BEST HUSBAND 7

53.1K 2.4K 40
                                        

Reyhan mengantar Sesil ke rumah Sesil, Reyhan berniat membawa Sesil untuk tinggal di rumahnya, Reyhan tau bahwa ini akan sulit, tapi ini demi kebaikan Sesil juga, Reyhan ingin menjaga Sesil.

Rumah Sesil terlihat sangat sepi, orang tua Sesil memang sudah tiada sejak 7 tahun lalu, ibunya meninggal setelah 3 bulan kematian ayahnya, keduanya terserang penyakit kronis hingga merenggut nyawa mereka, jadilah Sesil tinggal sendiri, tapi untungnya, Sesil memiliki Dina, sahabat yang selalu membantunya hingga bisa mendirikan sebuah restoran seperti sekarang ini.

Apa kabar dengan Reyhan? Kenapa dia tinggal bersama kakeknya?

Reyhan pun mempunyai nasib yang tak kalah memilukan dari Sesil, kedua orang tua Reyhan meninggal karena kecelakaan pesawat ketika akan mengurus perusahaan di Inggris, kejadian itu terjadi ketika Reyhan masih berumur 9 tahun. Terpukul? Jelas, Reyhan sangat terpukul setelah kejadian itu, Abraham lah yang merawatnya setelah kedua orang tua Reyhan tiada. Abraham merawat Reyhan dengan penuh kasih sayang, Abraham tidak ingin Reyhan kekurangan apapun, termasuk kasih sayang yang tidak bisa lagi di berikan oleh orang tua Reyhan kepadanya. Selain menjadi kakek, Abraham merangkap juga menjadi orang tua bagi Reyhan.

"Sil, Aku mohon maafkan Aku," Reyhan duduk di samping Sesil yang tengah memasukkan baju ke dalam koper. Sesil tidak menggubris permintaan maaf Reyhan, Sesil justru fokus pada kegiatan nya memasukkan baju.

"Aku tahu kau marah padaku, Aku mohon maafkan Aku," Reyhan menundukkan wajahnya.
Sesil melirik sekilas ke arah Reyhan lantas memutar bola matanya jengah, "Sekarang ini, Aku tidak ingin mendengarkan sepatah kata pun dari mulut mu,"

Reyhan mengerjapkan kedua bola matanya, setetes cairan bening keluar dari kedua bola matanya. Aku tahu, Aku salah. Tapi Apakah kesalahan ku ini tidak bisa kau maafkan Sil?

Sesil melirik kembali ke arah Reyhan, what? Reyhan menangis?

Sesil mengambil sebuah tisue dari tas kecilnya, lantas di sodorkan ke Reyhan, bagaimana pun Sesil masih memiliki hati nurani, seberapa bencinya Sesil pada Reyhan tetap saja tidak akan mengubah statusnya yang kini sudah resmi menjadi istri Reyhan selama 3 bulan ke depan sesuai perjanjian.

Reyhan secepat kilat menyeka air matanya, "Untuk apa tisue ini? Aku tidak menangis," elak Reyhan, Sesil memutar bola matanya jengah.

"Ayo kita berangkat,"

***

"Mbak, Saya pesan kemeja ini ya," Nayla menyodorkan kemeja yang sempat Nayla pilih tadi, sebuah kemeja dengan warna biru tua.

Entah untuk siapa Nayla membeli kemeja itu, tapi wajahnya menyiratkan raut bahagia.

Nayla keluar dari butik, tangan kanannya menenteng kantong yang berukuran sedang yang isinya kemeja berwarna biru tua.
Nayla terpental beberapa langkah ke belakang ketika tubuhnya di tabrak oleh seseorang yang berperawakan tinggi besar, Nayla berdiri lantas menepuk-nepuk pantatnya, raut wajah Nayla sudah berubah seperti iblis.

"Apa kau tidak punya mata? Kenapa kalau jalan tidak menggunakan matamu?" Nayla menatap tajam ke arah sang pria yang sepertinya tengah mabuk berat, itu adalah Gery.

"Heii, kau yang tidak punya mata, kenapa Aku yang kau salahkan, dasar gila," Gery kembali meneruskan perjalanannya, Gery meneguk alkohol yang ada di tangannya lagi.

Nayla menimpuk kepala belakang Gery dengan kantong berisi kemeja yang sebelumnya ia tenteng, Gery kesakitan, lantas memutar tubuhnya 180 derajat. "Kau! Berani-berani nya memukul ku seperti itu!" Gery melayangkan botol alkohol nya ke arah kepala Nayla, Nayla menjerit, jeritan nya terhenti ketika ada sebuah tangan kekar mencegah pukulan Gery ke kepala Nayla.

Pria itu menghempas tangan Gery kasar, raut wajahnya sudah menggambarkan kekesalan yang amat mendalam, "Kau! Apa kau sudah gila? Kenapa kau lakukan ini pada seorang wanita?"

"Heiii, gadis ini yang mulai, bukan Aku, kau! Jangan sok jadi pahlawan kesiangan!" Gery tertawa sumbang, "Sudahlah, Aku tidak ingin berdebat denganmu! Sebaiknya kau pergi dari hadapanku!" Gery berdecih, "Enak saja kau menyuruhku seperti itu!" Gery melayangkan hantaman tangannya ke muka sang pria, Nayla hanya menjerit.

Pria itu tidak terima, ia pun membalas Gery dengan melayangkan hantaman tangannya ke wajah Gery. Bertengkar pada saat seperti ini sama sekali tidak menguntungkan bagi Gery, pastilah Gery akan kalah karena dia bertengkar di alam bawah kesadarannya, lagi pula, sebelumnya Gery tidak pernah minum-minuman seperti ini, tapi kenapa Gery jadi seperti ini?
Ketika sang pria akan melayangkan hatamannya ke wajah Gery lagi, sebuah teriakan yang amat menggema berhasil membuat Gery dan sang pria menghentikan aksi nya, "Sudah, jangan bertengkar seperti ini!" Ternyata itu adalah Dina, Sahabat Sesil dan Gery.

Dina merengkuh tubuh tidak berdaya Gery yang sudah tergeletak di tanah dengan darah memenuhi wajahnya, terutama di ujung bibirnya.

"Tuan! Tolong maafkan temanku, tolong jangan memukulnya lagi, dia sedang terpukul Tuan," Dina memohon pada sang pria, pria itu berdecih, "Kelakuannya itu sudah kelewatan, tidak seharusnya dia melakukan ini pada wanita, pria macam apa dia yang berani menyaikiti wanita seperti ini? Hanya pria 'bedebah' yang bisa melakukannya."

"Iya Tuan, Aku mengerti, tapi tolong ampuni dia, kasihanilah dia," pria itu hanya memutar bola matanya jengah, "Baiklah, untuk hari ini Aku akan mengampuninya, tapi kalau dia mengulanginya lagi, Aku tidak akan segan-segan untuk melenyapkannya,"

"Terima kasih Tuan," pria itu berbalik lantas mendekat ke arah Neyla, "Kau baik-baik saja kan? Tidak ada yang luka?" Nayla dengan cepat menggeleng, "Tidak, Aku baik-baik saja, terima kasih kau sudah menolongku." Pria itu tersenyum simpul. "Syukurlah, Aku masih banyak pekerjaan, Aku pergi harus pergi, jaga dirimu baik-baik." tanpa basa-basi lagi, pria itu langsung meninggalkan Nayla, padahal Nayla ingin menanyakan siapa namanya, eh, malah kabur duluan. Siapa pria itu! Kenapa dia tiba-tiba menolongku, dia sungguh misterius.

***

"Sil, Kau tidur di ranjang ku, biar Aku yang tidur di sofa," Sesil masih bergeming, tidak ingin menjawab ucapan Reyhan.

Sedari ke pindahannya sejak tadi siang, Sesil enggan berbicara dengan Reyhan, setiap kali Sesil menatap Reyhan, rasa marah tiba-tiba muncul begitu saja dalam hatinya, jadi, Sesil memilih untuk diam.

Reyhan mengambil bantal dan selimut dari lemarinya, Sesil berbaring di kasur dan menutup sempurna seluruh tubuhnya dengan selimut. Reyhan hanya tersenyum simpul, Reyhan tidak merasa sakit hati Sesil bersikap seperti ini kepadanya, karena memang ini murni kesalahannya.

Reyhan berbaring di sofa, tubuhnya ia kesampingkan, menatap Sesil yang tengah di balut oleh selimut. Hampir setengah jam Reyhan menatap Sesil seperti ini, hingga akhirnya Sesil mengusikan tubuhnya hingga hampir terjatuh ke lantai, tapi dengan sigap pula Reyhan beranjak dari sofa lantas berlari dan menahan tubuh Sesil yang tengah tertidur agar tidak terjatuh ke lantai. Reyhan meluruskan kembali tubuh Sesil, kini Reyhan menaruh sebuah guling di samping ranjang agar bisa menahan Sesil supaya tidak jatuh.

Reyhan mengelus lembut puncak kepala Sesil, "Maafkan Aku sil, Aku tahu kau tidak bahagia dengan pernikahan ini, Aku pun menyesal sudah membuat hidupmu hancur, tolong maafkan Aku sil, Sil Aku berjanji akan menjagamu dan akan menyayangimu sebisaku, Aku tahu dengan kasih sayang yang aku berikan tidak akan mengubah hidup mu kembali seperti semula, tapi setidaknya, Aku bisa membuatmu bahagia, dan Aku berjanji akan membahagiakan mu Sil," cairan bening kembali keluar dari kedua kelopak mata Reyhan, Aku  menyesal, Aku sungguh menyesal.

***

Heuheu, gimana pendapat kalian tentang part ini? Gaje ya? Maafkan aku yang masih newbie ini_-
Semoga masih ada yang nunggu kelanjutan cerita ini yak, semoga aja dah

*big hope

Best Husband [Sudah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang