BEST HUSBAND 6

50.4K 2.3K 22
                                        

Dina sedari tadi mondar-mandir seraya menggigit kukunya. Dina bingung, kenapa jam segini Sesil belum sampai ke restoran, dan tadi malam Sesil habis kemana? Apakah dia baik-baik saja?

Ceklek suara pintu restoran terbuka berhasil membuat Dina tergelonjak. "Sil," Dina menyebut nama Sesil dengan spontan, wajah Dina kembali menekuk ketika mengetahui yang datang bukanlah Sesil, melainkan Gery.

"Ada apa Din, seperti nya kau sedang khawatir?" Dina mendekati Gery. "Ger, Aku khawatir pada Sesil, kenapa jam segini dia belum datang juga."

Gery menautkan kedua alisnya seraya menyipitkan mata, "Apa? Memangnya dia kemana?"

"Nggak tau Ger, tadi malam dia hanya pamit pergi ada urusan, Aku juga tidak tau apakah Sesil pulang ke rumah atau tidak?" Dina terduduk di kursi yang ada di sampingnya.

"Apa kau sudah mencoba menelponnya?" Gery mendaratkan telapak tangannya di bahu kanan Dina. "Aku sudah mencoba menelponya, tapi Sesil tidak menjawab juga, Aku khawatir dia kenapa-napa Ger,"

"Aku akan mencoba menelponya," Gery merogoh saku celananya, berniat untuk mengambi ponsel, mata Gery membulat ketika melihat Sesil dan seorang pria tinggi besar sudah berdiri sempurna di ambang pintu restoran.

Dina ikutan menoleh lantas tersenyum penuh kebahagiaan, Dina berlari lantas memeluk Sesil. "Sil, kamu kemana saja? Aku cemas memikirkan keadaanmu Sil,"

Sesil tidak membalas pelukan dari Dina, Sesil hanya bergeming dengan air mata menetes perlahan dari pelupuk matanya. Dina mengurai pelukannya, dengan cepat pula Sesil menyeka air matanya, "Sil, kamu habis dari mana saja? Aku khawatir Sil." Dina mendaratkan kedua telapak tangannya di kedua bahu Sesil.

Gery ikutan tersenyum, Gery berjalan mendekat ke arah Sesil. "Sil, kau membuatku khawatir," Dina mengurai pelukannya lantas sedikit menyingkir, mencoba membiarkan Gery agar bisa saling bicara dengan Sesil.

Gery menggenggam erat jemari Sesil lantas memeluk Sesil, Sesil kembali menitikkan air mata, di sisi lain Reyhan sudah terbakar api cemburu, meskipun pernikahannya dengan Sesil hanyalah pernikahan kontrak, tapi Sesil adalah istri syahnya, Reyhan tidak bisa melihat Sesil di peluk orang lain.

Dengan kasar Reyhan mendorong tubuh Gery agar sedikit menjauh dari Sesil, Gery kini ikut terbakar amarah. "Apa-apaan ini?! Siapa kau yang berani-berani nya memisahkan pelukanku dengan Sesil." Reyhan hanya diam, tidak menjawab sepatah kata pun.

Lantas Gery mendorong tubuh Reyhan hingga Reyhan terdorong beberapa langkah ke belakang. Berani-berani nya kau mendorong ku seperti ini!

"Jawab! Kau ini siapa hah sampai berani memisahkan pelukanku!", tangan Reyhan sudah terkepal sempurna, Reyhan sudah tak kuat membendung amarahnya lagi, sementara di sisi lain, Dina dan Sesil hanya bisa mentonton pertikaian sengit antara Reyhan dengan Gery, mereka tidak bisa memisahkan keduanya.

"Sudah stop! Kalian tidak malu menjadi tontonan gratis pengunjung restoran ini, hah?" Kini Sesil angkat bicara, bukannya gimana, pertikaian mereka sudah membuat pengunjung restoran nya menjadi tidak nyaman.

"Tidak Sil, Aku harus meyelesaikan masalah ini secepatnya, Aku ingin tahu, sebenarnya dia siapa? Berani-berani nya dia melakukan itu kepadaku!" Gery mengulurkan telujukknya ke wajah Reyhan. Oh, shit! Kau sangat kerasa kepala Gery!

Gery kembali mendorong tubuh Reyhan, kini Reyhan mencekal tangan Gery, kesabaran nya sudah habis, Reyhan tidak bisa diam saja. "Oh, kau sudah berani melawan," cara bicara Gery terdengar sedikit meledek Reyhan. Kepalan tangan Reyhan kini sudah sangat keras.

"Kau ingin tau kan Aku siapa?" Gery melipat kedua tangan di dada. "Siapa?! Siapa kau sampai berani-beraninya memisahkan pelukanku!"

"AKU ADALAH SUAMINYA SESIL, APA JAWABAN KU ITU CUKUP JELAS UNTUK BISA KAU DENGAR? ATAU MASIH KURANG KERAS, HMM?" Jawab Reyhan dengan suara yang keras.

Sesil terduduk lemas di kursi, Sesil tidak bisa melihat kenyataan pahit ini, Dina membulatkan mata, Dina sungguh tidak percaya. Sementara Gery tertawa sumbang, "Ck. Kau ini pintar sekali ngelawak," Reyhan menautkan kedua alisnya. Lantas memutar bola mata jengah.

"Aku sampai sakit perut mendengar nya, ck." Amarah Reyhan kembali memuncak, Reyhan menarik ujung kerah baju Gery. "Aku tidak memaksamu untuk mempercayai ku, tapi yang jelas, Aku dan Sesil sudah resmi menikah, dan KAU tidak bisa mencegah itu!"

Gery menghempas kasar tangan Reyhan, lantas berdecih, "Tidak! Aku tidak mempercayai mu, Sesil mencintaiku, dia tidak mungkin menikah denganmu!" Lagi, lagi dan lagi Gery menjulurkan telunjuknya ke wajah Reyhan. Reyhan menggegam telunjuk Gery, "Jaga sikapmu!"

"Apa? Aku harus menjaga sikapku pada orang seperti mu! Aku tidak sudi! Cuihh," Gery meludah sembarangan di depan Reyhan, kau sungguh menguji kesabaranku!

Gery membalikan tubuhnya 180 derajat, lantas mendekat ke arah Sesil yang tengah terduduk lesu dengan berurai air mata. Gery berjongkok di depan Sesil dan menggenggam erat jemari Sesil, "Sil, katakan padaku jika yang di katakan pria brengksek itu bohong," Sesil bergeming, matanya masih mengalirkan cairan bening.

"JAWAB SIL, KENAPA KAU DIAM SAJA! JAWAB KALAU PERKATAAN PRIA ITU BOHONG!!" Gery mengguncang-guncangkan bahu Sesil kasar dengan membabi buta, nada suara Gery pun sudah naik oktaf.

Reyhan yang melihat Sesil di perlakukan seperti itu oleh Gery tidak bisa tinggal diam.

Bugh

Reyhan meninju bibir Gery hingga keluar cairan merah dari sudut bibirnya.

"Kau! Apa seperti ini kau memperlakukan seorang wanita!! Cuih, Aku jijik melihat pria yang beraninya sama wanita!" Gery menyeka darah yang mengalir di ujung bibirnya. Mata elang milik Gery menatap tajam ke arah Reyhan.

"Ger, maafkan Aku, Aku sudah mengecewakanmu," Sesil berbicara dengan nada pilu, Gery menoleh dengan raut wajah tak percaya, "Apa Sil? Jadi..."

"Ya! Aku dan Reyhan sudah menikah, maafkan Aku Ger," Sesil menangis sesenggukan.

"Sil, kau telah menghkianati ku! Tapi Aku tidak akan menyerah, Aku akan mendapatkan mu kembali! Aku janji! Aku bersumpah untuk itu!"

Gery mendekat ke arah Reyhan, "Dan kau! Aku berjanji akan menghancurkan hidupmu hingga kebahagiaan tidak akan datang dalam hidupmu lagi! Aku janji!" Gery melenggang meninggalkan restoran Sesil dengan amarah yang bergemuruh, dan tersirat sebuah dendam dalam wajah Gery.

Sesil menumpahkan tangisnya di pelukan Dina, Dina bingung harus bicara apa, Dina sungguh tidak percaya jika ini semua benar-benar terjadi.

***


Sesil sudah menceritakan semuanya pada Dina, dan syukur nya Dina mempercayai Sesil, tapi Gery? Sesil sudah pasrah, Sesil siap di benci oleh Gery, karena ini adalah kesalahannya.
Sesil menatap kosong ke arah luar jendela mobil yang di kendarainya bersama Reyhan, mata Sesil sudah lelah menitikkan air mata, tuhan! Kenapa semua ini terjadi padaku?
Reyhan menoleh ke arah Sesil, "Pake sabuk pengaman mu, kita akan jalan sekarang." Sesil tidak merespon ucapan Reyhan, Reyhan memilih memasangkannya sendiri di tubuh Sesil, "Jangan menyentuhku!!" Sesil menghempas kasar tangan Reyhan yang bersarang di perutnya yang hendak memasangkan sabuk pengaman.

"Ini semua terjadi karenamu! Hidupku jadi hancur seperti ini!" Isakan Sesil kembali membesar.

"Kenapa harus Aku yang kau nikahi? Kenapa tidak orang lain saja? Apa karena alasan seorang chef? Apa kau tidak bisa berbohong hah? Seharusnya kau tarik saja wanita lain, dan bilang pada kakekmu jika dia adalah seorang chef, gampang kan? Kenapa harus Aku? Kenapa?" Sesil menangis terisak-isak, Reyhan hanya bergeming.

"Aku tidak bisa berbohong pada kakekku, Aku tidak bisa melakukannya," Reyhan menjawab dengan nada sendu.

"Kau sungguh egois! Kau tidak BISA berbohong pada kakek mu kan? Tapi, kenapa kau BISA menghancurkan hidupku hah? Jawab!" Sesil menarik ujung kerah Reyhan. Reyhan tetap bergeming.

"Aku membenci mu! Aku sangat-sangat membecimu Reyhan!"

***

Best Husband [Sudah Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang