BEST HUSBAND 27

30K 1.3K 26
                                        

Melihatmu, sama saja menumpuk rasa sakit di hatiku.

Reyhan melajukan mobil Ferrari nya ugal-ugalan, banyak pengendara yang memarahainya tapi tidak di gubris oleh Reyhan. Pikiran Reyhan sudah kalang kabut, rasa sakit di hatinya sudah tidak bisa ia pendam lagi.

Kenapa Sesil tega sekali padanya?

Reyhan menepikan mobilnya di pinggir jalanan yang sepi, memukul setir mobilnya lantas berteriak seraya mengacak rambutnya frustasi.

"Arrggg! Kenapa kau melakukan ini? Kau membuatku benar-benar kecewa!"

***

Sesil terbaring lemas di kasur, Gery berhasil mendobrak pintu kamar mandi dan menemukan Sesil sudah pingsan di sana. Dina dan Gery masih bingung kenapa Sesil seperti ini.

Perlahan kelopak mata Sesil membuka, ia mengerjap-ngerjap kan matanya untu memperjelas penglihatannya.

"Kamu sudah sadar, Sil?" Tanya Gery menjurus.

Sesil bangkit dari tidurnya, mendudukan diri dan menyenderkan punggung nya di sandaran ranjang.

"Memangnya aku kenapa?" Tanya Sesil masih dengan memegang kepalanya yang agak berat.

"Kamu tadi pingsan di kamar mandi." Dina mendaratkan bokong nya di tepi ranjang.

Sesil menautkan kedua alis, mengingat-ingat kembali kejadian beberapa menit yang lalu. Sesil mengembuskan napas lesu ketika mengingat semuanya, perasaan sedih kembali menyelimuti dirinya.

"Kau sebenarnya kenapa?" Tanya Dina to the point.

"Aku nggak apa-apa kok," dusta Sesil.

"Jangan bohong," Ucap Gery.

"Iya, Aku gak papa."

"Terus kenapa kau menangis dan basa kuyup gini?" Heran Dina.

Sesil diam seribu bahasa. Tidak mungkin juga kan kalau Sesil harus berkata sejujurnya kalau tadi ada Reyhan dan membuatnya sedih? Itu hanya akan membahayakan Gery saja.

"Tadi mataku kelilipan, terus aku cuci muka dan gak sengaja terpeleset."

Dina hanya berohria, sementara Gery menaruh rasa curiga pada Sesil.

"Kau yakin? Kau tidak bohong kan?"

"Nggak Ger, aku berkata yang sebenarnya."

Gery menarik senyum, diacaknya rambut Sesil gemas.

"Makanya hati-hati, jangan ceroboh begini,"

"Iya iya."

***

Reyhan duduk di kursi kayu di bawah pohon besar dekat jalan raya. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sesekali wajahnya menengadah untuk menghilangkan rasa sedihnya, lalu kembali ia tutup dengan tangan.

Sungguh, hati Reyhan sangat sakit, layaknya daging rusa yang di cabik-cabik oleh kuku singa hingga terkoyak. Seperti itu pula hati Reyhan, bahkan sekarang untuk menahannya saja dia sudah tidak bisa, terlalu sakit.

Best Husband [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang