berdiri mematung, mulutnya membulat menyerupai huruf 'O', matanya terbelalak. "What? Oh, shit!" Sesil meremas uang yang ada di tangannya, amarahnya kembali memuncak.

"Dia pikir dirinya siapa bisa memperlakukan ku seperti ini? Dasar bedebah!"

***

"Sil, tumben sekali kamu terlambat?" Tanya Dina, teman kerja sekaligus sekretaris Sesil. Sesil mendengus, tangannya masih sibuk menulis bahan-bahan apa saja yang harus ia beli untuk keperluan restorannya.
"Sudahlah, jangan bahas ini. Moodku jadi hancur lagi,"

"Hmmm, setidaknya, kamu menceritakan nya kepadaku Sil, aku khawatir melihat mu cemberut terus seperti ini." Dina menepuk bahu kanan Sesil. Helaan nafas berat lolos dari bibir seksi Sesil.
"Duduklah," Sesil menepuk kursi yang ada di sebelahnya.

Dina duduk sesuai perintah Sesil, kedua alisnya saling bertautan.
"Ada apa? Kamu ada masalah?"

"Tidak, Aku cuma kesal pada pria yang telah membuat blouse favorit ku menjadi kotor," Sesil menggerutu.

"Pria? Siapa pria itu? Dan, kenapa blouse favorit mu bisa jadi kotor?" Dina bertanya dengan nada menyelidik.

"Huh, kamu tadi bertanya kenapa Aku terlambat bukan? Ini gara-gara pria bedebah itu, ban mobilnya mencipratkan genangan air hingga memuncrat ke pakaian ku." Sesil menjelaskan kepada Dina, Dina hanya melongo. "Terus, baju mu gimana Sil, apa kamu menggatinya di pinggir jalan?" Sesil melotot, lantas meninju bahu Dina.
"Aku masih waras Din, mana mungkin Aku mempermalukan diriku sendiri seperti itu!" Dina tertawa lepas.

"Terus, kamu ganti baju di mana?" Dina menghentikan tawanya. "Aku membeli baju di toko yang ada di pinggir jalan, Aku sekalian ganti baju di sana."

"Pria itu meninggalkanmu begitu saja Sil?"

"Iya. Yang membuatku semakin kesal, Dia malah memarahiku dan memberikan uang kepadaku sebagai ganti rugi. Behh Aku tidak butuh uang darinya," Sesil kembali menggerutu. "Sudahlah, yang penting kamu tidak bertelanjang sampai sini, dan untungnya juga pria itu memberimu uang untuk membeli pakaian baru." Dina mendaratkan kedua telapak tangannya di kedua bahu Sesil.

"Ya sudahlah, ini sudah terjadi juga kan? Gak perlu dibahas lagi." Dina tersenyum simpul kepada Sesil. "Sil, Aku keluar dulu, mau ngecek apakah restoran kita akan kedatangan tamu penting atau tidak. " Sesil mengangguk, Dina melenggang pergi meninggalkan ruangan Sesil.

***

"Sil, Hari ini Abraham's Company akan mengadakan rapat di restoran kita, Kita harus mempersiapkan segala sesuatunya," Dina kembali ke ruangan Sesil setelah 15 menit.
Kedua alis Sesil saling bertautan, Sesil baru mendengar nama perusahaan itu. "Abraham's Company? Perusahaan apa itu? Aku belum pernah mendengarnya?" Tanya Sesil dengan kening ia kerutkan.

"Oh My God! Kamu sungguh tidak mengenal Abraham's Company?" Dina terkejut. "Nggak," jawab Sesil dengan ekspresi datar. "Abraham's Company adalah perusahaan terbaik di indonesia, ini adalah perusahaan yang menangani kerja sama antar negara di dunia, bahkan mereka juga bekerja sama di bidang panganan, seperti restoran kita ini," jelas Dina pada Sesil. "Aku masih belum mengerti." Sesil mengedikan kedua bahunya.

"Astaga Sil, kamu belum paham juga? Ya sudah lah, intinya kita harus menghidangkan jamuan terbaik untuk mereka, kita hidangkan menu-menu unggulan restoran kita, siapa tahu makanan kita disukai oleh CEO perusahaan itu, dan keuntungannya, makanan kita bisa dipromosikan di dunia internasional," Sesil membulatan mata, Sesil menunjukan ekspresi terkejut. "Wow, ya sudah. Kita harus bekerja sekarang, omong-omong mereka akan datang jam berapa?". Dina melirik sekilas ponselnya. "Mereka akan datang jam 7 malam,"

"Ya sudah, cepat kita bekerja. Mumpung waktu kita masih banyak, manfaatkan waktu yang banyak ini untuk mempersiapkan sesuatunya, supaya kita bisa menyenangkan hati mereka, kita harus memberikan yang terbaik untuk mereka, mereka adalah tamu terpenting kita." Dina mengangguk, lantas keduanya bergegas untuk bersiap.

***

"Din, kenapa lama sekali mereka datang? Sebenarnya rapat ini jadi apa nggak sih?" Sesil mengerucutkan bibirnya, kedua tangannya ia lipat di depan dada. "Sabar, kamu ini nggak sabaran. Ini baru jam 7 malam lebih 15 menit Sil."

"Tapi, Aku sudah gak sabar Din, Aku ingin mereka segera mencicipi makanan kita, agar mereka tahu, makanan kita paling enak di seluruh restoran yang ada di indonesia, dan nantinya akan dipromosikan di dunia internasional," Sesil berdecak dengan semangat membara. Dina mengulum senyum, kepalanya ia geleng-geleng kan melihat tingkah atasannya sekaligus temannya yang terlihat sedikit konyol.

Ceklek suara pintu terbuka membuat Sesil dan Dina menoleh, Sesil tiba-tiba membulatkan matanya, what?, Sesil terkejut melihat rombongan Abraham's Company yang sudah datang ke restorannya, matanya terus membulat dan menerawang sosok pria tinggi besar yang berada di antara rombongan Abraham's Company. "Oh, shit! Kenapa Dia di sini?".

---
Tbc
Lanjut Kaga gan?
Gaje sangat nih cerita😂

Best Husband [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang